Tanggap Darurat Diperpanjang, Begini Nasib Hotel di Jogja Saat Ini

Ilustrasi hotel. - TripAdvisor
26 Juni 2020 19:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Okupansi hotel di wilayah DIY masih stagnan di tengah pandemi Covid-19. Hal tersebut menyusul diperpanjangnya masa tanggap darurat penanganan Covid-19 sesuai keputusan pemerintah provinsi DIY hingga akhir Juli.

Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgah Raharjo mengatakan jika okupansi hotel di wilayah DIY masih berada di kisaran angka 5 sampai dengan 10 persen. Dispar tidak henti-hentinya mendorong agar pelaku bisnis hotel mampu menerapkan protokol pencegahan penularan Covid-19.

"Artinya, masih agak stagnan. Kemarin saya mendapat laporan bahwa masih sekitar 5-10 persen. Dispar juga terus melakukan pemantauan agar hotel mampu mengaplikasikan protokol pencegahan penularan Covid-19. Misalnya, kami juga sudah melakukan simulasi di Hotel Sahid Raya untuk memastikan agar semuanya sudah siap," ujar Singgih, Jumat (26/6/2020).

Namun demikian, Dispar DIY tidak menyangkal jika ada sejumlah hotel yang perlu meningkatkan standar operasional prosedur terkait dengan protokol pencegahan penularan Covid-19. Oleh karena itu, upaya simulasi dilakukan di sejumlah hotel untuk memastikan jika standar protokol pencegahan penularan Covid-19 sudah dilakukan dengan sebagaimana mestinya.

"Hotel yang dilakukan simulasi ada tujuh ditambah tujuh restoran. Walaupun yang mandiri juga banyak. Uji coba secaa terbatas akan dilakukan terlebih dahulu sebelum pembukaan secara total," terang Singgih.

Namun demikian, secara resmi pemerintah kabupaten maupun kota yang akan menyatakan pembukaan hotel maupun objek wisata secara total. Hal tersebut dikarenakan kewenangan pembukaan destinasi wisata ada di tangan pemerintah kabupaten maupun kota. "Kecuali di objek wisata Mangunan ya karena memang itu wewenangnya ada di provinsi," imbuhnya.

Lebih lanjut, animo masyarakat untuk datang ke Jogja sendiri, kata Singgih, belum masif. Pelancong masih ragu-ragu untuk pergi keluar kota di tengah pandemi Covid-19 ini.

"Akhirnya yang berwisata adalah wonge dewe (warga DIY sendiri). Seperti warga Gunungkidul ke Sleman, dan warga Sleman ke Gunungkidul. Animo masyarakat belum terlalu tinggi untuk pergi mengunjungi wisata di DIY karena adanya pandemi Covid-19," ungkap Singgih.