4 Warga Semanu Gunungkidul Positif Antraks, 47 Orang Masuk Risiko Terpapar
Empat warga Dadapayu, Semanu, Gunungkidul, positif antraks. Sebanyak 47 orang masuk risiko terpapar dan dipantau selama 60 hari.
Ilustrasi/Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Keterbatasan sumber air di Kapanewon Girisubo, Gunungkidul, membuat pengusaha tangki mengambil air dari luar Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah guna memenuhi pemesanan dari masyarakat.
Salah seorang pengusaha tangki air, Kitut Sakiran, mengatakan pada saat ini kebutuhan air bersih di masyarakat semakin meningkat. Hal tersebut terlihat dari pesanan yang mengalami lonjakan dibandingkan pada saat awal-awal kemarau di akhir Mei lalu.
Ia pun mengaku senang dengan meningkatnya permintaan. Namun, permasalahan baru muncul karena keterbatasan sumber, membuat pengiriman menjadi tersendat.
Di Kapanewon Girisubo terdapat sejumlah sumber air seperti di Sadeng, Puring dan Pulejajar. Namun demikian, sudah ada pembagian pemanfaatan sumber Puring dan Pulejajar digunakan memenuhi permintaan di wilayah barat, sedangkan Sadeng dimanfaatkan untuk wilayah timur dan sekitarnya.
Menurut Kitut, sumber Sadeng tidak bisa diandalkan sepenuhnya. Selain antrean yang bisa mencapai belasan tangki, debit air sering bermasalah sehingga saat mengambil harus mengantre lama.
Sumber Sadeng merupakan sungai bawah tanah sehingga debitnya sangat tergantung dengan air laut. Pada saat pasang, debitnya banyak, namun pada saat surut sumbernya juga ikut surut karena air mengalir ke laut.
“Ya kalau surut, airnya sering telat sehingga pengisian ke tangki harus menunggu lama,” katanya, Rabu (11/8).
Guna menyiasati masalah ini, banyak pengusaha yang mengambil air dari wilayah Pracimantoro, Wonogiri. Kitut tidak menampik, konsekuensi pengambilan ini jarak yang ditempuh lebih lama (dibandingkan mengambil air dari Sadeng) karena perjalanannya harus ditempuh sejauh 25 kilometer.
“Memang jaraknya jauh, tapi tidak antre karena mengisinya hanya butuh waktu sekitar lima menit,” ujarnya.
Tangki air 6.000 liter dijual di kisaran harga Rp120.000 hingga Rp200.000. Adapun harga sangat tergantung dengan jarak medan yang harus dilalui. Namun demikian, lanjut dia, untuk pengambilan dari wilayah Praci dikenakan tambahan biaya sebesar Rp20.000 per tangkinya.
“Warga mau menerima karena sangat membutuhkan dan tidak mau mengantre lama,” katanya.
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan, hasil dari pendataan, ada 16 kapanewon yang berpotensi terdampak kekeringan. Meski demikian, hingga sekarang baru sepuluh kapanewon yang secara resmi mengajukan bantuan air bersih. Kapanewon ini meliputi Tepus, Rongkop, Girisubo, Patuk, Paliyan, Tanjungsari, Panggang, Semin, Wonosari dan Saptosari.
“Total hingga sekarang sudah ada 99.559 warga yang terkena dampak dari musim kemarau. Adapun bantuan yang diberikan sudah lebih dari 847 tangki,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Empat warga Dadapayu, Semanu, Gunungkidul, positif antraks. Sebanyak 47 orang masuk risiko terpapar dan dipantau selama 60 hari.
DPRD DIY meminta pemerintah dan DPR RI menyinkronkan aturan ojol dalam RUU Ketenagakerjaan dan revisi UU LLAJ.
Pendapatan parkir Sleman baru Rp3,17 miliar hingga September 2026. DPRD menilai masih banyak potensi PAD yang bisa dioptimalkan.
Lima motuba seperti Civic Estilo, Starlet, BMW E30, W124 dan Lancer GTi masih diburu karena desain, sejarah, komunitas, dan kelangkaannya.
Kemarau panjang belum memicu gagal panen di Bantul. Petani menyesuaikan komoditas, memilih palawija dan padi berumur pendek.
Survei Ipsos menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia dalam kepuasan kehidupan asmara dengan skor 85, hanya di bawah Thailand.