Rehabilitasi Jalan Srandakan Poncosari Dilanjutkan
Rehabilitasi Jalan Srandakan–Poncosari–Pandansimo Bantul dilanjutkan 2,05 km dengan anggaran Rp15,81 miliar hingga akhir 2026.
Ilustrasi./Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, JOGJA — Organisasi Angkutan Darat (Organda) DIY meminta kepada pemerintah untuk mematangkan konsep larangan bus pariwisata masuk ke area perkotaan. Jangan sampai kebijakan itu nantinya justru bikin wisatawan kapok berkunjung ke Jogja lantaran fasilitas pendukung yang belum siap dan kemudian berdampak pada kenyamanan pengunjung.
"Boleh-boleh saja ada kebijakan, tetapi harus diperhitungkan sebagai tuan rumah harus bertanggung jawab bagaimana ke depan untuk mengatasi jumlah tamu yang masuk ke Jogja. Jangan sampai mereka kapok nanti ke Jogja karena malah lebih mahal daripada ke Singapura," kata Ketua Organda DIY, Hantoro, Selasa (14/3/2023).
Hantoro mengatakan pihaknya tetap akan mengikuti kebijakan yang ditetapkan pemerintah termasuk jika bus pariwisata dilarang masuk ke area perkotaan. Hanya saja angkutan pengangkut atau feeder harus disiapkan dengan jumlah yang cukup di sejumlah titik yang nantinya jadi lokasi parkir bus pariwisata.
"Kami ngikut saja. Yang penting kalau bikin aturan harus diikuti dengan kebijakan lain, siap enggak feeder-nya. Kalau tidak siap kan sama saja untuk melarang orang masuk ke Kota Jogja," kata dia.
Sekalipun feeder tersedia dalam jumlah cukup, lanjut Hantoro, perlu juga dikaji apakah kebijakan ini nantinya justru malah menimbulkan kemacetan baru.
Menurutnya satu-satunya kunci dalam mengurai persoalan kemacetan lalu lintas perkotaan adalah dengan mengoperasikan angkutan publik dengan kapasitas besar. "Logika saja ya, bus kita yang masuk Jogja itu sehari kalau low season 50 bus, kalau weekend bisa sampai 120 unit. Nah kalau kami menggunakan feeder itu kan berarti, 5-6 unit bahkan lebih apakah tidak tambah macet," jelasnya.
BACA JUGA: Wacana Larangan Bus Wisata Masuk Kota Jogja
Hantoro menyarankan agar Pemkot Jogja untuk mengkonsep ulang rancangan pembangunan jangka panjang maupun tata kota. Pusat bisnis, menurut dia, hendaknya mesti digeser ke pinggiran perkotaan agar tidak menimbulkan masalah kemacetan lalu lintas.
Di sisi lain moda angkutan publik lainnya semacam kereta api mesti menambah trayek pemberhentian dari Bandara YIA sampai ke Maguwo agar penumpang tidak membeludak di tengah kota.
"Sebenarnya dari swasta pihak oleh-oleh itu sudah mulai sadar sudah geser keluar luar kota Jogja. Kalau misalkan tidak diikuti ya sama saja, buat apa kita mengampanyekan orang berwisata ke Jogja. Kereta bandara juga harusnya sampai Maguwo jadi tidak berhenti di Tugu karena menambah beban di Malioboro," pungkasnya.
Sebelumnya Penjabat Wali Kota Jogja, Sumadi menyebut pada tahun ini pihaknya berencana untuk melarang bus pariwisata masuk ke area perkotaan lantaran kerap jadi salah satu masalah kemacetan.
Kendaraan itu nantinya akan dipusatkan parkir di Terminal Giwangan dan wisatawan bisa menaiki Trans Jogja menuju ke sejumlah destinasi wisata. "Tahun ini kan Giwangan ada perluasan area parkir, bisa ditempatkan di sana dan wisatawan ke tengah kota nanti bisa naik bus Trans Jogja," ucap Sumadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Rehabilitasi Jalan Srandakan–Poncosari–Pandansimo Bantul dilanjutkan 2,05 km dengan anggaran Rp15,81 miliar hingga akhir 2026.
Beli kendaraan STNK Only tanpa BPKB? Risiko pidana penadahan dengan ancaman 4 tahun penjara dan denda Rp500 juta. Simak penjelasan OJK dan Polri.
Sejumlah SMA dan SMK negeri di wilayah pinggiran Gunungkidul masih kekurangan siswa baru setelah SPMB 2026/2027 selesai diumumkan.
Kejaksaan Agung menemukan dugaan keterlibatan perwira TNI aktif dalam kasus korupsi program Makan Bergizi Gratis di Badan Gizi Nasional.
Petaka Gunung Welirang resmi tayang di bioskop mulai 2 Juli 2026. Simak sinopsis, daftar pemain, dan kisah teror mistis di Alas Lali Jiwo.
Kiper Palestina Saleem Al-Ashqar meninggal dunia di Gaza. Ia meninggalkan istri yang tengah mengandung anak pertama dan memicu duka dunia sepak bola.