Kasus DBD Terbanyak di Gunungkidul Ada di Ponjong, Capai 64 Kasus
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Ilustrasi program padat karya. - Antara
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Program padat karya di delapan lokasi Gunungkidul berjalan lancar dengan pembangunan jalan lingkungan sepanjang 120 meter di tiap titik dengan total anggaran Rp450 juta.
Delapan lokasi ini terdiri dari dua lokasi di Kalurahan Pacarejo, Semanu. Sedangkan sisanya, enam lokasi lain berada di Kalurahan Botodayaan dan Semugih, Rongkop; Selang di Kapanewon Wonosari; Tambakromo dan Keteng di Kapanewon Ponjong; serta di Kalurahan Songbanyu, Girisubo.
Kepala Bidang Tenaga Kerja, Dinas Perindustrian Koperasi UKM dan Tenaga Kerja Gunungkidul, Nanang Putranto, mengatakan delapan titik pelaksanaan program padat karya masih berjalan. Adapun pengerjaan dilakukan dengan membangun jalan lingkungan sepanjang sekitar 120 meter di setiap titiknya.
“Program berjalan lancar dan kami targetkan selesai pada Desember mendatang,” kata Nanang, Jumat (21/11/2025).
Dia menjelaskan, untuk pelaksanaan program ini, Pemkab mengalokasikan anggaran sebesar Rp450 juta. Adapun pagu yang diterima di setiap lokasi berkisar Rp52 juta.
Menurut Nanang, pada saat pembahasan APBD 2025 tidak ada program padat karya. Pasalnya, program baru muncul setelah ada instruksi dari Pemerintah Pusat sehingga dimunculkan saat pembahasan APBD Perubahan 2026.
Ia juga tidak menampik, pelaksanaan di tahun ini tidak sebanyak di tahun 2024. Tahun lalu, kata dia, total ada 195 kegiatan yang terlaksana dengan anggaran Bantuan Keuangan Khusus (BKK) dari Pemerintah DIY.
“Tahun ini hanya bersumber dari APBD Kabupaten. Sedangkan, dari APBD DIY belum ada untuk padat karya di tahun 2025,” katanya.
Kepala Dinas Perindustrian Koperasi UKM dan Tenaga Kerja Gunungkidul, Supartono, mengatakan padat karya di tahun ini tidak hanya dari sisi volume, tetapi anggarannya juga berkurang. Di sisi lain, jumlah tenaga kerja yang dilibatkan juga tidak sebanyak di tahun 2024.
Menurut dia, tahun lalu di setiap titiknya ada sekitar 50 warga yang dipekerjakan untuk kegiatan padat karya. Namun, untuk tahun 2025, pelaksanaan hanya melibatkan 23 orang per titiknya.
“Ini wajar karena anggarannya juga alokasinya lebih banyak tahun lalu. Meskipun demikian, keberadaan program juga berperan dalam upaya mengurangi pengangguran karena banyak melibatkan warga sekitar di dalam pembangunan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus DBD Gunungkidul mencapai 216 hingga September 2026. Ponjong menjadi wilayah dengan kasus terbanyak, yakni 64 kasus.
Serikat PRT dan sejumlah organisasi sipil mendesak penegakan hukum kasus dugaan keracunan MBG di Jogja dan meminta kasus diusut tuntas.
Kajian renovasi Stadion Mandala Krida masuk tahap analisis. DPRD DIY menargetkan estimasi DED tersedia untuk penganggaran 2027.
ASDP Ketapang mengoperasikan 27 kapal untuk mempercepat penguraian antrean kendaraan sepanjang 8,5 km di Pelabuhan Ketapang.
Subsidi BBM dan LPG 3 kg dalam APBN 2027 turun Rp11,4 triliun dari usulan awal menjadi Rp261,5 triliun.
Prabowo menemui Megawati di Teuku Umar untuk takziah Guruh Soekarnoputra. Keduanya juga berbincang soal bangsa dan negara.