Klaster Hajatan di Kulonprogo Diperparah dengan Kegiatan Kerja Bakti Warga

Foto ilustrasi. - Ist/Freepik
09 Maret 2021 10:47 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO- Kasus Covid-19 klaster hajatan di Kulonprogo diperparah dengan kegiatan kerja bakti yang dilakukan warga. Kasus ini terjadi di wilayah Kalurahan Bojong, Kapanewon Panjatan, Kulonprogo.

Juru Bicara Penanganan Covid-19 Kabupaten Kulonprogo, Baning Rahayujati mengatakan setelah hajatan nikah yang dilakukan pada tanggal 17 Februari 2021, warga baik dari padukuhan 10 dan 9 di Kalurahan Bojong, Kapanewon Panjatan, Kulonprogo, kembali beraktivitas dengan mengumpulkan massa yang cukup banyak. Yakni, kegiatan kerja bakti pada tanggal 27 Februari 2021.

"Ditambah tanggal 27 Februari 2021 ada kegiatan bersama lagi di wilayah tersebut yakni kerja bakti di padukuhan 10. Kebetulan, warga dari padukuhan 9 juga ikut membantu. Setelah kegiatan kerja bakti ada kegiatan makan bersama. Informasinya ada yang tidak memakai masker. Nah, ibu-ibu juga sebelumnya ikut memasak untuk diberikan kepada warga yang kerja bakti," kata Baning, Selasa (9/3/2021).

Berawal dari Hajatan

Klaster penularan Covid-19 tersebut diduga berawal dari kegiatan hajatan yang dilakukan oleh warga. Diduga, dalam pelaksanaan hajatan tersebut, warga tidak menerapkan protokol pencegahan penularan Covid-19 secara ketat.

Baning mengatakan berdasarkan catatan dari gugus tugas penanganan Covid-19 Kabupaten Kulonprogo, total sebanyak 12 orang dinyatakan positif Covid-19 dari klaster hajatan di Kalurahan Bojong, Kapanewon Panjatan, Kulonprogo.

"Ada kasus yang cukup banyak di Kalurahan Bojong, Kapanewon Panjatan, Kulonprogo. Diduga, awalnya dari kegiatan rewang hajatan nikah. Kemudian, ada yang sakit namun ikut membantu dalam hajatan tersebut pada tanggal 17 Februari 2021 lalu," ujar Baning saat dikonfirmasi pada Selasa (9/3/2021).

Dari 12 kasus positif Covid-19 pertama di klaster hajatan di Kalurahan Bojong, Kapanewon Panjatan, Kulonprogo, diketahui satu orang memiliki warung kelontong. Artinya, satu pasien positif Covid-19 sudah melakukan interaksi dengan sejumlah orang yang jumlahnya tidak sedikit.

"Sehingga kontak dengan orang lain cukup banyak ya. Tanggal 26 Februari 2021, warung tersebut kedatangan juga pemasok dari warga yang berasal dari Solo. Kita belum tahu ya hubungannya seperti apa. Tetapi, pemilik warung tersebut sebelumnya sudah merasakan gejala," jelas Baning.