Advertisement

Sumbu Filosofi Mengajak Publik Memperindah Dunia

Media Digital
Selasa, 24 Oktober 2023 - 21:17 WIB
Mediani Dyah Natalia
Sumbu Filosofi Mengajak Publik Memperindah Dunia Tim Ahli Cagar Budaya DIY, Yuwono Sri Suwito menerangkan kepada pengunjung pameran mengenai arsip yang dipamerkan dalam Pameran Arsip 2023 bertajuk Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia di Gedung Depo Arsip DPAP DIY, Selasa (24/10/2023).(Harian Jogja - Stefani Yulindriani)

Advertisement

Harianjogja.com, BANTUL—Filosofi Hamemayu Hayuning Bawana yang ada dalam Sumbu Filosofi misalnya, dapat dimaknai mengajak masyarakat untuk dapat memperindah dunia, bukan merusaknya.  

Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Daud Aris Tanudirjo menyampaikan DIY memiliki kekhasan dengan perpaduan cagar budaya yang intangible dan tangible yang dikemas dalam Sumbu Filosofi. 

Advertisement

“Itu yang kita coba mengapa ini [Sumbu Filosofi] tidak dilestarikan dan diwariskan? Sumbu itu mempunyai pesan kesan, tidak hanya dulu tetapi juga sekarang. Itu [makna filosofi Sumbu Filosofi] banyak dipakai oleh dunia saat ini [yaitu] sustainable,” katanya dalam pembukaan Pameran Arsip 2023 bertajuk Sumbu Filosofi Yogyakarta sebagai Warisan Budaya Dunia di Gedung Depo Arsip DPAP DIY, Selasa (24/10/2023).

Daud memaparkan filosofi Hamemayu Hayuning Bawana yang ada dalam Sumbu Filosofi misalnya, dalam filosofi tersebut dapat dimaknai mengajak masyarakat untuk dapat memperindah dunia, bukan merusaknya. 

Menurut Daud nilai yang terkandung dalam Sumbu Filosofi tersebut perlu untuk diwariskan pada generasi mendatang, karena itu proses penominasian Sumbu FIlosofi sebagai warisan budaya dunia dilakukan sejak tahun 2014. Kemudian September 2023, Sumbu Filosofi ditetapkan sebagai warisan budaya dunia. 

“Oleh karena itu [keinginan mewariskan filosofi dalam Sumbu Filosofi ke generasi berikutnya] mulai muncul gagasan bagaimana itu dinominasikan. Kita pertama [ingin] melestarikan untuk generasi berikutnya, bahwa nanti ada sisi yang lain, menarik orang dari sisi pariwisata itu berikutnya. Yang ingin kita wariskan konsepnya, kebudayaannya, filosofinya. Sehingga kita mengajukan ke dunia [UNESCO],” katanya. 

Baca Juga:
Empat Hari, Peserta Pelatihan Menulis DPAD DIY Terbitkan Sebuah Buku
DPAD DIY Gelar Raker Center of Excellent Budaya Jawa
DPAD DIY Bedah Buku Soal Tips Mengelola Keuangan Keluarga

Sementara Tim Ahli Cagar Budaya DIY, Yuwono Sri Suwito menyampaikan Sumbu Filosofi memiliki makna mikrokosmos dan makrokosmos yang dinilai penting untuk dapat dimaknai. Dia pun menyampaikan arsitektur dalam Kraton Jogja yang berada di antara Gunung Merapi dan Laut Selatan dinilai memiliki nilai filosofi yang karena dirancang sendiri oleh Sultan HB I. 

“Arsiteknya Kraton Jogja itu Mangkubumi, arsiteknya Kraton Solo juga Mangkubumi. Saat di mengarsiteksi Kraton Solo, itu ada campur tangan kakaknya dan Patih Pringgoloyo. Kemudian pada saat dia menjadi Sultan HB I, dia mengarsiteki keratonnya sendiri," katanya. (BC)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

100 Anak Ikut Khitan Massal di Sleman

100 Anak Ikut Khitan Massal di Sleman

Jogjapolitan | 11 hours ago

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Festival Gunung Slamet Kampanyekan Kelestarian Lingkungan

News
| Minggu, 14 Juli 2024, 07:17 WIB

Advertisement

alt

Bogor Punya Banyak Wisata Alam yang Layak Dikunjungi, Ini Daftarnya

Wisata
| Sabtu, 13 Juli 2024, 22:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement