Kubah Lava Baru Gunung Merapi Terbentuk

Gunung Merapi mengeluarkan lava pijar yang terlihat dari Tunggularum, Wonokerto, Turi, Sleman, DIY, Rabu (7/1/2021). - ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
09 Januari 2021 07:47 WIB Lugas Subarkah Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kubah lava baru terbentuk di Gunung Merapi. Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Hanik Humaida menjelaskan kubah lava baru itu muncul pada 4 Januari 2021 lalu.

"[Terbentuk] Sejak 4 Januari. Jadi per tanggal 4 Januari 2021, Merapi sudah ada magma baru yang muncul di permukaan ditandai dengan adanya lava pijar dan guguran," kata Hanik Humaida di Ruang Command Center Pusaka Gemila Kompleks Setda Kabupaten Magelang, Jumat (8/1).

Hanik menerangkan posisi kubah lava baru ini berupa gundukan kecil di atas Lava 1997. Kemudian teramati pada Kamis (7/1) muncul awan panas.

"Tanggal 7 [Januari] kemarin sudah ada awan panas. Nah posisi kubah lava yang baru ini gundukan karena kecil itu ada di atas Lava 1997. Tapi ada indikasi di tengah kawah itu juga ada satu yang tanggal 31 Desember ada inflasi yang sangat kuat di situ ada indikasi juga adanya kubah lava. Namun demikian sampai sekarang kami masih menunggu perkembangannya secara terus-menerus," ujar Hanik.

Hanik menjelaskan kubah baru ini kini sedang intens mengeluarkan lava pijar. "Ya jelas yang di atas [Lava] 1997 itulah yang lebih intens terjadinya pusat keluarnya magma menjadi yang sekarang sudah menjadi lava pijar dan juga kemarin ada awan panas," ujarnya.

Meski teramati pada 31 Desember 2020 ada inflasi magma, Hanik menegaskan hanya ada satu kubah lava yang terbentuk, yakni pada 4 Januari 2021. Ia menerangkan kubah baru ini merupakan satu kesatuan. "Sekali lagi saya sampaikan jangan terus diinikan dua kubah lava lho ya. Sebenarnya, ini satu kesatuan. Kalau kita lihat itu kan ada cracking [rekahan] di situ. Tadinya ada di tengah, lalu aktifnya ada di ujung. Itu bukan dua kubah, tapi saya kira itu adalah satu kesatuan saja, tapi yang lebih intens sekarang adalah munculnya di tebing," ujarnya.

Dalam sepekan terakhir, Gunung Merapi telah meluncurkan setidaknya 19 kali guguran lava pijar dan empat kali awan panas. Aktivitas kegempaan juga meningkat dibanding pekan sebelumnya dan telah terjadi perubahan morfologi area puncak.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menyatakan ancaman lahar hujan belum membahayakan keselamatan warga. Sabo dam yang berada di Kali Boyong dan Kali Krasak masih mampu menampung material Gunung Merapi.

Kepala BPBD Sleman, Joko Supriyanto, mengatakan ancaman lahar hujan masih bisa diantisipasi oleh kehadiran sabo dam yang berada di sejumlah kali yang berhulu di kaki Gunung Merapi. "Material di atas itu kan tidak terlalu banyak, setiap kali juga ada sabo dam-nya. Sabo itu kan fungsinya untuk membentengi material lahar hujan, jadi ancaman lahar hujan belum mengkhawatirkan," ujar Joko.

Sementara itu, Kepala Seksi Mitigasi Bencana BPBD Sleman Joko Lelono mengatakan sampai saat ini belum terpantau ada aliran lahar hujan lagi yang menuju ke sejumlah kali yang berhulu di kaki Gunung Merapi.

BPBD memantau menggunakan CCTV yang berada di Turgo dan Kemiri. "Walaupun, beberapa kali di puncak terjadi lelehan lava pijar di jarak dua kilometer, kalau hujan berpotensi akan masuk lagi material ke Kali Boyong. Untuk pemukiman di sepanjang Kali Boyong masih aman. Karena di utara Turgo itu tebingnya tinggi. Jadi, kalau ada material banjir lahar hujan setinggi dua meter ya masih aman," ujar Joko.

Lava pijar juga diakui Joko Lelono berpotensi masuk ke Kali Krasak selain di Kali Boyong. Potensi lahar hujan di aliran Kali Krasak, lanjut Joko, tidak akan berdampak kepada kawasan permukiman di aliran Kali Krasak. Artinya, permukiman masih dalam kategori aman. "Kali Krasak pemukiman paling atas di Tunggularum juga masih aman karena belum ada aliran di sana," katanya.

Terkait dengan evakuasi warga, Joko menambahkan BPBD belum akan meminta warga mengungsi dalam waktu dekat. Pasalnya, skala ancaman bahaya Gunung Merapi dari BPPTKG masih berada dalam radius lima kilometer.

Joko mengatakan dua desa di Kecamatan Turi, yakni Girikerto dan Wonokerto berada dalam radius lebih dari lima kilometer dari puncak Gunung Merapi.

"Rekomendasi BPPTKG kan lima kilometer, sedangkan penduduk [Girikerto dan Wonokerto] ini kan lebih dari tujuh kilometer. Sehingga masih jauh, jadi tidak ada instruksi warga untuk turun," ujar Joko.

Upaya evakuasi akan dilakukan oleh BPBD Kabupaten Sleman jika memang skala ancaman bahaya Gunung Merapi mengalami perubahan dari BPPTKG.

Camat Turi, Subagyo, mengatakan tiga barak pengungsian disiapkan bagi warga untuk mengungsi jika ancaman bahaya Gunung Merapi meningkat. "Barak pengungsian ada tiga Girikerto ada dua barak pengungsian, sedangkan di Wonokerto ada satu barak pengungsian. Tidak hanya barak pengungsian, kami juga siapkan sejumlah sekolah sebagai barak pengungsian jika seandainya nanti harus dilakukan evakuasi," kata Subagyo.