Ada Pendakian ke Bibir Kawah saat Merapi Siaga, Ini Respons BPPTKG

Penampakan salah satu sungai di sekitar Gunung Merapi, dalam pemantauan dari udara BPPTKG dan BPBD DIY, Kamis (26/11 - 2020)./Ist Humas Pemda DIY.
29 November 2020 08:47 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Jagat maya dikagetkan oleh unggahan video terkini kondisi kawah Merapi dari hasil pendakian saat berstatus siaga. Merespons video tersebut BPPTKG memastikan pendakian ke puncak Merapi untuk penggambilan gambar sudah tidak diperlukan lagi karena teknologi saat ini sudah memadai.

Beredarnya video tersebut diunggah pertama kali oleh akun @laharbara pada Jumat (27/11/2020). Video tersebut menggambar kondisi kawah puncak Merapi terkini.

BACA JUGA : Rabu Pagi, Terjadi 3 Kali Guguran Material Vulkanik Merapi

“Bayangkan jika kamu yang berada disini, berada 50 meter dari guguran lava, berada sejengkal dari kematian. Batu-batu sebesar gedung berguguran, berjatuhan, tercerai berai. Suaranya melebihi dentum meriam / suara pesawat. Semua ini saya lakukan agar masyarakat lereng merapi paham tentang bahaya merapi, biar selalu waspada. Selalu mengikuti anjuran pihak2 yang terkait.. Merapi, 27-11-2020,” tulis akun @laharbara.

Kepala Seksi Gunung Merapi Agus Budi Santoso merespons adanya pihak yang melakukan pendakian ke Puncak Merapi. Menurutnya misi ke puncak untuk saat ini tidak diperlukan karena sangat berbahaya. “Metode visual kami sudah cukup memadai sehingga tidak diperlukan misi ke puncak yang itu sangat berbahaya,” katanya melalui akun Youtube @BPPTKG Channel dalam Siaran Informasi BPPTKG yang dipantau Harianjogja.com, Minggu (29/11/2020).

Agus Budi menyatakan kejadian pendakian ke puncak tersebut tidak bisa dibenarkan karena dapat membahayakan diri sendiri mengingat kondisi tebing kawah saat ini tidak stabil. Pihaknya sudah mengingatkan masyarakat agar tetap waspada melalui penyebaran video guguran lava 1954 yang volumenya cukup besar.

BACA JUGA : Sebagian Warga Lereng Merapi Memilih Bertahan

“Kejadian kemarin ada teman kita yang mendaki ke puncak itu tidak bisa dibenarkan karena dapat membahayakan diri sendiri, kita tahu dari data pemantauan yang ada kondisi tebing kawah tidak stabil. Beberapa waktu lalu bahkan beredar video yang sengaja kita informasikan kejadian guguran di lava 1954, ini sangat luar biasa volume besar dan merubah morfologi puncak,” katanya.

Ia tidak bisa membayangkan jika berada di puncak dalam kondisi terjadi guguran, sehingga dalam misi mitigasi sekalipun tindakan itu tidak dibenarkan.

BACA JUGA : 139 Ternak di Lereng Merapi Telah Diungsikan

“Kita bisa bayangkan jika kita berada di situ, maka itulah kondisi yang sangat berbahaya, sehingga kami sangat tidak menyarankan misi apa pun meski pun itu alasan mitigasi ke puncak gunung Merapi,” katanya.