Tunggakan PBB Gunungkidul Capai Rp26 Miliar, DPRD Soroti Penagihan
Tunggakan PBB-P2 Gunungkidul mencapai Rp26 miliar. DPRD meminta Pemkab mengoptimalkan penagihan untuk memperkuat PAD.
Sejumlah petani memanen kedelai Dena-1 di Dusun Sri Koyo, Desa Bleberan, Kecamatan Playen, Kamis (2/5/2019)./Harian Jogja-Rahmat Jiwandono
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul memiliki tugas berat untuk pengembangan budidaya kedelai. Pasalnya, di tahun depan ada target area penanaman seluas 11.000 hektare.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengatakan saat ini sudah mulai memasuki panen perdana kedelai. Adapun lokasi yang sudah dipanen berada di Kalurahan Bleberan, Playen.
BACA JUGA : Petani di Bantul Tidak Tertarik Tanam Kedelai
Di lokasi ini total ada lahan seluas 40 hektare. Sedangkan yang dipanen baru mencapai lima hektare. Total luas tanam kedelai di musim tanam pertama mencapai 697 hektare. “Panennya diperkirakan hingga Februari mendatang,” kata Rismiyadi kepada wartawan, Rabu (28/12/2022).
Menurut dia, untuk penanaman di masa tanam pertama tidak ada masalah karena kedelai yang ditanam dapat tumbuh dengan subur. Meski demikian, didalam prosesnya, lahan yang ditanam dengan model tumpang sisip. Selain ada kedelai, di lahan yang sama juga terdapat tanaman pangan lain seperti jagung.
Rismiyadi mengakui Pemerintah Pusat terus mendorong perluasan budidaya kedelai guna memperkuat ketahanan pangan. Di tahun depan, Gunungkidul juga mendapatkan target agar bisa menanam seluas 11.000 hektare. Ia tidak menampik target ini merupakan hal yang berat. Berdasarkan pendataan, luas tanam di 2023 hanya sekitar 5.400 hektare.
BACA JUGA : Kedelai Gunungkidul Diminati Perusahan Kelas Dunia
Meski demikian, Rismiyadi berkomitmen untuk terus berupaya agar target dari kementerian pertanian bisa terpenuhi. “Kami terus membuka peluang untuk petani yang ingin menanam kedelai. Syukur-syukur keinginan pusat untuk menanam seluas 11.000 hektare bisa terpenuhi,” katanya.
Dia menambahkan, untuk penanaman kedelai dilaksanakan dengan dua model. Metode pertama dengan penanam reguler yang dilaksankaan petani.
Enggan Menanam
Adapun kedua melalui penanaman korporasi. Cara ini memanfaatkan teknologi didalam proses penanamannya. “Untuk korporasi memang lebih modern karena pelaksanaannya ada yang menggunakan mesin mulai dari penanaman hingga proses pemisahan kedeleai berdasarkan kualitasnya,” katanya.
Sekretaris Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Raharjo Yuwono menambahkan, luas tanam kedelai terhitung kecil dibandingkan dengan tanaman pangan lainnya seperti padi, kacang hingga jagung. Menurut dia, banyak petani yang enggan menanam karena pemeliharaan kedelai lebih sulit ketimbang tanaman lainnya.
BACA JUGA : Petani Tak Tertarik, Lahan Tanaman Kedelai Terus Menyusut
“Memang ancaman serangan hamanya lebih banyak sehingga perawatan lebih banyak. Tapi kami tetap berupaya agar luas tanam dapat ditingkatkan di setiap tahunnya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tunggakan PBB-P2 Gunungkidul mencapai Rp26 miliar. DPRD meminta Pemkab mengoptimalkan penagihan untuk memperkuat PAD.
Sarana olahraga Sleman masih terkendala. Fasilitas dayung dan renang belum sesuai kebutuhan atlet menjelang Porda DIY XVIII 2027.
Pemda DIY menyalurkan Rp1 miliar untuk NTT terdampak gempa dan membantu mahasiswa asal NTT di Jogja melalui pangan serta keringanan kuliah.
Usulan BPIH 2027 Rp107,34 juta per jamaah naik hampir Rp20 juta. DPR meminta biaya dikaji agar rasional dan layanan tetap berkualitas.
KRI Ki Hajar Dewantara akan dijual setelah DPR menerima surpres. Simak spesifikasi, senjata, mesin, dan kemampuan kapal perang ini.
Seoul menyiapkan kebijakan “hak atas keteduhan” dengan koridor pejalan kaki teduh untuk menghadapi gelombang panas ekstrem dan melindungi warga.