Menjajal Bus Wisata Malioboro-Pantai Baron: Bisa Janjian dengan Sopir untuk Menunggu di Pantai

Bus DAMRI trayek Malioboro-Pantai Baron saat tiba di Pantai Baron. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
24 Oktober 2020 06:37 WIB Salsabila Annisa Azmi Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bus wisata Jogja trayek Malioboro-Nglanggeran-Pantai Baron menyediakan layanan ekstra, yakni jasa menunggu pelancong di Pantai Baron maksimal satu jam. Tarifnya pun cukup murah.

Matahari mengintip dari balik awan ketika satu bus Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia (DAMRI) trayek Malioboro-Parangtritis memasuki pelataran Hotel Limaran, Jogja. Kala itu jam dinding yang terpajang di Hotel Limaran menunjukkan pukul 05.30 WIB.

BACA JUGA: Tugu Jogja "Didera" Proyek Infrastruktur, Tenang Wisatawan Tetap Bisa Nongkrong

Para penjaga hotel yang tengah menyapu daun-daun kering mengatakan teras belakang hotel yang dipenuhi sofa cokelat pudar itu kini beralih fungsi jadi ruang tunggu bus wisata.

Tepat pukul 06.00 WIB, Toyota Hiace yang menjadi bus trayek Malioboro-Parangtritis meninggalkan Hotel Limaran.

Bus itu berpapasan dengan kendaraan trayek Malioboro-Nglanggeran-Pantai Baron yang memasuki pelataran hotel.

"Memang selalu tepat waktu busnya. Jadi begitu ada yang datang langsung ada yang pergi," kata para penjaga Hotel Limaran yang masih menyapu pelataran.

BACA JUGA: Rektor UGM Bela Mahasiswanya yang Jadi Korban Doxing Gegara Demo

Bus wisata Malioboro-Nglanggeran-Pantai Baron berkapasitas 16 penumpang. Di bagian jendela tertempel stiker bertuliskan tarif Rp20.000 untuk sekali keberangkatan. Tarif pulang pergi cukup Rp40.000.

Dengan sigap kondektur bus turun dan segera membukakan pintu sambil mengucap selamat datang. "Saya Niken," ujar wanita berkerudung hitam itu.

Di dalam bus, pengemudi yang berbusana kemeja biru motif dengan ramah memperkenalkan namanya sebagai Bastoni. Mereka berdua mengaku masih muda, usia mereka baru kepala dua.

Hari itu saya adalah satu-satunya penumpang. Bersama dengan Niken dan Bastoni, saya ber-selfie menggunakan ponsel Niken. Foto itu kemudian dikirim ke Whatsapp Kantor DAMRI DIY sebagai laporan keberangkatan.

BACA JUGA: Aktivis Lingkungan Sebut Pemberian Nama Jokowi Pada Jalan di UEA Terkait Bisnis Lahan di Kalimantan

Kami berangkat dari Hotel Limaran pukul 06.00 WIB. Hiace sempat berhenti di Hotel Inna Garuda Malioboro untuk menunggu penumpang lain.

Meski tak ada satu pun penumpang yang ada di sana, Bastoni tetap mematuhi peraturan untuk menunggu penumpang hingga 10 menit. "Bahkan ketika tidak ada penumpang sama sekali, bus wisata tetap beroperasi."

Setelah itu, Hiace melaju dengan lancar di sepanjang Malioboro hingga memasuki Jalan Wonosari. Laju kendaraan jauh dari kata ugal-ugalan. Terlihat jelas di speedometer, Bastoni tak pernah melebihi kecepatan 60 kilometer per jam.

BACA JUGA: Begini Rasanya Naik Bus Malioboro-Parangtritis: Perjalanan 1,5 Jam Tak Terasa

Di sepanjang Jalan Wonosari, tiap perempatan lampu merah, Bastoni membuka jendela dan menawarkan orang-orang di pinggir jalan untuk ikut naik bus wisata.

"Soalnya bisa ngangkut penumpang di pinggir jalan. Kali saja ada yang mau wisata itu orang-orang. Sekalian memperkenalkan," kata dia.

Kabin bus pun bersih dan rapi. Tiap kursi dilapisi kulit sintetis berwarna oranye dan cokelat. Ruang untuk kaki penumpang cukup luas hingga dapat setengah berselonjor. Jika baterai ponsel perlu diisi, tersedia colokan listrik di bawah tempat duduk penumpang dan di dekat kemudi bus.

BACA JUGA: KABAR WISATA: Bukit Paralayang, Tempat Romantis untuk Berlibur

Bus melaju dengan kecepatan sedang hingga bus memasuki area wisata Nglanggeran. Jalanan yang dilalui lumayan sempit, diapit pohon jati di kiri kanan. Terkadang mata juga dimanjakan oleh hamparan terasiring sawah dengan rumah penduduk di tepi jalan. Masih ada halimun tipis menyelimuti udara pagi itu.

Bus berheti sebentar di Situs Geologi Nglanggeran untuk menunggu penumpang selama 10 menit. Lagi-lagi tak ada penumpang lain datang. Setelah itu kami meneruskan perjalanan langsung ke Pantai Baron melalui Jalan Baron yang dikelilingi tebing-tebing kapur.

Tepat pukul 08.30 WIB, bus sudah sampai di gerbang retribusi Pantai Baron. Butuh biaya Rp10.000 untuk masuk ke Pantai Baron. Bastoni menghentikan kendaraan di ikon selfie Pantai Baron. "Biasanya memang berhenti di sini untuk mempersilakan penumpang berfoto," kata dia.

BACA JUGA: Malioboro Akan Bebas Kendaraan Selama 2 Pekan

Bastoni dan Niken kemudian mengajak bertukar nomor Whatsapp. Saya dipersilakan jalan-jalan di Pantai Baron maksimal satu jam. Setelah merasa cukup, saya kembali ke bus dan menunggu selama 30 menit sebelum bus lain dengan trayek sama datang ke Pantai Baron.

"Nomor Whatsapp kami juga bisa buat janjian mau dijemput kapan. Kalau mau jalan-jalan lebih lama, kami tinggal dulu, nanti kami jemput jam 14.00 WIB. Bus terakhir dengan trayek sama datang pukul 16.00 WIB," kata Bastoni.

Bahkan penumpang bisa mengirim pesan Whatsapp untuk memastikan posisi bus yang akan menjemput mereka di Pantai Baron.

BACA JUGA: Bus Wisata Malioboro-Parangtritis, Malioboro-Baron, & YIA-Baron Beroperasi, Ini Tarifnya

Sepulang dari Pantai Baron, bus mendapat penumpang tambahan, takni sekumpulan pemuda pemudi yang menjadi vlogger. Mereka mencoba bus wisata Jogja karena menurut mereka itu sudah mulai hits di kalangan anak muda. Selama di perjalanan mereka merencanakan perjalanan selanjutnya dengan trayek Malioboro-YIA.

Mereka adalah penduduk Nglanggeran. Bus wisata menurunkan mereka tepat di depan rumah mereka masing-masing. "Bisa angkut penumpang di pinggir jalan, bisa juga turunkan penumpang di depan rumah mereka selama masih dalam trayek," kata Bastoni.

Bus kembali ke Hotel Limaran tepat pada pukul 17.00 WIB. Sebelum pulang, Niken dan Bastoni memberitahu bahwa mereka selalu dalam trayek yang sama. Jika ingin naik bus bersama mereka lagi, mereka minta dikirimi pesan singkat Whatsapp.