JJLS Jadi Andalan menuju Objek Wisata

Sebuah bukit di Desa Girimulyo, Kecamatan Panggang, dikeruk untuk pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), seperti terlihat Senin (11/11/2019). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
12 November 2019 22:07 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemerintah Pusat kembali melanjutkan pembangunan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) di Gunungkidul. Di sisi timur, pelaksana proyek membangun jalan sepanjang 10,6 kilometer yang menghubungkan dengan Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, tepatnya di Kecamatan Rongkop. Di sisi barat, pembangunan dilaksanakan di Kecamatan Panggang.

Meski belum seluruhnya tersambung, mobilitas kendaraan di ruas jalan yang mulai dibangun sejak 2002 itu sangat tinggi. Berdasar pantauan Harian Jogja, Senin (11/11/2019), proyek JJLS yang masih dikerjakan salah satunya ruas Pasar Legundi, Desa Girimulyo, Kecamatan Panggang, menuju ke Desa Girisekar.

Di ruas ini, pengguna jalan masih harus melintasi jalur lama yang sempit dan berkelok-kelok. Kondisi jalan lama juga terlihat rusak. Aspal jalan mulai retak bahkan di beberapa titik muncul lubang. Selain itu, sejumlah rambu lalu lintas sebagian juga rusak. Garis markah di beberapa titik juga pudar bahkan hilang. Sisi pinggir aspal juga mulai terkikis akibat air hujan. Dengan kondisi ini, pengguna jalan juga harus ekstra waspada.

Salah seorang warga Desa Girimulyo, Kecamatan Panggang, Ngadini, 58, mengungkapkan JJLS yang melintasi Jalan Panggang-Wonosari sudah cukup padat. Terlebih saat hari libur dan akhir pekan. Menurutnya, saat libur JJLS selalu dipadati kendaraan wisatawan yang hendak berlibur ke sejumlah pantai di wilayah Gunungkidul. Menurut Ngadini, pembangunan JJLS yang terus dikerjakan menjadi solusi agar wisatawan semakin nyaman saat menuju objek wisata. "Kalau hari libur sering terjadi kemacetan karena banyak kendaraan yang melintas," kata Ngadini saat ditemui Harian Jogja, Senin. Dia berharap pembangunan JJLS yang melintasi Desa Girisekar segera selesai sehingga akses makin lancar. "Keberadaan JJLS sangat bermanfaat bagi banyak orang," katanya.

Senada dengan Ngadini, Sudarto, 47, warga Desa Girisekar, Kecamatan Panggang mengaku keberadaan JJLS memperlancar arus lalu lintas. Meski demikian, dia mengakui pembangunan jalur pantai selatan Jawa itu sangat lambat. Hal itu tak lepas dari kondisi geografis yang sebagian besar melalui jalur perbukitan. "Pengerjaan jalan sangat lama karena pelaksana harus membelah bukit kapur," kata Sudarto. Berdasar pantauan, terlihat dua unit ekskavator dikerahkan untuk mengeruk sebuah bukityang sangat terjal. Di sisi lain, sejumlah truk wara-wiri mengangkut material hasil penggalian.

Pembangunan JJLS tahun ini dilakukan di dua titik yakni ruas Jerukwudel-Baran-Duwet sepanjang 10,6 kilometer dan ruas Legundi-Planjan sepanjang 4,7 kilometer. Total biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan dua ruas ini mencapai Rp378,49 miliar. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman Gunungkidul, Eddy Praptono, mengatakan pembangunan di dua ruas ini dilakukan dengan sistem multiyears. Untuk Jerukwudel-Baran-Duwet jangka waktu pengerjaan selama 30 bulan dengan nilai pembiayaan Rp282,4 miliar dan ruas Planjan-Legundi selama 18 bulan sebesar Rp96,091 miliar. “Jadi total untuk pembiayaan dua ruas ini mencapai Rp378,49 miliar. Ditargetkan pembangunan selesai di 2021,” katanya, belum lama ini.