UGM Minta Kasus Klitih Harus dapat Terputus

Barang bukti mobil yang rusak akibat lemparan pelaku diamankan di Polsek Wonosari, Jumat (13/7/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
30 Oktober 2018 10:10 WIB Herlambang Jati Kusumo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM menggelar deklarasi Antiklithih, di Auditorium Gedung Poerbatjaraka FIB UGM, Senin (29/10/2018). Para peserta dari berbagai elemen masyarakat menyatukan suara untuk menentang segala bentuk aksi kekerasan termasuk klithih di DIY.

Dekan FIB UGM Wening Udasmara mengatakan dengan deklarasi ini diharapkan segenap elemen masyarakat mendukung gerakan antiklithih dan ikut serta dalam mewujudkan keamanan di DIY. Hal ini diharapkan dapat menjadi upaya dalam memutus regenerasi klithih di DIY sehingga tercipta lingkungan yang aman dan nyaman.

“Mewujudkan keamanan menjadi tanggung jawab seluruh elemen masyarakat. Oleh sebab itu, mari bekerja bersama dan berjuang agar klithih tidak hadir kembali di masyarakat,” ucap Wening, Senin (29/10/2018).

Kapolresta Jogja Kombes Pol. Armaini menyebutkan klithih merupakan persoalan yang sangat meresahkan masyarakat DIY. Bahkan, menjadi persoalan yang mengancam kelangsungan bangsa di masa yang akan datang. Pasalnya, pelaku klithih berasal dari generasi muda yang nantinya akan menjadi calon penerus bangsa. “Jadi, marilah sama-sama kita perangi aksi klithih ini,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor UGM yang diwakili Direktur LPPM UGM, Prof. Irfan Dwidya Prijambada, menyampaikan UGM mencanangkan diri sebagai Universitas Kebudayaan. Hal ini menjadi bagian nyata akan kepedulian UGM terhadap kebudayaan. Oleh sebab itu, UGM sangat mengapresiasi kegiatan yang diselenggarakan FIB UGM dalam menentang berbagai bentuk kekerasan, termasuk klithih.

Ketua penyelenggara kegiatan, Shobichatul Aminah mengatakan deklarasi antiklithih merupakan salah satu kegiatan yang diselenggarakan untuk memutus regenerasi antiklitih. Selain itu, juga digelar perlombaan meme dan video singkat, serta pembuatan film dokumenter sebagai media penyuluhan antiklithih. Digelar pula Training of Trainer untuk beberapa ormas dan komunitas, roadshow untuk remaja, serta mediasi.