Kekerasan Daycare Jogja, 53 Anak Jadi Korban, Pemda DIY Turun Tangan
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
Sejumlah warga Semaki mengikuti pelatihan pengolahan sampah, beberapa waktu lalu./ist Kelurahan Semaki
Harianjogja.com, JOGJA—2023 menjadi momentum untuk meningkatkan pengelolaan sampah di setiap wilayah. Keluarahan Semaki, Umbulharjo, menjadi salah satu wilayah di Kota Jogja yang terus menguatkan pengelolaan sampah oleh masyarakat.
Lurah Semaki, Arini Susetyowati, menjelaskan salah satu upaya dalam pengelolaan sampah secara mandiri yakni dengan bank sampah. Di Semaki terdapat 10 RW, dimana setiap RW memiliki satu bank sampah yang semuanya aktif hingga saat ini.
“Dari RW 1 sampai RW 10 mempunyai pengurus bank sampah masing-masing. Di setiap bank sampah ada penimbangan bank sampah setiap satu bulan sekali. Dari kelurahan setiap ada penimbangan kita mendampingi untuk memonitor,” ujarnya, Selasa (19/12/2023).
Baca Juga:
Kapasitas Pengelolaan Sampah TPS3R Nitikan Ditingkatkan dengan Menambah Alat
DIY Terapkan Desentralisasi Pengolahan Sampah di 2024, Kota Jogja Butuh Perhatian Khusus
Mulai 2024, Kota Jogja Gunakan Teknologi Pemusnah Sampah Tanpa Asap dan Debu
Sampah yang dikumpulkan di bank sampah merupakan sampah anorganik, yang kemudian dijual pada pengepul. Hasil penjualan biasanya akan dibagi ke setiap anggota atau untuk keperluan bersama sesuai kesepakatan. “Bisa buat piknik atau ditabung,” ungkapnya.
Kemudian untuk sampah organik, kelurahan Semaki menggelar sejumlah pelatihan pengelolaan sampah. Salah satunya pelatihan pembuatan galon atau tumpuk untuk mengolah sampah organik menjadi pupuk cair, yang diikuti oleh anggota bank sampah dan masayrakat umum.
Dari kelurahan menganggarkan sebanyak 136 galon untuk pelatihan gallon tumpuk yang dibagi ke tiga kampung di Semaki. “Sisa makanan dimasukkan di situ, ada tutupnya di atas, tidak ada baunya. Nanti terproses di situ, menetes dan jadi pupuk cair,” katanya.
Selain itu ada pula pelatihan pembuatan lubang sisa dapur (lusida), biopori dan ecobrick dengan memanfaatkan botol bekas dan sampah plastic. Kemudian para pengurus bank sampah juga sudah diajak studi tiru pengelolaan sampah yang sudah bagus seperti di beberapa wilayah di Bantul.
Ia mengakui wilayah yang tidak luas dan banyaknya gedung pemerintahan di Kelurahan Semaki membuat pengelolaan sampah tidak semudah di daerah pinggiran. Namun dengan berbagai upaya ini diharapkan dapat turut membantu pemerintah dalam menyelesaikan persoalan sampah.
“Kita tetap membantu program pemerintah meskipun kesadaran masyarakat juga kadang tidak sama. Kalau dari kita dari kelurahan berusaha semaksimal mungkin, hasilnya ya lumayan daripada dulu belum ada gerakan apapun di wilayah,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
53 anak jadi korban kekerasan daycare di Jogja, Pemda DIY beri pendampingan dan dorong penegakan hukum.
AS menjatuhkan sanksi kepada dua perusahaan Iran dan delapan kapal tanker terkait dugaan skema pemerasan kapal di Selat Hormuz.
Delegasi DUN Sabah mempelajari tata kelola Keistimewaan DIY dan Dana Keistimewaan sebagai rujukan kewenangan khusus pemerintahan daerah.
Panitia Jogja Halal Festival (JHF) #3 resmi meluncurkan Jogja Halal Festival #3 Tahun 2026 di Ruang Bangsal Mataram, Lantai 2, Kantor Perwakilan Bank Indonesia
DPRD Bantul meminta pengawasan potensi kebakaran lahan diperkuat hingga tingkat RT selama musim kemarau. Jumlah kasus kebakaran lahan di Bantul tercatat meningk
Sensus Ekonomi 2026 di DIY telah mencapai 69%. BPS DIY memastikan data pelaku usaha aman dan tidak berkaitan dengan perpajakan.