Tingkatkan Kepedulian Memilih, Dai Muda Diharapkan Ikut Sosialisasikan Pemilu

Kegiatan serasehan pemilu yang dihadiri para dai muda, Minggu (10/3/2019). - Ist/Panitia Serasehan
11 Maret 2019 14:17 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Kelompok dai muda dan tokoh muda diharapkan bisa turut ambil bagian dalam mensosialisasikan kegiatan Pemilu 2019. Harapannya dai muda bisa merangkul kelompok pemuda agar tidak golput dalam perhelatan pemilu ini. Para dai dan tokoh muda tersebut dihadirkan dalam serasehan dan silaturahmi yang digelar oleh DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Jogja, Minggu (10/3/2019).

Anggota Fraksi PKS DPR RI Sukamta yang hadir dalam pertemuan itu mengatakan, dai muda yang dikumpulkan tersebut seluruhnya merupakan anak muda yang memiliki kesadaran beragama lebih. Selama beberapa tahun terakhir menjadi tren tersendiri banyak dai muda yang populer.

"Kegiatan ini mengundang dai muda di sekitar Jogja untuk bertemu. Kami berharap mereka ini para dai muda berkenan mengkomunikasikan mendorong untuk mendukung event besar Bangsa Indonesia, dalam hal ini pemilu, dengan menyasar anak muda," terangnya dalam keterangan persnya, Senin (11/3/2019).

Sukamta mengatakan, keterlibatan dai muda dinilai efektif dalam mensosialisasikan pemilu. Harapannya dengan dorongan dai muda sehingga anak muda tidak golput dan tetap memberikan suaranya dalam Pemilu 2019. Apalagi di wilayah DIY ini terutama di kalangan anak muda masih banyak belum sadar dan peduli bahwa akan segera digelar Pemilu 2019 pada 17 April.

"Kebanyakan anak muda yang ditengarai belum terlalu sadar tentang adanya Pemilu, bahkan ada yang memahaminya kurang tepat. Ini kesempatan bagus, para dai ini diharapkan juga mengkomunikasikan dengan masyarakat, mengajak supaya bisa memanfaatkan event pemilu dengan baik. Ini kesempatan bangsa Indonesia yang baik untuk prosesi memilih pemimpin

Sukamta menilai persoalan sebenarnya bukan golput atau tidaknya, namun pemahaman kalangan pemuda tentang pemilu baik Pilpres maupun Pileg ini masih minim dan kurang peduli. Ini sekaligus menjadi tantangan bagi penyelenggara Pemilu, tidak hanya KPU hingga KPPS saja namun juga partai hingga kandidat. Oleh karena itu, pihaknya selaku fungsionaris PKS mendukung gelaran serasehan tersebut dengan menyasar dai muda.

"Bahkan di DIY ini ada yang menyampaikan sampai 30 persen hingga 40 persen yang kurang memahami, peduli di kalangan anak muda. Untuk DIY ini angka yang besar, apalagi Jogja dikenal sebagai masyarakat terpelajar, bisa jadi karena faktor informasi yang kurang karena pada dasarnya informasi itu jadi tanggungjawab penyelenggara dan kontestan," ucapnya.

Ia menilai sebagai salah satu kontestan, kepedulian masyarakat juga lebih banyak mengarah ke pilpres. Pihaknya berharap dengan berbagai sosialisasi yang digelar dapat meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pelaksanaan pemilu yang di dalamnya ada Pilpres dan Pileg.

Di sisi lain, lanjutnya, penyelenggara pemilu juga mendapatkan tantangan dengan adanya Warga Negara Asing (WNA) yang masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Ia mengatakan adanya WNA yang tercatat sebagai pemilih akan menjadi potensi persoalan ke depannya, selain itu menjadi kurang baik dalam kehidupan demokrasi. Oleh karena itu pihaknya mendorong kepada penyelenggara pemilu agar menuntaskan persoalan tersebut.

"Kami masih melihat kasus demi kasus, semoga saja [WNA terdaftar di DPT] ini hanya kasuistik, bahwa sinyalemen di medsos jadi bermacam itu ketika banyak ditemukan bukti, terus berkembang dari rumor menjadi lebih kuat lagi, kita tentu nggak ingin demokrasi tercederai oleh hal-hal seperti itu," katanya.