Akibat Pandemi, Anggaran Dispar Bantul Nyaris Habis Dipapras

Wisatawan memadati Pantai Parangtritis, Sabtu (16/6/2018). - Harian Jogja/Herlambang Jati Kusumo
28 April 2020 17:47 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Pergeseran anggaran kegiatan dalam APBD 2020 ini menyasar hampir ke semua organisasi perangkat daerah (OPD), tak terkecuali Dinas Pariwisata (Dispar). Pemangkasan anggaran di OPD yang mengurusi sektor pariwisata ini bahkan sampai lebih dari 50%, yakni dari Rp13 miliar menjadi Rp6,5 miliar.

“Sisa dana itu Rp2 miliar di antaranya untuk membayar pekerja harian lepas, listrik, telkom dan lain-lain. Belanja rutin sampai akhir tahun hanya Rp3,5 miliar,” kata Kepala Dispar Bantul, Kwintarto Heru Prabowo, Selasa (28/4/2020).

Kwintarto mengatakan pemotongan terbanyak hampir terjadi di kegiatan fisik di 11 objek wisata terutama wilayah Imogiri dan Dlingo. Sisanya adalah kegiatan rutin seperti atraksi wisata dan pemeliharaan. Ia berujar sisa dana yang dimiliki saat ini akan digunakan untuk kegiatan pascapandemi Covid-19, salah satunya untuk kegiatan pemulihan atau recovery.

Berbagai desain kegiatan pemulihan wisata nantinya adalah dengan menggelar kegiatan atraksi di tiap objek wisata atau atraksi serentak yang digelar se-Bantul dengan perwakilan tiap pengelola objek wisata.

Dinasnya belum menentukan jenis kegiatannya, namun yang paling memungkinkan adalah festival wisata se-Bantul. Sebab, selain efektif dari sisi waktu juga menghemat anggaran. Menurut Kwintarto pemulihan objek wisata sangat penting untuk mempromosikan kembali objek wisata yang selama ini mati suri, tidak ada pengunjung akibat adanya pandemi.

Meski begitu dinasnya juga belum bisa memprediksi kapan recovery objek wisata dilakukan mengingat masa tanggap darurat Covid-19 masih berlangsung, dan kemungkinan pada Mei mendatang suasananya masih belum berubah seperti bulan ini.“Mei bisa dipastikan objek wisata masih tutup, kami akan perpanjang penutupan karena  melihat tren pandemi masih terjadi. Pembatasan sosial berskala besar di beberapa daerah masih berlaku dan adanya larangan mudik. Ini berpengaruh,” kata Kwintarto.

Lebih lanjut mantan Camat Sewon, Bantul ini mengatakan sektor pariwisata yang paling banyak terdampak dari pandemi. Padahal pariwisata merupakan andalan pendapatan daerah (PAD) Bantul. PAD Pariwisata tahun lalu mencapai Rp31,7 miliar.

Dalam hitungannya, kerugian sampai 23 Maret sudah mencapai Rp11 miliar yang belum ada pengetatan soal pembatasan. April ini dia mempredikasi lebih banyak lagi.

Kerugian itu terhitung dari pembatalan sejumlah kunjungan ke objek wisata dan desa wisata, pembatalan penginapan, hingga pemandu wisata. Belum termasuk sentra kulinernya yang ada di objek wisata.

Khusus dari sisi pendapaan retribusi wisata di objek wisata yang dikelola Dinas Pariwisata potensi yang hilang selama dua bulan ini sekitar 5 miliar dengan penghitungan retribusi rata-rata bulanan pada waktu biasa Rp1,8 miliar sampai Rp2 miliar dan dan pada waktu ramai bisa mencapai Rp3 miliar.

Soal jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bantul dalam sebulan, dia mengaku rata-rata mencapai 800.000 orang atau sekitar sembilan juta orang yang tercatat di semua objek wisata baik yang dikelola Dinas Pariwisata maupun masyarakat.

Akan tetapi jumlah wisatawan tersebut, bisa jadi satu orang berkunjung ke 2-3 objek wisata sehingga angka patokan kunjungan wisatawan ke Bantul yang diperhitungkan sekitar empat jutaan. “Jika jumlah wisatawan rata-rata per bulan 800.000 orang dan tiap orang diasumsikan membelanjakan uangnya Rp50.000 saja sudah sampai Rp40 miliar dalam sebulan, kalau dua bulan sudah berapa? Itu baru kuliner,” ujar Kwintarto.

Dia menyatakan sektor pariwisata sangat tergoncang. Namun demikian pihaknya mengapresiasi kepada semua pengelola objek wisata di Bantul yang memahami kondisi bencana nasional ini. Kegiatan para pengelola wisata, saat ini fokus membersihkan dan menata objek wisata.