PPKM Mikro di Kulonprogo Belum Efektif, Ini Sebabnya

Ilustrasi. - Freepik
21 Februari 2021 19:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berbasis mikro di Kulonprogo dinilai belum efektif karena masih muncul klaster penularan Covid-19.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo, Fajar Gegana, mengatakan diberlakukannya PPKM berbasis mikro sebenarnya ditujukan untuk mencegah penularan Covid-19 bahkan hingga menjadi klaster.

BACA JUGA: Ganti Rugi Tol Jogja-Solo Sudah Dibayarkan Nyaris Rp1 Triliun

"Jadi, fungsi dari PPKM mikro mengacu hal-hal seperti ini [pencegahan terjadinya klaster penularan Covid-19]. Kemarin [pekan sebelumnya] kan penerapan PPKM mikro belum efektif sehingga terjadi kejadian ini [klaster Jangkaran]. Kami mengimbau kepada lurah secara ketugasan ada sebuah pendampingan maupun edukasi kepada masyarakat melalui posko PPKM mikro di tiap kalurahan," ujar Fajar Gegana Minggu (21/2/2021).

Klaster Jangkaran terjadi di tempat ibadah tepatnya di Kalurahan Jangkaran, Kapanewon Temon, Kulonprogo. Terhitung 69 orang tertular Covid-19.

Fajar menjelaskan sebanyak 88 posko Covid-19 yang ada di Kulonprogo diharapkan melakukan pemantauan kegiatan masyarakat selama PPKM berbasis mikro. Upaya pendampingan dan edukasi dari kalurahan harus mampu meningkatkan kesadaran masyarakat agar senantiasa disiplin menerapkan protokol kesehatan (prokes) pencegahan persebaran Covid-19.

"Semua kegiatan masyarakat berdasarkan zonasi. Zona yang tidak membolehkan adanya kegiatan kan zona oranye dan merah, [di zona] itu sudah enggak boleh ada kegiatan [masyarakat],” katanya.

Ia menambahkan untuk zona hijau dan kuning masih boleh ada kegiatan masyarakat tetapi harus terpantau. “Kami harus memastikan upaya itu dilakukan. Kalau tidak ada pengawasan dari kalurahan ya kami kesulitan juga," kata Fajar.

BACA JUGA: Update Covid-19 DIY : Bantul Sumbang Kasus Baru Terbanyak, Sleman Kasus Sembuh Tertinggi

Menurut Fajar, upaya pemantauan yang dilakukan tiap posko PPKM berbasis mikro yang ada di Kulonprogo diharapkan untuk dilakukan selama 24 jam. Pasalnya, penularan Covid-19 di Kulonprogo berada di lingkup masyarakat dan bahkan keluarga.

"Tujuannya posko saat PPKM mikro itu kan harus siaga 24 jam. [Sebaiknya] secara 24 jam juga melakukan pemantauan kegiatan di masyarakat. Misal ada pengajian harusnya ada tim khusus dari posko kalurahan untuk mendampingi dan mengedukasi masyarakat," kata Fajar.

Edukasi kepada masyarakat termasuk di antaranya tidak bersalaman dan memperhatikan jarak. “Kasus Covid-19 berada di lingkungan masyarakat dan keluarga. Ini yang paling bahaya kalau tidak diperhatikan nanti secara ketugasan dari pihak kalurahan misalnya. Ya, nanti PPKM mikro ini tidak akan berjalan efektif," kata Fajar.

Sebelumnya Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo Baning Rahayujati mengatakan upaya pelacakan kontak erat terus dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Kulonprogo terkait dengan penambahan kasus Covid-19 dari klaster kegiatan ibadah di Jangkaran. "Totalnya menjadi 69 kasus positif Covid-19 di klaster Jangkaran. Begitu ada positif kan kemudian dilanjutkan penelurusan kontak erat [contact tracing]," ujarnya.

Penularan Covid-19 dari jemaah klaster Jangkaran sudah meluas sampai dengan level keluarga. Berdasarkan catatan Baning, terdapat lebih dari 10 pasien Covid-19 dari klaster Jangkaran yang telah menulari keluarganya.