WFH Tak Harus 50 Persen, Pemda DIY Sesuaikan Kebutuhan OPD
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Siswa SMPN 6 Jogja sedang makan dan minum menggunakan wadah yang dibawa sendiri dari rumah, beberapa waktu lalu. /Ist-Dok Humas Pemkot Jogja
Harianjogja.com, JOGJA-- Penggunaan plastik telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Sifatnya yang ringan dan kuat membuat plastik mudah digunakan. Di sisi lain, sampah plastik mengancam kesehatan dan keseimbangan lingkungan. Sampah plastik membutuhkan ratusan tahun untuk bisa terurai secara alami.
Masyarakat dunia saat ini sedang gencar melakukan pengurangan penggunaan plastik. Tak terkecuali di lingkungan sekolah, seperti yang dilakukan SMPN 6 Jogja, dengan program diet plastik. Melalui program ini, seluruh warga sekolah diimbau untuk mulai mengurangi penggunaan plastik.
Kepala Sekolah SMPN 6 Jogja, Titik Sugiarti, menjelaskan kampanye memerangi sampah plastik harus terus dilakukan mengingat keberadaan sampah plastik masih menjadi momok bagi pemerintah dan rakyat Indonesia. “Sosialisasi diet plastik terhadap siswa merupakan langkah penting. Bagaimana mengenalkan bahaya sampah plastik sejak usia dini,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Terkait dengan kegiatan ini, pihaknya telah membuat kebijakan sekolah terhadap siswa untuk membawa tempat makan dan botol minum atau tumbler dari rumah, guna menghindari penggunaan plastik saat jajan makananan atau minuman di sekolah.
Dengan anjuran siswa membawa tumbler sendiri menjadikan makanan dan minuman yang dikonsumsi anak-anak lebih sehat dan terpilah. “Setidaknya terhindar dari zat pengawet dan bahan kimia lainnya dalam produk industri makanan atau minuman kemasan,” katanya.
Ia mengaku tidak mudah menerapkan program tersebut. Beberapa murid sempat mengaku merasa terbebani. “Awalnya susah, karena siswa sudah terbiasa jajan snack. Namun seiring berjalannya waktu, sekarang sudah biasa, ternyata bisa lebih sehat,” ujarnya.
Menurutnya, masifnya penggunaan plastik dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup yang cenderung lebih memilih hal yang instan dan praktis, sehingga, menyebabkan sampah plastik di kota besar dari tahun ke tahun terus meningkat. Melalui program ini, diharapkan bisa sedikit mengubah gaya hidup masyarakat yang terlalu bergantung pada plastik.
Lurah Cokrodiningratan, Narotama, mengatakan sangat mengapresiasi program diet sampah SMPN 6 Jogja ini. Di Kelurahan Cokrodiningratan, pihaknya juga mengajak masyarakat untuk peduli lingkungan dengan mengelola sampah khususnya sampah rumah tangga.
Ia menuturkan di Cokrodiningratan terdapat 13 kelompok bank Sampah yang berkegiatan memilah dan mengolah sampah menjadi berbagai benda baru yang lebih berguna. Salah satu pengolahan yang dilakukan yakni mengubah sampah organik menjadi briket arang.
Briket arang kata dia merupakan bahan bakar alternatif yang bisa dibuat sendiri dari sampah organik seperti daun dan ranting kering. “Selain dapat digunakan sendiri juga dapat dipasarkan menjadi tambahan ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
WFH ASN Pemda DIY memasuki pekan kedua. Skema fleksibel disesuaikan kebutuhan OPD, disertai kebijakan car free day tiap Jumat.
Kemenhut mendorong hilirisasi 10 komoditas perhutanan sosial melalui pembentukan klaster untuk memperkuat pasar hingga ekspor.
Sleman mengusulkan 87 formasi CPNS kesehatan ke KemenPAN-RB dan menyiapkan rekrutmen 92 pegawai BLUD untuk memenuhi kebutuhan layanan.
Komunitas Ojol Solusi Bantul membagikan paket sembako kepada driver ojol yang sudah tidak bekerja sebagai bentuk solidaritas dan kepedulian.
Foto Messi menggendong bayi Lamine Yamal pada 2007 kini berujung duel di final Piala Dunia 2026 antara Argentina dan Spanyol.
Riset kolaboratif mengungkap budaya Toalean di Sulsel berkembang dari tradisi teknologi batu lokal yang telah bertahan selama 40.000 tahun.