Advertisement
Plafon SDN Terban Rubuh, Masih Ada Sekitar 70 Sekolah di Bantul Perlu Perbaikan

Advertisement
Harianjogja.com, BANTUL–Plafon SDN Terban runtuh saat proses belajar mengajar dilakukan pada Jumat (19/1/2024). Akibat kejadian tersebut 3 orang siswa mengalami luka. Kondisi serupa masih ditemukan pada beberapa sekolah di Bantul.
Berdasarkan catatan Disdikpora Bantul, saat ini masih ada sekitar 70 sekolah yang perlu penanganan. Sementara dari APBD Bantul tahun 2024 dan Dana Alokasi Khusus (DAK) tahun 2024 hanya dianggarkan penanganan belasan sekolah.
Advertisement
Kepala Disdikpora Bantul, Isdarmoko menyampaikan kejadian tersebut disebabkan karena kondisi atap bangunan SDN Terban yang lapuk karena dibangun 2007 atau pasca gempa 2006. “Kondisinya memang kalau atapnya itu rangkanya baja ringan. Penutup atapnya dari genting seng, plafon gypsum, kondisinya sudah cukup lama, bautnya sudah kendor, sehingga air hujan masuk. Dari situ membuat paku plafon karatan. Akhirnya ketika harus menyangga beban, gypsum tadi tidak kuat, akhirnya jebol,” katanya saat dihubungi melalui telepon, Jumat (19/1/2024).
Baca Juga
Miris! Pintu Jebol dan Atap SD Negeri di Gunungkidul Ini Nyaris Ambruk
Atap Ambruk dan Tewaskan Siswa di Gunungkidul, Berapa Anggaran Pemerintah untuk Perbaikan Sekolah?
Plafon SDN Terban Bantul Runtuh, Timpa 3 Siswa
Dia menyampaikan hampir seluruh bangunan di kawasan SDN Terban kondisinya serupa. Dia menyampaikan beberapa bagian plafon sebelumnya telah runtuh, namun telah ditangani oleh pihak sekolah.
Dia pun telah meminta pihak Disdikpora Bantul untuk melakukan analisis mengenai tingkat kerusakan dan kekuatan bangunan. Dia pun menilai rehabilitasi bangungan SDN Terban perlu segera dilakukan.
Meski begitu, menurut Isdarmoko saat ini Disdikpora Bantul tidak memiliki anggaran untuk penanganan tersebut. Dia pun berupaya berkoordinasi dengan BPBD Bantul dan DPUPKP Bantul untuk mencari mekanisme anggaran yang dapat dialokasikan untuk penanganan tersebut.
“Kami belum tahu [anggaran yang dapat digunakan], yang di kami mekanismenya sudah enggak mungkin. Paling nanti di kami[APBD] perubahan, akan kita konsultasikan di DPUPKP atau BPBD barangkali ada dana Belanja Tak Terduga [BTT] yang langsung bisa dialokasikan,” katanya.
Sementara menurut dia kondisi serupa dialami sekitar 50 SD dan 20 SMP di Bantul. Beberapa sekolah tersebut mayoritas mengalami kerusakan pada rangka atap, penutup atap, plafon dan keramik. Dia pun menyampaikan sekitar 90% sekolah di Bantul merupakan bangunan pasca gempa 2006, sehingga memang saat ini perlu direhabilitasi.
Dia menyampaikan 2024 ada alokasi anggaran APBD Bantul tahun 2024 Rp900 juta dan DAK Rp2,3 miliar untuk rehabilitasi sekolah yang rusak. Namun, menurutnya hanya 19 sekolah. Dia pun berupaya melakukan penangan kerusakan beberapa sekolah secara bertahap.
“Tidak mungkin langsung secara langsung semua, kami bertahap di prioritaskan sekolah yang mendesak yang menjadi prioritas,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement

Tanah Longsor di Jalan Raya Jalur Cangar-Pacet Mojokerto Menimpa Kendaraan, 10 Orang Meninggal Dunia
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Belum Ada Peningkatan Pergerakan Arus Balik di Bantul, Dishub: Lebih Banyak Mengunjungi Objek Wisata
- Libur Lebaran, Kunjungan Wisatawan ke Kaliurang Merangkak Naik
- Pemda DIY Susun DRMP Sumbu Filosofi
- Jaringan Omah Jaga Warga di Gunungkidul Akan Terus Diperluas
- Jadwal KRL Jogja-Solo Hari Ini Jumat 4 April 2025: Stasiun Tugu, Lempuyangan, Maguwo, Ceper, Srowot, Delanggu hingga Palur
Advertisement
Advertisement