Bukan Mahasiswa UNY, Ini Penjelasan RSUP Dr Sardjito tentang Warga Jepang yang Dirawat di Ruang Isolasi
Seorang WNA asal Jepang dirawat di RSUP Dr Sardjito, dia datang ke RSUP Dr Sardjito pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 15.00 WIB.
Ilustrasi nyamuk DBD/JIBI
Harianjogja.com, JOGJA—Siklus tahunan tidak bisa lagi dijadikan tolak ukur untuk penanganan kasus demam berdarah dengue (DBD) di DIY. Pasalnya faktor eksternal seperti perubahan cuaca turut memengaruhi kejadian DBD.
"Kalau dilihat di beberapa wilayah di DIY seperti di Kota Jogja dan Kabupaten Gunungkidul, belum waktunya [muncul kejadian DBD] tapi ternyata sudah terjadi kasus DBD yang cukup tinggi," kata Ketua Peneliti World Mosquito Program (WMP), Profesor Adi Utarini kepada Harianjogja.com, Rabu (25/12/2019).
Menurut dokter yang jago bermain musik itu, siklus DBD dalam waktu tiga, empat atau lima tahun tidak bisa dijadikan pegangan dalam penanggulangan penyakit tersebut. Upaya yang dapat dilakukan guna mencegah kasus DBD yaitu pengawasan secara terus menerus. Terutama saat musim hujan.
Pemantauan tidak hanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan (Dinkes) di kabupaten dan kota di DIY, tetapi membutuhkan keterlibatan masyarakat untuk memantau kondisi lingkungan mereka. Tidak hanya itu, kewaspadaan dini juga perlu digalakkan untuk mengawasai jentik-jentik nyamuk.
Hal yang dapat dilakukan masyarakat ialah apabila dalam suatu wilayah sudah ada kasus DBD bisa dijadikan peringatan jika nyamuk Aedes Aegepty ada di sana. "Seharusnya itu sudah cukup untuk dijadikan pengingat [kejadian DBD di suatu wilayah]," katanya.
Persoalan dalam penanggulangan DBD dikatakannya karena telur nyamuk tidak mudah mati. Pada musim kering, telur-telur tersebut mampu bertahan hidup selama enam sampai sembilan bulan.
Ia menyebut pada 2015 dan 2016 lalu merupakan puncak terjadinya DBD di beberapa wilayah di Indonesia.
Adapun mengenai efektivitas kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN), tindakan tersebut menurutnya bisa menjadi cara efektif memberantas nyamuk Aedes Aegepty. Meski demikian, PSN perlu dilakukan secara meluas agar RT atau RW kelurahan lainnya mau ikut aktif melakukan PSN.
Namun PSN saja tidak cukup. Penelitian nyamuk Wolbachia menurutnya menjadi salah satu upaya agar agar angka DBD bisa berkurang. "Yang saya sayangkan itu masih ada yang enggan menjaga kebersihan lingkungan karena menganggap sudah ada nyamuk Wolbachia," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Seorang WNA asal Jepang dirawat di RSUP Dr Sardjito, dia datang ke RSUP Dr Sardjito pada Selasa (3/3/2020) sekitar pukul 15.00 WIB.
BYD Atto 3 generasi ketiga resmi meluncur dengan RWD, cas 5 menit hingga 70 persen, dan jarak tempuh sampai 630 km.
Pemerintah memastikan pemulangan sembilan WNI relawan Gaza usai dibebaskan dari penahanan Israel dan tiba di Turkiye.
Alex Marquez resmi absen di MotoGP Italia dan Hungaria 2026 usai mengalami cedera patah tulang selangka dan vertebra saat balapan di Catalunya.
Cristiano Ronaldo membawa Al Nassr juara Liga Arab Saudi usai mencetak dua gol saat menang 4-1 atas Damac.
Sultan HB X ingin RTH eks Parkir ABA Jogja jadi taman bunga nyaman, bukan hutan kota. Penataan dimulai dengan anggaran 2026.