Advertisement

Pemkab: Setiap Tahun, Bantul Surplus Beras 25.000 Ton

Andreas Yuda Pramono
Selasa, 07 Maret 2023 - 18:17 WIB
Arief Junianto
Pemkab: Setiap Tahun, Bantul Surplus Beras 25.000 Ton Ilustrasi. - Antara

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul menegaskan bahwa Bumi Projotamansari selalu surplus beras setiap tahunnya yang mencapai 25.000 ton.

Kepala Bidang Penyuluhan, Produksi dan Pengembangan Usaha Pertanian (P3UP), Imawan Eko Handriyanto mengatakan bahwa produktivitas beras di Bantul cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya di Bantul.

Advertisement

“Kebutuhan pangan per kapita per tahun masyarakat Bantul itu 86 kilogram. Setiap tahun kami surplus 25.000 ton beras. Saya kira cukup ini [memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Bantul],” kata Imawan ditemui di Kalurahan Sendangsari, Senin (7/3/2023).

Imawan menjelaskan bahwa rata-rata produktivitas padi di Bantul secara keseluruhan mencapai 76 kwintal Gabah Kering Pungut (GKP) atau 7,6 ton GKP. Kalau dikonversi ke Gabah Kering Giling (GKG) mencapai 64 kuintal.

“Pada Maret, Bantul memiliki 3.000 hektare lahan padi yang akan dipanen. Hampir semua hasil panen di atas rata-rata kabupaten,” katanya.

Hal tersebut, katanya, tidak terlepas dari faktor irigasi dan pupuk organik yang digunakan. Imawan memberikan contoh dengan hasil panen padi di Bulak Mangir, Kalurahan Sendangsari, Pajangan, Bantul.

Di Bulak Mangir, irigasi yang dibangun dengan baik dapat meningkatkan produktivitas padi dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.

BACA JUGA: Baru 5 Ton Beras Lokal Dibeli Pegawai Negeri Gunungkidul

Selain itu, penggunaan pupuk organik juga dianggap meningkatkan kualitas padi, karena struktur dan kandungan pada tanah menjadi sehat, sehingga produktivitas dapat terdongkrak naik.

“Cuaca kan baru tidak menentu. Kendati demikian cuaca tersebut tidak memengaruhi produktivitas padi di Bantul. Padi kan tanaman tahan air, meski tergenang asal tidak terlalu lama, bisa pulih lagi,” ucapnya.

Imawan menegaskan bahwa DKPP selalu mendorong para petani untuk menggunakan pupuk organik seperti pupuk kandang. Selain pupuk kandang, Imawan juga menyarankan untuk menggunakan biosaka.

“Biosaka itu adalah elisitor, bukan pupuk, bukan enzym maupun hormone. Jadi itu memang elisitor yang mentriger tanaman, sehingga dapat bermetabolisme lebih baik. Batang, dan akar-akarnya itu dapat lebih aktif menyerap unsur hara. Ini cukup membantu,” lanjutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Kemenkum HAM Angkat Bicara Terkait Rencana KUA Layani Semua Agama

News
| Sabtu, 02 Maret 2024, 12:17 WIB

Advertisement

alt

Kegiatan Spiritual dan Keagamaan Jadi Daya Tarik Wisata di Candi Prambanan

Wisata
| Kamis, 29 Februari 2024, 11:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement