Pengadaan Tanah Kas Desa Pengganti di Palihan Diawali dengan Audit
Pemkab Kulonprogo menargetkan pengadaan tanah kas pengganti Kalurahan Palihan rampung Oktober 2026 setelah tim dibentuk dan audit selesai.
Ilustrasi kekerasan./Pixabay
Harianjogja.com, KULONPROGO—Suasana tenang Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates, Kulonprogo, mendadak berubah mencekam setelah warga mendengar teriakan minta tolong dari seorang pria, Kamis (22/1/2026). Teriakan tersebut menjadi awal terungkapnya dugaan kasus penyiksaan disertai percobaan pembunuhan terhadap korban berinisial IF, 31 tahun.
Teriakan itu terdengar sekitar pukul 10.00 WIB dan mengarah ke salah satu rumah warga di Karangwuni. Sejumlah warga kemudian mendatangi lokasi untuk memastikan sumber suara tersebut. Tidak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar 40 tahun keluar dari rumah dan mencoba menenangkan warga dengan mengatakan bahwa tidak ada masalah serius, hanya persoalan pembagian yang tidak merata.
Kepala Seksi Humas Polres Kulonprogo, Iptu Sarjoko, menjelaskan situasi berubah ketika korban IF justru keluar dari rumah melalui pintu depan sambil terus berteriak meminta pertolongan. Kondisi korban saat itu memicu kepanikan warga.
“Saat keluar rumah, korban dalam keadaan tangan diborgol, salah satu kaki diikat, mulutnya tertutup lakban yang sudah terbuka, tetapi masih bisa berlari,” ujar Sarjoko kepada wartawan, Kamis (22/1/2026).
Sarjoko menambahkan, IF juga mengalami luka di bagian leher disertai pendarahan. Melihat kondisi tersebut, warga sekitar segera menghubungi Bhabinkamtibmas Kalurahan Karangwuni untuk meminta bantuan.
Sementara itu, pria yang sebelumnya keluar rumah dan diduga sebagai pelaku justru berhasil melarikan diri sebelum sempat diamankan warga. Hingga kini, terduga pelaku masih dalam pengejaran dan penyelidikan Polres Kulonprogo.
Korban IF kemudian segera dilarikan ke Rumah Sakit Umum Rizki Amalia di Kapanewon Temon untuk mendapatkan pertolongan awal. Namun, karena kondisi lukanya, korban selanjutnya dirujuk ke RSUD Wates untuk penanganan medis lanjutan.
Sarjoko memastikan rumah yang digunakan sebagai lokasi penyiksaan bukan milik korban maupun pelaku. “Itu rumah kosong, pemiliknya berada di Sumatera,” katanya.
Kanit Reskrim Polsek Wates, Iptu Agus Setiawan, menambahkan bahwa korban dan pelaku diketahui saling mengenal. Korban sebelumnya diajak oleh pelaku untuk datang ke rumah tersebut sebelum akhirnya peristiwa kekerasan terjadi.
“Korban dibawa masuk ke rumah dan di situlah pelaku melakukan pembacokan di bagian leher sebelah kiri korban,” ujar Agus.
Hingga saat ini, polisi masih mendalami motif dan latar belakang penyiksaan tersebut. Dari hasil penelusuran di dalam rumah, petugas menemukan sebuah celurit serta tas yang diduga milik pelaku dan kini telah diamankan sebagai barang bukti untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Kulonprogo menargetkan pengadaan tanah kas pengganti Kalurahan Palihan rampung Oktober 2026 setelah tim dibentuk dan audit selesai.
Polisi masih menyelidiki penyebab meninggalnya taruna Akpol Semarang berinisial AMM yang ditemukan terluka di kompleks pendidikan Akpol.
Dinsos Bantul menargetkan setiap pendamping PKH meluluskan 24 KPM dari bansos pada 2026 untuk mempercepat pengentasan kemiskinan.
Belanja gaji pegawai Pemkab Sleman 2027 turun menjadi Rp787,97 miliar. BKAD mewaspadai TPP terdampak jika target PAD tidak tercapai.
Pemerintah memastikan pemisahan anggaran BGN dari fungsi pendidikan mulai diterapkan pada penyusunan APBN 2028 sesuai putusan MK.
Balita menjadi kelompok paling rentan TBC di Kota Jogja. Hingga 23 Juli 2026 tercatat 174 anak terdiagnosis tuberkulosis.