Puluhan Akademisi Belajar Menulis Jurnal Farmasi

Pakar Publikasi Ilmiah Kefarmasian Sri Hartati Yuliani saat memberikan materi dalan pelatihan yang digelar J. Pharm. Sci. Community bekerja sama dengan Fakultas Farmasi USD, Rabu (8/8/2018). - Harian Jogja/Sunartono
09 Agustus 2018 05:50 WIB Sunartono Sleman Share :
Ad Tokopedia

Harianjogja.com, SLEMAN- Sedikitnya 80 akademisi dan praktisi bidang kesehatan dari berbagai instansi di Indonesia mengikuti kegiatan Workshop Penulisan Artikel Ilmiah Kefarmasian yang dihelat oleh Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas atau dikenal dengan J. Pharm. Sci. Community bekerja sama dengan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (USD) di salah satu hotel di Depok, Sleman Rabu (8/8/2018).

Kegiatan itu untuk meningkatkan kualitas artikel ilmiah kefarmasian oleh para penulis di Indonesia sehingga kualitas dan kuantitasnya terus meningkat.

Rektor USD Johanes Eka Priyatma berpendapat tugas utama akademisi adalah menghasilkan lulusan dan tulisan yang berkualitas. Ia menyadari menghasilkan tulisan yang bermutu bukan pekerjaan mudah, apalagi pada bidang farmasi yang personelnya tidak dididik secara khusus untuk menghasilkan tulisan. Oleh karena itu, pelatihan menjadi salah satu solusi yang tepat untuk menggugah semangat menulis.

"Setelah manusia mati, hanya dengan meninggalkan tulisan kita membangun apa yang disebut keabadian, jika kita ingin terus hadir maka harus meninggalkan tulisan yang baik," ungkap Eka saat membuka pelatihan tersebut, Rabu.

Eka mengatakan, kriteria tulisan yang baik adalah data yang disajikan dapat meyakinkan pembacanya. Selain itu, jangan pernah bosan untuk mencoba lagi ketika reviewer jurnal memberikan catatan khusus sehingga tidak bisa dimuat di jurnal. "Jadi jangan kecewa ketika tulisan kita dinilai kurang menarik," ucapnya.

Pemateri Workshop Sri Hartati Yuliani mengatakan, selain kemampuan menulis yang berkualitas, penulis jurnal juga harus memahami sisi administrasi hingga mendapatkan sponsor yang bersedia mendanai proses penelitian. Mengingat, reviewer jurnal seringkali turut meneliti sisi adminsitrasi termasuk proposal yang diajukan, sebelum meloloskan karya untuk dimuat. "Kita harus mencoba, dengan mencoba, kemudian gagal kita akan tahu kenapa kok gagal? nah itu kita bisa evaluasi perbaiki tulisan kita dan mencoba lagi membuat tulisan," ujarnya.

Ia mengatakan, salah satu kendala yang sering dihadapi penelitian farmasi adalah kadang terjadi kekurangan bahan baku. Oleh karena itu, jaringan kepada suplier bahan baku farmasi juga harus ditingkatkan. "Kalau saya biasanya honor penelitian sebelumnya saya tabung, untuk dipakai dulu membeli bahan baku di penelitian selanjutnya," kata dia.

Editor Jurnal Farmasi Sains dan Komunitas Florentinus Dika Octa Riswanto mengatakan, selain meningkatkan kualitas tulisan, pelatihan itu juga bertujuan meningkatkan kualitas substansial J. Pharn. Sci. Community menuju jurnal nasional terakreditasi Sinta Kemenristekdikti serta reputasi lain yang lebih tinggi. Kemudian mempersiapkan potential author melalui pendampingan oenulisan dan klinik artikel. Kegiatan itu diikuti sekitar 80 peserta dari kalangan dosen, mahasiswa, praktisi serta tenaga kesehatan dari 20 instansi pendidikan dan kesehatan di Indonesia.

"Kami juga membangun lebih erat jejaring dan kolaborasi Fakultas Farmasi USD dengan perguruan tinggi farmasi di Indonesia khususnya bidang publikasi ilmiah," katanya.

Dalam pelatihan itu ada sesi pendampingan penulisan dan klinuk artikel peserta, sehingga dapat berkonsultasi dan menerima sharing dari kedua pemateri dibantu oleh sejumlah instruktur bidang klinis dan komunitas.

Ad Tokopedia