Advertisement

Selama 2022, Lima Warga Bantul Meninggal karena DBD

Ujang Hasanudin
Minggu, 22 Januari 2023 - 13:47 WIB
Bhekti Suryani
Selama 2022, Lima Warga Bantul Meninggal karena DBD Foto ilustrasi. - Ist/Freepik

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL— Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bantul selama 2022 cukup tinggi, meningkat lebih dari dua kali lipat di banding tahun sebelumnya. Dinas Kesehatan setempat mencatat total kasus DBD selama 2022 sebanyak 949 kasus dengan lima kematian. Sementara 2021 ada 410 kasus dengan satu kematian.

“Lima angka kematian karena DBD tahun ini kami kami anggap sangat-sangat tinggi, karena tahun-tahun sebelumnya kematian hanya di angka satu sampai dua orang, bahkan tidak ada kematian. Tahun 2022 sampai lima orang,” kata Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul, Abednego Dani Nugroho, saat dihubungi Sabtu (21/1/20223).

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Abednego mengatakan lima kematian karena DBD sejauh yang diketahui tidak ada keterlambatan penanganan medis atau keterlambatan diagnosa di fasilitas kesehatan. Namun lebih pada keterlambatan masyarakat memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan. Ketika dibawa ke puskesmas atau rumah sakit kondisinya sudah parah.

Diperparah dengan adanya penyakit penyerta dari sebagian besar pasien DBD yang meninggal tersebut. Penyakit metabolik yang menyertai pasien DBD itu di antaranya adalah  struk, jantung, hipertensi, dan diabetes militus. Saat bersamaan kelimanya memang dinyatakan positif DBD sehingga masuk dalam kasus DBD.

Lebih lanjut Abednego mengatakan kasus demam berdarah selama 2022 cukup tinggi tidak bisa dibandingkan dengan dengan satu atau dua tahun sebelumnya. Sebab selama 2020-2021 kasus yang disebabkan nyamuk aedes aegypti itu tertutup dengan kasus Covid-19 meski secara epidemiologi tidak ada hubungannya antara Covid-19 dan DBD. Namun untuk mengetahui pastinya Dinas Kesehatan sedang melakukan analisa faktor di dua tahun terakhir.

“Kita masih analisa faktor apa saja berpengaruh, konsen bukan karen peningkatan. Kenapa saat Covid-19 data menurun tajam? Apakah ada faktor sosial atau faktor teknis? Contoh saat pandemi ketika masyarakat mengeluh sakit panas mau memeriksakan diri takut di-swab sehingga tidak memeriksakan dan akhirnya tidak terdeteksi. Itu bisa terjadi sehingga kasus DBD saat pandemi menjadi rendah,” paparnya.

Terlepas dari itu, Abednego menyatakan kasus DBD harus menjadi perhatian semua, terlebih saat ini masih musim penghujan yang diperkirakan sampai awal Maret mendatang. Dalam kondisi ini, sangat memungkinkan nyamuk berkembang biak.

Tidak ada cara lain untuk menekan kasus DBD kecuali dengan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan 3M, yakni menguras, mengubur dan menutup yang menjadi sarang ngamuk. “Tahun ini kita akan menggerakkan lagi gertak PSN oleh pemerintah dan masyarakat,” ujarnya.

BACA JUGA: Ruko Sepanjang Jalan Perwakilan Malioboro Mulai Dibuldoser

Disinggung soal program Wolbachia Wes Masuk Bantul atau Wow Mantul, Abednego mengatakan program tersebut baru bisa dibuktikan pada 2-3 tahun mendatang. Sementara program Wlbachia baru dilakukan pertengahan tahun lalu. “Harapannya bisa terlihat di akhir tahun 2023 atau pada 2024 mendatang. Seperti kota dan Sleman yang sudah lebih dulu menerapkan penyebaran nyamuk ber-Wolbachia juga terlihat ada penurunan di tahun ketiga,” tandasnya.

Kepala Bidang Penanggulangan Penyakit Dinas Kesehatan Bantul, Sri Wahyu Joko Santoso menambahkan kasus DBD masih di diminasi oleh wilayah sub urban atau wilayah yang padat penduduk, seperti Kapanewon Kasihan, Banguntapan dan Sewon, “Pola demografis dan kepadatan penduduk bisa menjadi pemicu,” katanya. Namun paling penting, kata dia, adalah meningkatkan PSN dan menjalankan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) untuk terbebas dari DBD. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber : JIBI/Bisnis.com

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Catat! Ini Jadwal Rencana Perjalanan Haji 2023 yang Dirilis Kemenag

News
| Selasa, 07 Februari 2023, 12:27 WIB

Advertisement

alt

Ikuti Post-tour ATF, Banyak Peserta Terkesan dengan Objek Wisata DIY

Wisata
| Selasa, 07 Februari 2023, 10:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement