Kemarau Panjang hingga November, Dewan Minta Pangan Gunungkidul Dijaga
DPRD Gunungkidul meminta pemkab memperkuat mitigasi dampak kemarau panjang hingga November agar pertanian dan stok pangan tetap aman.
Foto ilustrasi. /Ist-Freepik
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kepala BPBD Gunungkidul, Purwono mengatakan, sedang terjadi anomali cuaca. Anomali terjadi karena curah hujan mengalami penurunan, meski secara prediksi di Januari merupakan puncak musim hujan di Bumi Handayani.
“Berdasarkan prakiraan dari BMKG, Januari memang jadi puncak musim hujan. Tapi, memasuki dasarian kedua Januari, curah hujannya malah cenderung turun,” kata Purwono saat dihubungi wartawan, Jumat (13/1/2023).
Meski demikian, ia mengingatkan kepada masyarakat untuk tetap mewaspadai potensi bencana. Pasalnya, hujan masih berpotensi turun, meski akhir-akhir ini kondisinya sangat cerah.
“Potensi cuaca ekstrem masih ada. Jadi, harus tetap diwaspadai akan adanya bencana karena hujan deras,” katanya.
Menurut Purwono, upaya mitigasi telah dilakukan. Sejak awal Oktober 2022 hingga 31 Desember 2022, BPBD telah menetapkan Siaga Darurat Bencana Hidrometeorologi. Meski demikian, ia memastikan status tidak diperpanjang karena kondisi sudah relative terkendali.
Baca juga: Kulonprogo Makin Sering Dilanda Bencana
“Upaya mitigasi tetap dilakukan agar dampak terjadinya bencana dapat terus ditekan. Salah satunya dengan memperluas jaringan kalurahan tangguh bencana di Gunungkidul,” katanya.
Ia menambahkan, berdasarkan hasil dari pemetaan ada beberapa potensi bencana seperti angin kencang yang merata di seluruh wilayah Gunungkidul. Selain itu, ada juga potensi banjir di sejumlah titik mulai dari aliran Kali Oya, wilayah di Kapanewon Girisubo dan beberapa titik lainnya.
“Ada juga longsor khususnya di zona utara seperti di Kapanewon Patuk, Ngawen, Gedangsari, Nglipar, Semin hingga Ponjong,” katanya.
Hal tak jauh berbeda diungkapkan oleh Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, BPBD Gunungkidul, Sumadi. Menurut dia, kesiapsiagaan bencana tetap harus dipertahankan karena hingga sekarang masih musim hujan.
“Cuacanya memang cerah akhir-akhir ini, tapi potensi terjadinya hujan lebat tetap ada,” katanya.
Sumadi menjelaskan, kewaspadaan atau antisipasi terhadap bencana bisa dilakukan oleh warga. Salah satunya menjaga kebersihan serta memastikan saluran air tetap lancar.
Selain itu, juga dapat dilakukan dengan memangkas pohon dan dahan di sekitar rumah yang telah rimbun. Pemangkasan dibutuhkan untuk mengurangi risiko pohon tumbang saat terjadinya angin kencang.
“Mitigasi bencana sangat butuh partisipasi dari masyarakat,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul meminta pemkab memperkuat mitigasi dampak kemarau panjang hingga November agar pertanian dan stok pangan tetap aman.
Prabowo optimistis karhutla Kalimantan segera terkendali setelah pemerintah menambah helikopter, alat pemadam, pompa, dan personel.
Pemda DIY menyambut kepulangan Ahmad Raditya dan Anggita Ayu, Paskibraka Nasional wakil DIY yang bertugas pada HUT ke-81 RI.
Ekek Keling Sunda dari Gunung Pangrango disebut nyaris punah akibat perburuan. TSI menyiapkan empat pasang untuk dilepasliarkan.
PSEL Bantul memasuki tahap persiapan. Pematangan lahan dijadwalkan September dan proyek ini memiliki nilai investasi mencapai Rp3 triliun.
Empat korporasi di Kalimantan Barat diselidiki terkait dugaan pelanggaran karhutla. Pemerintah membuka opsi pencabutan izin jika terbukti melanggar.