Kulonprogo Tetap Buka Layanan Isolasi Terpusat di Rusun Giripeni

Tim Satuan Tugas Covid-19 meninjau Rusunawa Giripeni yang akan disiapkan sebagai tempat karantina mandiri bagi PP maupun OTG wilayah Kulonprogo, Rabu (29/4/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati\\n
22 Oktober 2021 10:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-Meski kasus positif Covid-19 harian di Kulonprogo turun cukup signifikan, Pemkab Kulonprogo memutuskan untuk tetap membuka layanan isolasi mandiri bagi warga yang terpapar Covid-19 dengan gejala ringan maupun sedang di gedung isolasi terpusat Rusun Giripeni yang terletak di Pedukuhan Gunung Gempal, Kalurahan Giripeni, Kapanewon Wates, Kulonprogo.

Kepala Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kulonprogo Yohanes Irianto mengatakan berdasarkan arahan dari Pemkab Kulonprogo, jawatannya diminta untuk kembali menganggarkan dana operasional isolasi terpusat Rusun Giripeni untuk periode Oktober 2021 ini.

"Isoter Rusun Giripeni menggunakan biaya tidak terduga (BTT) pada periode September. Saat ini, dilanjutkan untuk Oktober dengan anggaran Rp122,6 juta. Asumsinya, penghuni Rusun Giripeni sebanyak 20 orang setiap hari. Pada 2020, anggaran BTT di Dinsos P3A sebesar Rp1,1 miliar hanya terserap 40 persen atau Rp402 juta," kata Irianto pada Kamis (21/10/2021).

Lebih lanjut, tetap dibukanya gedung isolasi terpusat di Rusun Giripeni diklaim oleh Irianto merupakan bentuk dari kesiapsiagaan Pemkab Kulonprogo mengantisipasi terjadinya klaster penularan Covid-19 di Kulonprogo.

"Kami tidak ingin mengulang kejadian Juli 2021, banyak pasien terkonfirmasi yang bergejala ringan hingga sedang tidak tertangani dengan baik, sehingga menyebabkan kematian. Kami tidak ingin menutup layanan isolasi terpusat di Rusun Giripeni hingga kasus positif Covid-19 benar-benar melandai," jelas Irianto.

Baca juga: Ingat! Bus Wisata Masuk Jogja Harus Kantongi Tiket dari Terminal Giwangan

Penurunan angka positif Covid-19 harian di Kulonprogo tidak membuat pemerintah kabupaten Kulonprogo menutup fasilitas isolasi terpusat Rusun Giripeni yang diperuntukkan bagi pasien positif Covid-19 kategori ringan maupun sedang.

Ketua Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo Fajar Gegana tetap dibukanya layanan isolasi terpusat di rusun Giripeni bukan tanpa alasan. Selain arahan dari Pemerintah Pusat yang menyatakan bahwa rusun Giripeni tetap harus dibuka, diterapkannya aplikasi peduli lindungi menjadi faktor lainnya.

"Jika indikator warna di aplikasi PeduliLindungi yang dimiliki oleh seseorang menunjukkan warna hitam artinya dia terpapar Covid-19 atau masuk dalam kontak erat. Orang tersebut tidak boleh melakukan aktivitas di ruang publik dan harus menjalani isolasi mandiri," kata Fajar beberapa waktu lalu.

Dikatakan Fajar, berdasarkan instruksi dari Pemerintah Pusat, rusun Giripeni juga harus tetap dibuka. Meskipun, kasus positif Covid-19 di Kulonprogo dalam kurun waktu sekitar satu bulan ini mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Keberadaan rusun Giripeni juga sempat menjadi perhatian panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto beberapa waktu lalu saat melakukan kunjungan kerja di Kulonprogo. Keberadaan rusun Giripeni dinilai oleh orang nomor satu di tubuh TNI ini sebagai objek vital.

Permintaan Panglima TNI

Panglima TNI meminta agar Gugus Tugas Penanganan Covid-19 menempatkan pasien positif Covid-19 dengan gejala ringan sampai dengan sedang di gedung isolasi terpusat yang terdapat di rusun Giripeni. Harapannya, upaya pemantauan kesehatan terhadap pasien positif Covid-19 mampu dilakukan secara signifikan.

"Sehingga pasien positif Covid-19 bisa dipantau soal obat-obatannya. Apakah kesehatannya membaik atau memburuk. Untuk itu, empat pilar percepatan penanganan Covid-19 baik itu, TNI, Polri, Pemda dan puskesmas harus kerja keras. Masyarakat mau ditempatkan di ruang isolasi terpusat," ujar Hari Tjahjanto.