Terakhir Tahun 2016, Pemkab Sleman Wacanakan Kenaikan Retribusi

Kendaraan mengantre masuk ke dalam kawasan wisata Kaliurang, Sleman, Kamis (6/6/2019).-Harian Jogja - Yogi Anugrah.
01 November 2019 07:37 WIB Fahmi Ahmad Burhan Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN-- Pemkab Sleman berupaya mengejar target retribusi dari berbagai sektor di akhir tahun ini. Total untuk mencapai target, Pemkab setidaknya harus mengeruk pendapatan retribusi sebanyak Rp5,2 miliar.

Berdasarkan data dari Badan Keuangan Aset Daerah (BKAD) Sleman, sampai September, total Pemkab Sleman sudah mendapatkan pendapatan dari retribusi daerah sebesar Rp42,8 miliar. Sementara tahun ini Pemkab menargetkan total pendapatan retribusi daerah sebesar Rp48 miliar.

Kepala Sub Bidang Pengembangan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Badan Keuangan Aset Daerah (BKAD) Sleman, Danang Mintoko mengatakan di sisa akhir tahun ini pihaknya optimis target retribusi terpenuhi. Beberapa sektor digenjot untuk penuhi target, seperti retribusi objek wisata, pasar, atau perizinan.

"Tahun ini yang paling besar kontribusinya dari retribusi perizinan, total sampai September sudah masuk pendapatan retribusi dari perizinan sebesar Rp19 miliar," ungkapnya pada Kamis (31/10/2019).

Tahun depan, pihaknya mempertimbangkan untuk menaikkan tarif retribusi guna mendukung kenaikan pendapatan daerah. "Rencana [kenaikan tarif retribusi] ada, tapi itu kami masih kajian. Karena harus ada perubahan Perda, seperti di tarif retribusi tempat rekreasi, olahraga dan pemakaian kekayaan daerah," ungkap Danang.

Untuk tarif retribusi daerah, perubahan terakhir kali dilakukan pada 2016. Salah satu jenis tarif retribusi yang kemudian dinaikkan di 2016 yaitu retribusi rekreasi olahraga dan kekayaan daerah.

Kepala Bidang Penagihan dan Pengembangan PAD BKAD Sleman, Kusniati mengatakan pendapatan dari retribusi cukup berperan untuk pengembangan PAD Sleman. Pendapatan retribusi bisa menyumbang sampai 5% dari total PAD Sleman.

"PAD kita tahun ini ditargetkan Rp903 miliar, sampai September baru tercapai Rp717 miliar," ujar Kusniati.