Pelajar Gunungkidul Diajak Jaga Budi Pekerti dan Budaya Damai
Pemkab Gunungkidul mendukung Gerakan Pelajar Jogja Santun dan Cinta Damai untuk mencegah kenakalan remaja dan kekerasan di sekolah.
Kapal-kapal milik nelayan di Pantai Baru diamankan saat terjadi gelombang tinggi beberapa waktu lalu. /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, BANTUL - Nelayan di Pantai Samas, Srigading, Kecamatan Sanden, Bantul masih belum berani melaut. Mereka pun sudah menghentikan aktivitas melaut sejak Mei lalu.
Salah seorang nelayan di Pantai Samas, Mugari mengatakan, kondisi gelombang di pantai selatan sudah mulai membaik. Namun demikian, hal tersebut belum menjadi jaminan karena banyak nelayan yang belum berani kembali beraktivitas di laut untuk menangkap ikan.
Menurut dia, untuk sekarang ikan sulit didapatkan. Jika ingin mendapatkan hasil yang lebih, nelayan harus melaut di malam hari. Namun permasalahannya, kata Mugari, pada saat malam angin berembus sangat kencang sehingga tidak memungkinkan untuk menangkap ikan.
"Kalau siang sebenarnya cuaca baik, tapi ikannya sulit didapatkan sehingga nelayan lebih memilih menghentikan aktivitas penangkapan," kata Mugari, Kamis (23/8/2018).
Dia menjelaskan, nelayan berhenti menangkap ikan di laut sejak Mei lalu. Hal ini terjadi karena faktor alam yang membuat usaha penangkapan tidak maksimal. Sebagai gantinya, kata Mugari, nelayan beralih menjadi petani atau mengganti tangkapan ikan dengan mencari kepiting di muara sungai.
"Jadi meski berhenti melaut, tapi kami tetap mendapatkan penghasilan meski tidak sebanyak seperti menangkap ikan di laut," tuturnya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan Tatang, nelayan lain di pesisir Selatan Bantul. Menurut dia, kondisi paceklik ikan merupakan hal biasa dan terjadi setiap tahun. Biasanya musim paceklik ini terjadi pada rentang waktu Mei sampai September. "Di bulan-bulan ini banyak nelayan yang menghentikan aktivitas melaut karena ombak yang relatif tinggi," ungkapnya.
Tatang menuturkan, meski tidak melaut, nelayan tetap beraktivitas. Salah satunya dengan mengubah cara penangkapan. Jika di waktu normal, nelayan mencari ikan di laut, maka pencarian menggunakan jarit eret yang dipasang di pinggir pantai. "Ini jadi solusi karena nelayan tetap bisa memeperoleh hasil," katanya.
Menurut dia, pemasangan jaring eret hanya solusi jangka pendek. Hal ini terjadi karena hasil yang didapatkan tidak sebanyak seperti saat menangkap ikan di laut.
"Perbandingannya satu bading sepuluh. Jika di laut bisa memperoleh 100 kilogram, dengan jaring eret nelayan hanya bisa menangkap sebanyak sepuluh kilo," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pemkab Gunungkidul mendukung Gerakan Pelajar Jogja Santun dan Cinta Damai untuk mencegah kenakalan remaja dan kekerasan di sekolah.
Rusia mengklaim menyerang pusat logistik dan fasilitas produksi drone Ukraina, sementara Iran memprotes serangan Ukraina di Laut Kaspia.
Pemkot Semarang menginstruksikan OPD dan warga siaga penuh menghadapi kemarau ekstrem 2026 untuk mencegah kebakaran dan gangguan kesehatan.
Distribusi Minyakita melalui BUMN mencapai 50,16%, namun harga rata-rata nasional masih berada di atas HET Rp15.700 per liter.
PDIP Kota Yogyakarta menanam 300 pohon, menggelar simulasi bencana, dan pelayanan kesehatan lansia saat pelantikan pengurus.
Samsung Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan fitur kesehatan berbasis AI untuk trail running, diving, dan pemantauan kebugaran harian.