Advertisement

Masyarakat Jogja Masih Malas Memilah Sampah, Ini Buktinya..

Stefani Yulindriani Ria S. R
Kamis, 05 Januari 2023 - 10:17 WIB
Sunartono
Masyarakat Jogja Masih Malas Memilah Sampah, Ini Buktinya.. Depo Sampah Mandala Krida. - Istimewa.

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA–Gerakan zero sampah anorganik yang mulai berlaku mulai 1 Januari 2023 membuat masyarakat hanya dapat membuang sampah organik dan residu di depo dan Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Namun, masyarakat masih malas memilah sampah, buktinya di Depo Mandala Krida masih ditemukan banyak sampah anorganik yang bercampur dengan sampah organik maupun residu yang dibuang ke depo. 

Mayar, Pengawas Depo Sektor Gunungketur menyampaikan masih banyak masyarakat yang membuang sampah tanpa dipilah. Banyak masyarakat membuang sampah menggunakan kantong plastik warna gelap, sehingga petugas depo tidak dapat mengetahui sampah dalam plastik tersebut sebelum membukanya. Ketika dibuka, barulah ditemukan sampah organik dan anorganik yang masih bercampur.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

BACA JUGA : Berlaku Mulai Hari Ini! Warga Jogja Dilarang Buang Sampah

“Terutama [sampah yang diangkut petugas penggerobak] petugas penggerobak dari warga dibawa ke TPS, itu yang sulit. Tugas penggerobak itu kalau ditanya, kalau saya milah jam berapa selesainya,” kata Mayar saat ditemui di Depo Sampah Mandala Krida, Rabu (4/1/2023). Banyak sampah yang dibuang melalui penggerobak pun menggunakan kantong plastik warna gelap dan tidak dipilah sebelumnya. 

Ia pun mengatakan, banyak masyarakat berdalih tidak memiliki lahan untuk memilah sampah, sehingga pemilahan itu sulit dilakukan. Selain itu, menurut Mayar, ditemukan warga yang membuang sampah yang tak dapat menunjukkan kartu identitasnya. “Ditanya petugasnya, sampah mana? Kalau ditanya KTP, [warga mengatakan] enggak bawa KTP,” katanya. 

Saat mendapati warga yang belum memilah sampahnya, ia pun memberikan imbauan untuk memilahnya sebelum membuangnya ke depo/TPS. Meskipun Pemkot Jogja telah melakukan sosialisasi gerakan zero sampah anorganik sebelumnya, namun menurut Mayar masih ada masyarakat yang kebingungan.  “Kesadaran masyarakat [untuk memilah sampah] masih minim, ada yang tahu, ada yang sama sekali tidak tahu,” katanya.

BACA JUGA : Pemkot Jogja Sebar 30 Gerobak Sampah untuk Bank Sampah

Menurutnya perlu kerja sama antara Pemkot Jogja dan masyarakat untuk dapat menyukseskan gerakan zero sampah anorganik. “Kalau masyarakatnya enggan untuk memilah dan enggak mau kerjasama dengan pemerintah, maka pemerintah mau melakukan itu [akan] nihil hasilnya,” katanya. “Kalau masyarakat tidak mau memilah, petugas kewalahan,” imbuhnya. 

Tiap harinya Mayar menyampaikan Depo Sampah Mandala Krida dapat mencapai 16 ton/hari. Selama gerakan zero sampah anorganik, di depo tersebut pun telah disediakan dropbox untuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) baterai bekas, sampah elektronik, kemasan bekas baygon serta lampu neon. Namun, belum banyak warga yang mengetahuinya. 

Antara lain Galuh, warga Kelurahan Warungboto, Kemantren Umbulharjo, yang datang ke Depo Mandala Krida untuk menanyakan kepada petugas secara langsung terkait pembuangan sampah B3. Menurutnya, sosialisasi terkait limbah B3 masih terbatas. “Sampai saat ini kai belum mendapatkan sosialisasi mendetail. Hanya melalui whatsapp group, bapak WA RT, saya ibu-ibu PKK. Sebenarnya ada bank sampah, bank sampah hanya terbatas menampung sampah anorganik yang bisa didaur ulang. Sementara sampah rumah tangga banyak macamnya, ada residu itu ada tisu bekas, pembalut, pampers bayi. Itu belum ada sosialisasi mau ditaruh dimana,” katanya.

Ia pun mengaku penggerobak yang di wilayahnya hanya mengambil sampah organik. “Kami sudah menyesuaikan dengan imbaun untuk menggunakan plastik transparan, kami sudah memisahkan limbah organik, anorganik, dan residu, dan B3 sudah kami pisah. Tapi kami bingung membuang yang anorganik, residu dan B3 ke mana?” ucap Galuh. 

BACA JUGA : Mantrijeron Siapkan Puluhan Biopori untuk Tampung Sampah

Menurut Galuh, bank sampah yang ada di wilayahnya masih beroperasi dua minggu sekali, padahal sampah yang diproduksi setiap hari. Ia yang memiliki usaha kosan pun mengaku tumpukan sampah setiap harinya cukup banyak, sehingga bila disalurkan melalui bank sampah dengan frekuensi tersebut maka akan menumpuk. “Apakah sampah itu akan stuck disitu, enggak segera di ini [dibuang],” katanya. Suami Galuh, Jeppy menyampaikan harapannya agar ada informasi dari petugas yang mendukung aturan tersebut.

“Saya berharap bukan hanya masyarakat yang menaati peraturan tersebut. Mungkin kedepannya ada petugas, di support atau didukung kedinasan terkait, maupun petugas lapangan terkait, sehingga nanti implementasi dari peraturan ini bisa maksimal. Kami ingin menaati, tapi ada permasalah dimana kita harus membuangnya [sampah limbah B3 dan pampers, tisu dan pembalut], timbul masalah,” katanya. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Meriah! Archipelago Menggelar Kompetisi Mini Soccer

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 17:27 WIB

Advertisement

alt

Mengenal Kampung Batik Giriloyo yang Sempat Terpuruk Karena Gempa 2006

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 13:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement