Kemataraman Diusulkan Masuk Pelajaran Mulok Sekolah

Diskusi tentang peringatan 75 Tahun Jogja Kota Republik. - @Youtube.
07 Januari 2021 14:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pelajaran tentang kemataraman diusulkan untuk bisa masuk ke muatan lokal sekolah untuk meningkatkan pemahaman sejarah tentang Jogja terutama pada generasi muda. Saat ini masih banyak masyarakat yang tidak memahami sejarah Jogja.

Penghageng Kawedanan Hageng Punakawan Parwabudaya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat GKR Mangkubumi mengatakan masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan terkait beragam peristiwa sejarah Jogja untuk disampaikan kepada masyarakat. Oleh karena itu sosialisasi dan edukasi tentang sejarah Jogja yang belum banyak diketahui harus disampaikan kepada masyarakat terutama di sekolah.

BACA JUGA : Pendidikan Karakter Kemataraman akan Diajarkan sejak TK

“Memang masyarakat banyak tinggal di Jogja, tetapi sejarahnya mereka masih banyak yang belum paham. Ini PR kita semua, untuk bagamana sejarah [tentang Jogja] ini bisa sampai ke masyarakat,  sampai ke paling ujung dan kalau usia itu sampai pada usia terkecil itu bisa mengetahui sejarah Jogja sesuai dengan porsinya,”jelasnya di sela-sela peringatan 75 Tahun Jogja Kota Republik, Senin (4/1/2021) malam.

Gusti Mangkubumi menilai jika masyarakat mengetahui secara detail sejarah tentang Jogja maka akan tumbuh rasa memiliki dan menjaganya dengan baik. Karena hanya masyarakat yang mampu menjaga serta membangun Jogja dan Indonesia pada umumnya.

“Karena kalau kita tahu sejarahnya pasti kita ngeman, pasti menjaga. Sekarang Jogja menjadi seperti ini karena sejarahnya, mereka banyak yang belum paham,” ujar putri pertama Raja Kraton Ngayogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono X ini.

Ia menilai kewajiban membumikan sejarah Jogja itu tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah namun juga seluruh elemen masyarakat. Sehingga harus bersama-sama sesuai tupoksinya masing-masing agar mengumandangkan sejarah perjuangan serta nilai yang sudah dihasilkan oleh pendahulu bangsa. Terkait sejarah Jogja ini, pihaknya pernah mengusulkan ke Disdikpora DIY agar pelajaran kemataraman masuk dalam mulok sekolah.

“Saya pernah usulkan beberapa bulan lalu pelajaran kemataraman masuk ke dalam mulok, anak TK pun harus mulai belajar sejarah sampai di tingkat mahasiswa, jadi lulus mahasiswa mereka sudah paham tentang Yogyakarta,” katanya.

BACA JUGA : Siswa di Kulonprogo Bakal Diajarkan Memanah di Sekolah

Ia menyadari untuk bisa masuk ke dalam materi pelajaran bukan perkara mudah tetapi butuh media seperti buku paket dan sejenisnya sehingga membutuhkan narasumber yang valid.

“Tetapi kurikulum itu kan ada proses ya, mudah-mudahan sih, kata Pak Didik [Kepala Disdikpora] sudah dimulai cuma porsinya memang masih sedikit karena narasumbernya memang perlu agak banyak. Kami terus mengumpulkan narasumber, karena narasumber kan tidak bisa cerita tentang sejarah dari katanya, semua harus berbasis dari dokumentasi yang ada,” ucapnya.

Paniradya Pati DIY Aris Eko Nugroho menilai sebagai lembaga yang menangani kestimewaan DIY pihaknya menyambut baik usulan tersebut. Karena banyak sekali sejarah tentang Jogja maka harus dilakukan penyederhanaan atau pemilihan materi mana saja yang diberikan kepada anak sekolah.

“Harus ada pemilahan, misalnya konsentrasi mulok tentang sejarah ini berapa, kemudian dari pusat arahannya seperti apa lalu digabung dengan arahan dari Disdikpora DIY. Karena sejarah itu harus ada yang mengkaji, dari hasil kajian lalu disepakati untuk menjadi materi sejarah,” katanya. 

BACA JUGA : Pejabat Harus Terapkan Pendidikan Karakter

Koordinator Sekber Keistimewaan DIY Widihasto Wasana Putra menyatakan sebagai salah satu media yang bisa diakses masyarakat pihaknya bersama Paniradya Kaistimewaan DIY merilis film dokumenter Yogya Kota Republik. “Film ini untuk mengedukasi masyarakat terutama dari kalangan generasi muda agar mengetahui sejarah tentang Jogja,” katanya.