Ribuan Pasutri di Jogja Ogah Pakai Alat Kontrasepsi

Ilustrasi pemasangan alat kontrasepsi implan ke salah satu akseptor KB - Istimewa/Humas RSU Mitra Paramedika
25 Agustus 2019 07:37 WIB Newswire Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Belasan ribu pasangan usia subur di Jogja enggan menggunakan alat kontraepsei untuk mencegah kehamilan.

Kepesertaan program keluarga berencana untuk pasangan usia subur di Kota Jogja masih berada di bawah target yang ditetapkan yaitu baru mencapai 69 persen dari target 73 persen.

“Masih ada ribuan pasangan usia subur (PUS) yang belum menjadi peserta KB aktif. Kami pun melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kepesertaan KB,” kata Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Kota Yogyakarta Emma Rahmi Ariyani di Jogja, Sabtu (24/8/2019).

Di Kota Jogja saat ini terdapat sekitar 40.000 pasangan usia subur, namun baru ada sekitar 27.000 pasangan usia subur yang menjadi peserta KB aktif.

Menurut Emma, sebagian besar pasangan usia subur di Kota Yogyakarta memilih tidak menggunakan alat kontrasepsi meskipun tidak ingin memiliki anak di kemudian hari.

“Banyak pasangan usia subur yang mengandalkan berbagai metode KB tradisional untuk menunda anak atau bahkan tidak memiliki anak lagi. Misalnya mengandalkan KB metode kalender. Namun, metode ini juga masih berpotensi pada terjadinya kehamilan,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, banyak pasangan yang berusia lebih dari 40 tahun juga memilih tidak menggunakan alat kontrasepsi. “Padahal, mereka juga memiliki potensi kehamilan apalagi jika istri belum memasuki masa menopause,” katanya.

Sejumlah upaya untuk meningkatkan kepesertaan KB di Kota Yogyakarta kemudian ditempuh dengan sosialisasi KB melibatkan forum agama dan tokoh masyarakat karena ada warga yang memiliki pemahaman bahwa KB melanggar aturan agama.

“Harapannya, tokoh agama atau masyarakat membantu kami menyosialisasikan program KB sehingga masyarakat pun memiliki pemahaman yang sama. Tujuan KB adalah pengendalian kelahiran untuk mewujudkan keluarga sehat dan sejahtera,” katanya.

Selain itu, lanjut Emma, sosialisasi juga dilakukan untuk kaum pria karena di tengah masyarakat juga masih ada anggapan bahwa KB hanya ditujukan untuk kaum perempuan saja. “Peserta KB untuk pria juga terus diupayakan meningkat. Kami juga memberikan reward uang bagi akseptor baru KB pria,” katanya.

Warga yang ingin menjadi akseptor KB pria dapat mendaftar melalui kader KB di wilayah atau penyuluh di tiap kecamatan. Pelayanan KB pria dengan metode vasektomi dilayani secara gratis di RS DKT Yogyakarta.

Meskipun kepesertaan KB di Kota Yogyakarta belum memenuhi target, namun tingkat kelahiran sudah berada di bawah target nasional. Angka kelahiran di Kota Yogyakarta 1,24 sedangkan target nasional 2.

Sumber : Antara