Bulan Depan, Bantul Lakukan Simulasi Pembukaan Sekolah

Ilustrasi. - Freepik
09 September 2020 10:47 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bantul berencana melakukan simulasi pembukaan sekolah di wilayahnya, awal Oktober mendatang.

Simulasi ini, bukanlah untuk kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Tetapi, lebih kepada bentuk konsultasi dalam upaya untuk membantu siswa mengatasi kendala saat menjalani kegiatan belajar mengajar secara daring.

BACA JUGA : DIY Bakal Buka Kembali Belajar Tatap Muka, Ini Kata Sultan

“Hal ini telah kami sampaikan hal ini ke Gugus Tugas Kabupaten Bantul terkait dengan kemungkinan penerapannya,” kata Kepala Disdikpora Bantul Isdarmoko, Rabu (9/9/2020).

Ia mengatakan, adanya penurunan tren dan banyaknya zona hijau dengan risiko penularan rendah di Bantul, menjadi salah satu pertimbangan jawatannya untuk menerapkan simulasi ini. Nantinya sekolah yang berada di zona hijau, akan diperbolehkan membuka kegiatan sepekan sekali.

“Tentunya dengan protokol kesehatan. Tetapi ini bukan untuk pembelajaran tatap muka. Nantinya, sepekan sekali ini dibuka hanya untuk melayani konsultasi dari siswa yang mengalami kesulitan selama menjalani pembelajaran jarak jauh,” terang Isdarmoko.

Menurut dia, dengan tidak adanya pembelajaran tatap muka, maka kemungkinan penularan Covid-19 akan mampu diminimalisasi. Sedangkan bentuk pelayanan konsultasi, dinilai oleh Isdarmoko sangat penting guna membantu siswa yang mengalami kesulitan dalam pembelajaran jarak jauh.

BACA JUGA : Pembukaan Sekolah Tahun Ajaran Baru Juli 2020? Ini

Sebab, selama ini, meski mereka menjalani pembelajaran secara jarak jauh melalui beberapa media dan sarana, tapi sejumlah persoalan masih ditemukan. Tak hanya kurang jelasnya materi yang ditangkap oleh siswa, namun juga kendala teknis berupa sinyal tidak stabil membuat pembelajaran menjadi kendala.

“Untuk itu kami mencoba menjembatani siswa dalam menghadapi kesulitan materi. Ini adalah upaya relaksasi dari kami guna memberikan keleluasaan konsultasi. Nanti bisa dimulai dari kecamatan yang sudah masuk zona hijau,” papar Isdarmoko.

Isdarmoko menambahkan, untuk persoalan kendala sinyal di beberapa wilayahnya, jawatannya telah melakukan beberapa rekayasa. Selain menerapkan pembelajaran daring, Disdikpora juga menerapkan pembelajaran luring. 

BACA JUGA : Nadiem Tegaskan Pembukaan Sekolah Akan Seizin Orang

Salah satunya adalah dengan memaksimalkan guru untuk untuk mendatangi siswa yang bermukim di daerah terpencil dan susah sinyal. Beberapa daerah tersebut di antaranya adalah Pajangan, Dlingo dan beberapa kecamatan lainnya yang letaknya berada di dataran tinggi.

Oleh karena itu, pihaknya sejak awal memang telah memodifikasi bentuk pembelajaran baik secara daring maupun luring. Untuk daerah yang susah sinyal, jawatannya telah meminta kepada sekolah untuk menugaskan sejumlah guru mendatangi kelompok belajar siswa maupun rumah siswa dalam mendampingi proses belajar mengajar.

“Tujuannya agar proses belajar mengajar tetap bisa berjalan. Dan materi bisa dengan mudah ditangkap oleh siswa,” ucap Isdarmoko.