Bertahun-tahun Sulit Dapat Listrik, Petani di Pesisir Kulonprogo Kini Andalkan Panel Surya

Pemasangan panel surya di sebuah bangunan rumah di area persawahan Kalurahan Karangsewu, Kapanewon Galur, Minggu (8/11/2020). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
09 November 2020 17:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Komunitas peduli lingkungan yang bergabung dalam Koalisi Keberagaman memberikan seperangkat panel surya dan pompa air listrik kepada petani pengolah lahan pantai di Kalurahan Karangsewu, Kapanewon Galur, Kulonprogo.

Panel surya yang merupakan bagian dari pilot project energi terbarukan itu untuk memudahkan para petani memperoleh fasilitas listrik untuk menghidupkan pompa air guna mengairi lahan persawahan mereka.

BACA JUGA: Kisruh Rumah Subsidi di Bantul, Ratusan Konsumen Tempuh Jalur Hukum

Selama ini, petani yang tergabung dalam Paguyuban Petani Pengolah Lahan Pantai Kulonprogo (PPLP-KP) di Karangsewu, kesulitan memperoleh fasilitas listrik dari PLN karena lokasi pertanian mereka merupakan kawasan kontrak karya penambangan pasir besi. 

Ketiadaan listrik itu memaksa petani mengandalkan pompa air berbahan bakar bensin. Biaya untuk keperluan itu jauh lebih besar jika dibandingkan dengan pengeluaran menggunakan pompa air listrik.

"Dari situlah Koalisi Keberagaman lantas mengadakan pertemuan dan disepakati untuk membantu penyediaan listrik untuk para petani di sini dari energi bersih lewat pemasangan panel surya ini," kata Koordinator Lapangan Koalisi Keberagaman Azka Wafi El Hakim di sela-sela pemasangan panel surya di area persawahan di Karangsewu, Galur, Minggu (8/11/2020).

Alat yang diberikan kepada salah petani, Tukijo, itu meliputi enam keping panel surya jenis mono kristalin berkapasitas 1.320 WP. Satu kepingnya berdaya sekitar 220 WP, empat buah baterai 100 ampere dengan kekuatan 4.800 watt dan pompa rakitan jenis surface atau pompa permukaan. Pompa jenis surface dipakai karena kedalaman tanah di lokasi tersebut bisa mendapatkan air cukup dangkal. Hanya sekitar empat sampai dengan delapan meter.

BACA JUGA: Uang Atlet e-Sport Rp20 Miliar di Maybank Raib, Hotman Paris Ungkap Keanehan

Hafiz Riza, teknisi yang terlibat dalam aksi sosial tersebut, menjelaskan sistem kerja ini tidak terlalu rumit. Untuk mendapatkan listrik, panel surya yang dipasang di atap gubuk di area persawahan akan menyerap sinar Matahari. Dari situ akan terkumpul energi listrik yang kemudian disimpan ke dalam baterai. Setelah itu listrik yang dihasilkan akan disalurkan melalui kabel ke mesin pompa.

"Satu panel surya itu bisa menghidupkan dua mesin pompa. Panel ini menghasilkan kekuatan hingga 1.320 Watt jika dihidupkan selama empat sampai lima jam penyinaran. Nah tenaga listrik yang diperoleh panel bisa disimpan ke dalam baterai lalu bisa menghidupkan pompa selama 24 jam penuh. Selama digunakan pompa yang tersambung alat ini tidak menimbulkan polusi udara serta kebisingan," ujarnya. Hafiz menjelaskan alat ini merupakan prototipe yang ke depan masih akan dikembangkan. Adapun seperangkat alat ini harganya mencapai sekiotar Rp25 juta. "Ke depan kami ingin ciptakan pompa yang lebih kecil dan simple tapi tenaganya sama dengan pompa pada umumnya," ujar Hafiz.

Hafiz mengklaim perangkat ini bakal meringankan beban petani di Karangasewu perihal pengeluaran biaya operasional. Petani di Karangsewu selama ini mengeluarkan biaya yang cukup besar untuk membeli bahan bakar guna menghidupkan pompa air. Berdasarkan informasi yang dikumpulkan timnya dari para petani di sana, rata-rata pengeluaran untuk keperluan pengairan bisa lebih dari Rp1 juta.

"Biaya itu meliputi pembelian bahan bakar yang dalam sebulan bisa Rp 450.000. Jika sampai panen selama 60 hari maka pengeluarannya dapat menembus angka Rp1 juta per bulan. Nah jika mereka beralih menggunakan pompa ini [tenaga matahari] pengeluarannya bisa ditekan lebih banyak," ujarnya. 

Hafiz berharap ke depan seluruh perani di Karangsewu bisa menggunakan piranti ini untuk membantu pengairan lahan persawahan mereka, sehingga tidak diberatkan lagi dengan biaya bahan bakar yang juga mengakibatkan polusi udara dan suara.

BACA JUGA: Sapi Warga Lereng Merapi Mulai Diungsikan

Tukijo, pemilik lahan persawahan yang kini telah dialiri air dari pompa listrik energi matahari itu mengaku sangat terbantu dengan adanya piranti ini. "Yang pasti kami sangat terbantu dengan adanya alat ini karena bisa meminimalisir biaya pengeluaran untuk pengairan," kata Tukijo.

Tukijo mengelola lahan pertanian pesisir seluas 5.000 meter persegi. Selama ini ia mengairi lahan tersebut menggunakan pompa air berbahan bakar elpiji. Hal itu ia lakukan untuk mengirit biaya pengeluaran yang lebih besar jika menggunakan bensin ataupun solar. "Saya akali pakai elpiji, karena biayanya lebih murah," ucapnya.

Tukijo mengatakan biaya operasional pompa air menggunakan listrik sejatinya jauh lebih murah. Oleh karena itu, pada 2018 silam, para petani di sana telah mengajukan mengajukan permohonan pemasangan listrik di lahan pertanian mereka kepada PLN Kulonprogo. Namun permohonan itu tidak ada tindak lanjut hingga saat ini. Menurutnya ketidakjelasan itu berkaitan dengan digunakannya lahan pesisir di sana sebagi lokasi rencana penambangan pasir besi.

"Sekarang kami sangat terbantu dengan adanya panel surya ini, sebagai pengganti akses listrik dari PLN," ucapnya.