Bahasa Inggris Wajib SD 2027, Sleman Siapkan Guru Bertahap
Disdik Sleman mulai adaptasi penerapan Bahasa Inggris di SD menjelang kebijakan wajib nasional pada tahun ajaran 2027/2028.
Ilustrasi./Antara
Harianjogja.com, BANTUL — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Bantul menegaskan bahwa Bumi Projotamansari selalu surplus beras setiap tahunnya yang mencapai 25.000 ton.
Kepala Bidang Penyuluhan, Produksi dan Pengembangan Usaha Pertanian (P3UP), Imawan Eko Handriyanto mengatakan bahwa produktivitas beras di Bantul cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat khususnya di Bantul.
“Kebutuhan pangan per kapita per tahun masyarakat Bantul itu 86 kilogram. Setiap tahun kami surplus 25.000 ton beras. Saya kira cukup ini [memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Bantul],” kata Imawan ditemui di Kalurahan Sendangsari, Senin (7/3/2023).
Imawan menjelaskan bahwa rata-rata produktivitas padi di Bantul secara keseluruhan mencapai 76 kwintal Gabah Kering Pungut (GKP) atau 7,6 ton GKP. Kalau dikonversi ke Gabah Kering Giling (GKG) mencapai 64 kuintal.
“Pada Maret, Bantul memiliki 3.000 hektare lahan padi yang akan dipanen. Hampir semua hasil panen di atas rata-rata kabupaten,” katanya.
Hal tersebut, katanya, tidak terlepas dari faktor irigasi dan pupuk organik yang digunakan. Imawan memberikan contoh dengan hasil panen padi di Bulak Mangir, Kalurahan Sendangsari, Pajangan, Bantul.
Di Bulak Mangir, irigasi yang dibangun dengan baik dapat meningkatkan produktivitas padi dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.
BACA JUGA: Baru 5 Ton Beras Lokal Dibeli Pegawai Negeri Gunungkidul
Selain itu, penggunaan pupuk organik juga dianggap meningkatkan kualitas padi, karena struktur dan kandungan pada tanah menjadi sehat, sehingga produktivitas dapat terdongkrak naik.
“Cuaca kan baru tidak menentu. Kendati demikian cuaca tersebut tidak memengaruhi produktivitas padi di Bantul. Padi kan tanaman tahan air, meski tergenang asal tidak terlalu lama, bisa pulih lagi,” ucapnya.
Imawan menegaskan bahwa DKPP selalu mendorong para petani untuk menggunakan pupuk organik seperti pupuk kandang. Selain pupuk kandang, Imawan juga menyarankan untuk menggunakan biosaka.
“Biosaka itu adalah elisitor, bukan pupuk, bukan enzym maupun hormone. Jadi itu memang elisitor yang mentriger tanaman, sehingga dapat bermetabolisme lebih baik. Batang, dan akar-akarnya itu dapat lebih aktif menyerap unsur hara. Ini cukup membantu,” lanjutnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Disdik Sleman mulai adaptasi penerapan Bahasa Inggris di SD menjelang kebijakan wajib nasional pada tahun ajaran 2027/2028.
Harga buyback emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian hari ini Senin 25 Mei 2026 terpantau stabil.
Kelurahan Pakuncen menggelar pelatihan sablon kaos untuk meningkatkan keterampilan dan mendorong ekonomi kreatif warga.
Rute Trans Jogja 2026 lengkap beserta tarif, pembayaran digital, dan jalur strategis di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.
Juventus gagal lolos ke Liga Champions usai ditahan Torino 2-2 pada pekan terakhir Serie A 2025/2026.
Desa Krebet Bantul dikenal sebagai sentra batik kayu yang produknya menembus pasar Eropa dan menjadi penggerak ekonomi warga.