Ini Kendala dalam Pembangunan Pamsimas untuk 25 Desa di Sleman Tahun Ini

Ilustrasi. - Reuters
20 Agustus 2019 05:57 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Pemukiman (DPUPKP) Sleman Sunarto mengatakan rencananya pada tahun depan, Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) akan menyasar 10 desa yang ada di wilayah Bumi Sembada.

"Sedangkan untuk tahun ini, kita dapat alokasi untuk 25 desa. Sekarang sedang disiapkan untuk kegiatan tahun 2020," kata Sunarto, Senin (19/8/2019).

Skema pembiayaan Pamsimas sendiri menggunakan biaya 80 persen didanai oleh pemerintah pusat, sedangkan 20 persen dari APBD. "Tahun 2019 ini, Sleman mendapat alokasi Rp4,9 miliar dari APBN sehingga dari daerah mengganggarkan dana Rp1,75 miliar," lanjut Sunarto.

Pembiayaan tersebut, lanjut Sunarto, masih dibagi dengan skema 70 persen dari total dana APBN maupun APBD, 10 persen disokong APBDes, sedangkan 20 persen bersumber dari kelompok masyarakat.

Dikatakan Sunarto, perihal pendanaan dari kelompok ini 16 persen bisa berwujud tenaga dan sisanya dalam bentuk uang tunai.

"Proyek Pamsimas sendiri dikerjakan masyarakat didampingi fasilitator. Pihak ketiga hanya mengambil peran dalam pengadaan material," jelasnya.

Program Pamsimas sendiri diimplementasikan di Kabupaten Sleman sejak tahun 2016. Pasca tiga tahun, program air minum dan sanitasi itu telah dirasakan manfaatnya oleh warga pada 40 daerah pedesaan.

Pengadaan bantuan sarana air minum melalui Pamsimas, lanjut Sunarto, hampir mencakup semua fasilitas mulai dari sumber, pipa, reservoir atau bak tampungan, hingga jaringan distribusi. Sedangkan, berkaitan dengan sambungan ke rumah-rumah dibiayai swadaya oleh masyarakat.

Tahap perencanaan Pamsimas dimulai satu tahun sebelum proyek fisik dikerjakan. Program ini terutama menyasar wilayah desa yang belum memiliki jaringan air minum.

"Satu fasilitas Pamsimas, rata-rata dipakai 125 KK tapi itu tergantung rencana kerja masyarakat dan persebaran warganya. Kalau sebarannya tidak merata, akan butuh banyak jaringan," katanya.

Faktor sebaran penduduk ini pula yang menjadi kendala dalam pemerataan program Pamsimas. Misalnya, di Kecamatan Prambanan, belum semua desa rawan kekeringan di wilayah kecamatan itu terjangkau Pamsimas.

Keberadaan sumber air juga menjadi faktor pertimbangan disamping faktor lokasi pemukiman. Hal tersebut dikarenakan, program ini direncanakan sendiri oleh masyarakat, mereka yang lebih paham titik sumber air. Sumber lazimnya dipilih mata air atau sumur yang airnya tidak kering sekalipun musim kemarau.

"Guna memastikan sumbernya layak, biasanya dilakukan upaya tes pumping dulu selama 24 jam atau 3 hari," imbuh Sunarto.

Hal tersebut dilakukan guna mengetes terlebih dahulu sumber air tersebut layak atau tidak dijadikan sumber mata air Pamsimas.

Fasilitas Pamsimas, dalam pemanfaatannya, dikelola secara swadaya oleh kelompok masyarakat. Besaran tarifnya juga ditentukan sendiri oleh warga melalui hasil kesepakatan.

"Program Pamsimas di Sleman pernah mendapat sorotan karena merupakan satu-satunya yang memberikan fasilitas bagi penyandang difabel. Sampai saat ini setidaknya ada 10 desa yang memiliki layanan Pamsimas ramah difabel," tutup Sunarto.