Kehilangan Kaki Kiri, Tarjono Slamet Semangat Tularkan Makna Hidup

Tarjono Slamet - Istimewa
15 September 2020 15:47 WIB Salsabila Annisa Azmi Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Musibah yang menimpa Tarjono Slamet, 47, puluhan tahun silam membuatnya harus kehilangan kaki kiri. Dia pun sempat kehilangan harapan hidup. Seiring berjalannya waktu, semangatnya pun kembali. Bahkan lewat bisnis kecil yang dibangunnya, dia mampu memberdayakan ratusan difabel melalui produk rakitan mereka yang mendunia.

Kedua mata Slamet menerawang membayangkan peristiwa puluhan tahun silam yang mengubah jalan hidupnya 180 derajat. Pada 1990, dia bersama tiga rekan kerjanya di Perusahaan Listrik Negara (PLN) memanjat sebuah trafo yang butuh diperbaiki.

Tiba-tiba bunyi ledakan memekakkan telinganya dan kilat sambaran listrik menyambar seluruh tubuhnya. “Itu adalah saat di mana saya kehilangan kaki kiri saya. Tidak hanya kaki, semua jari tangan saya beku dalam posisi menutup. Strukturnya benar-benar rusak. Sejak saat itu hidup saya berubah drastis,” kata Slamet saat diwawancarai di kediamannya yang terletak di Dusun Gatak, Timbulharjo, Sewon, Bantul, Kamis (6/9/2020).

BACA JUGA: Sultan Jogja Izinkan Kampus DIY Gelar Kuliah Tatap Muka, Ini Syaratnya

Sejak tubuhnya tak lagi utuh, perusahaan menawarkan dia untuk pindah bekerja ke bagian administratif. Akan tetapi Slamet menolak tawaran itu karena dia merasa bekerja di dalam sebuah ruangan dengan tugas administrasi bukan keahliannya. Slamet pun memutuskan keluar dari pekerjaannya di Klaten, Jawa Tengah.

Kehilangan pekerjaan membuat Slamet harus pulang ke kampung halaman di Batang, Jawa Tengah. Kepulangannya disambut simpati.

BACA JUGA: Mahasiswa UIN Jogja Positif Corona Sempat ke Kampus, Fakultas Lockdown 3 Hari

Akan tetapi simpati itu juga dibuntuti oleh stigma yang tak menyenangkan. Beberapa warga menganggap dirinya sudah tidak bisa melakukan apapun karena dia menjadi difabel.

Kala itu semua emosi negatif bercampur dan bergejolak di hati Slamet. Dia sempat bersedih dan marah selama berbulan-bulan karena tidak sanggup menerima musibah yang menimpanya. Stigma negatif dari beberapa warga membuatnya semakin terpuruk. Menurutnya saat-saat itu adalah saat paling kelam dalam hidupnya.

Rasa Syukur

Tetapi dia lantas teringat wajah dua rekannya yang meninggal dunia saat musibah trafo meledak itu terjadi. Dia seakan menerima pesan dari Tuhan bahwa apapun yang terjadi dia harus melanjutkan hidupnya. “Saya merasa masih diberi kesempatan untuk hidup dan saya akan menjalaninya sebaik mungkin,” kata Slamet.

Seluruh anggota keluarga memberinya dukungan moral untuk menjalani program pengembangan keterampilan di Pusat Rehabilitasi Yakkum. Di sana Slamet juga melakukan pemasangan kaki palsu. Sejak saat itu, terowongan kehidupannya yang gelap gulita sedikit demi sedikit mulai menemukan titik terang.

BACA JUGA: Pilkada Bantul: Suharsono Diterpa Kampanye Hitam

Dia mengamati teman-teman difabel yang menurutnya memiliki keadaan jauh lebih parah. Tak ada sedikit pun keluhan keluar dari mulut mereka. Sebaliknya, justru api semangat yang mereka tularkan pada Slamet.

“Di situ hati saya tersentuh. Perlahan saya mulai menerima keadaan saya dan percaya bahwa saya masih punya harapan. Dalam hati saya juga semangat ingin sekali memberdayakan teman-teman difabel,” kata dia.

Awalnya Slamet sempat dipercaya mengelola bisnis milik Pusat Rehabilitasi Yakkkum yang memberdayakan para difabel. Mulai dari produksi kerajinan kayu, kain, hingga kerajinan tangan dia pelajari sedalam-dalamnya.

Titik Balik

Berkat keuletannya, Slamet dikirim ke Auckland, Selandia Baru untuk mengikuti beasiswa kuliah di jurusan Kesejahteraan Sosial. Sepulangnya dari Auckland, pada 2003, ilmu bisnis, pemasaran dan penggalangan dana itu dia gunakan untuk merintis bisnisnya yang bernama CV Mandiri Craft.

Dia mengajak 25 rekan difabel di Yakkum untuk merealisasikan ide bisnis mainan anak. Ada alasan tersendiri mengapa dia memilih berbisnis mainan anak.

Alasan itu tak lepas dari pengalamannya menghadapi stigma negatif masyarakat setelah dia menjadi difabel. Dia ingin generasi muda terbebas dari perilaku tersebut. Cita-citanya adalah menciptakan generasi yang memiliki kualitas kognitif dan emosional yang lebih baik.

“Menurut saya manusia yang baik budinya dan kualitasnya itu ya karena mereka dididik dengan baik sejak masih anak-anak. Dengan mainan yang edukatif itu bisa menjadi sarana mendidik anak agar kelak jadi manusia yang baik dan berkualitas,” kata dia.

BACA JUGA: Syekh Ali Jaber Tak Terima Pelaku Penusukan Dianggap Gila

Mainan anak yang dibuatnya berbahan kayu berkualitas dengan cat antiracun sehingga aman untuk anak-anak. Beberapa mainan yang dibuatnya antara lain puzzle dan balok untuk menyusun bangunan. Sebelum mendesain mainan, Slamet melakukan riset psikologi anak. Dua mainan tersebut dibuat untuk membantu anak melatih kesabaran dan ketelitian.

Seluruh pengrajin mainan edukatif berbahan kayu dari CV Mandiri Craft adalah orang-orang dengan berbagai ragam disabilitas. Mulai dari penyandang disabilitas fisik, penyandang tuli dan netra, hingga penyandang disabilitas intelektual. Slamet mengaku masa jaya bisnis kecilnya pada 2009 tak lepas dari semangat mereka yang begitu tinggi.

“Waktu itu kami jaya sekali. Pekerjaan mereka halus. Sehingga dapat diterima pasar luar negeri. Saya memasukkan produk kami juga melalui jaringan ketika saya berkuliah di luar negeri,” kata Slamet. Kehidupannya dan para pekerja pun berubah menjadi lebih mandiri secara finansial. Sehingga stigma negatif yang mereka dapatkan di lingkungan masing-masing mulai memudar.