Dampingi Kalurahan, Laboratorium IP UMY Ungkap Tingginya Minat Anak Milenial Jadi Pamong

Seleksi pengisian Pamong Kalurahan Kalitirto, Berbah, Sleman. - Ist/UMY.
27 Mei 2021 14:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Laboratorium Ilmu Pemerintah (IP) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menemukan data menarik terkait meningkatnya minat anak milenial menjadi pamong desa atau kalurahan. Hal itu terungkap saat Laboratorium IP UMY melakukan pendampingan terhadap desa di DIY dalam melakukan perekrutan pamong pada 17 desa di DIY. Terakhir IP UMY melakukan seleksi terhadap calon Pamong Kalurahan Kalitirto, Berbah, Sleman pada Rabu (26/5/2021).

Koordinator Laboratorium IP UMY Sakir Ridho Wijaya menjelaskan seleksi itu mengacu pada Perda Sleman No.10/2019, bahwa kampus selaku pihak independen memiliki empat kewenangan dalam hal ini seleksi tulis, ujian ketrampilan (komputer, pidato dan memimpin rapat), tes psikologi dan wawancara. Dengan demikian seleksi pamong lebih terbuka dan bisa dipertanggungjawabkan, berbeda dengan era sebelumnya.

BACA JUGA : Ribuan Staf Pamong Desa Geruduk DPRD DIY

“Karena sudah diatur dalam Perda bahwa harus bekerja sama dengan kampus yang terakreditasi minimal B, kampus berkewenangan memberikan nilai, seperti bagaimana ujian ketrampilannya, kalau kami di Lab IP menggunakan standar pidato Bahasa Jawa, seleksi tulis seputar pemerintahan desa,” katanya.

Ia menambahkan pendampingan seleksi calon Pamong Kalurahan Kalitirto ini merupakan yang ke-17 kalinya dilakukan IP UMY terutama di Sleman, Bantul dan Kulonprogo. Adapun formasi yang diseleksi antara lain Carik, Kamituwo masing-masing satu orang kebutuhan dan empat formasi dukuh.

Menurutnya dari belasan kali melakukan seleksi sebagian besar didominasi anak muda atau lazim disebut kalangan milenial. Selain itu sekitar 60% pendaftar merupakan sarjana bahkana da yang S-2.

BACA JUGA : 36 Orang Terpapar Corona dari Klaster Hajatan

“Pengalaman kami sejak 2016 mendampingi kalurahan di DIY rata-rata anak muda, usia antara 20 tahun sampai 30 tahun, lebih dari 60 persen pendaftar usia muda,” ujarnya.

IP UMY melakukan analisis, kata dia, penyebab tingginya minat milenial tersebut karena saat ini Pamong diberikan penghasilan tetap dengan rata-rata nyaris setara PNS dan dipastikan di atas UMR. Selain itu mereka masih mendapatkan tanah atau pelungguh yang juga bisa dimanfaatkan.

“Misalnya dukuh, itu gajinya sekitar Rp2,2 juta masih mendapatkan tanah untuk bisa dimanfaatkan, sampai dia pensiun, selain itu mendaftar jadi pamong tanpa biaya karena sudah dibiayai desa,” ujarnya.

Dengan banyaknya kalangan muda menjadi pamong, lanjut Sakir, menjadi tantangan tersendiri bagi Pemerintah Kalurahan. Terutama agar terjalin komunikasi dengan baik antara anak muda tersebut dengan pamong yang sudah berusia tua. Ia mencontohkan dalam hal teknologi, pamong dari kalangan milenial lebih familiar dengan teknologi.

BACA JUGA : Cair, ADD Gunungkidul Dipakai Bayar Gaji Pamong Kalurahan

“Kami tidak hanya sebatas di seleksi saja, pendampingan terus kami lakukan pada kalurahan, memberikan masukan,” katanya.