Kasus Daycare Little Aresha Jogja: 32 Anak Divisum, Ini Tujuannya
Kasus daycare Jogja, 32 anak mulai divisum. Dugaan kekerasan fisik dan psikis, korban diperkirakan capai 130 anak.
Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul. Antara/Hery Sidik
Harianjogja.com, BANTUL–Wisatawan lebih memilih membayar tunai retribusi ke sejumlah destinasi wisata di Bantul daripada menggunakan layanan elektronik tiket (e-tiket).
Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Bantul, Saryadi menyampaikan sebagian besar wisatawan yang berkunjung ke Bantul memilih membayar secara manual atau tunai. Dispar mencatat persentase pengguna pembayaran digital hanya berkisar 3,5% dari total pengunjung per bulan.
BACA JUGA: Disbud Bantul Targetkan 5.000 Orang Kunjungi Mataram Culture Fest 2024
Hal itu, katanya lantaran sinyal internet di beberapa destinasi wisata masih lemah. Saat wisatawan yang akan membayar secara digital, seringkali aplikasi yang akan digunakan tidak bisa diakses.
“Tetapi memang di beberapa loket Tempat Pemungutan Retribusi [TPR], terutama di Pantai Barat, sinyal HP cukup berpengaruh. Karena keterbatasan jaringan, proses HP [dalam bertransaksi secara digital] agak lama loadingnya. Itu yang membuat lebih cepat [pembayaran] manual, tinggal menyobek karcis,” ujarnya, Selasa (25/6/2024).
Dia menuturkan sebagian besar wisatawan yang membayar secara digital merupakan generasi muda. "Masih lebih dominan [pembayaran] yang manual, mungkin baru pengunjung generasi muda yang sudah familiar dengan telepon genggang android, mobile banking dan lainnya,” ujarnya.
Menurut Saryadi, Pemkab Bantul belum merancang kebijakan mengenai pembelian tiket retribusi secara daring. Namun, dengan perkembangan digitalisasi, tidak menutup kemungkinan pembelian tiket secara daring dapat diterapkan di waktu mendatang.
"Tiket online kita belum bisa melayani kita belum menyiapkan sistem. Ke depan bisa dikembangkan tiketing online [pembelian tiket retribusi secara daring], [pembayaran] dari tunai ke non-tunai," ujarnya.
Manfaat eTiketing
Saryadi mengatakan, pembayaran digital atau e-tiket retribusi yang diterapkan di destinasi wisata Bantul sejak akhir tahun 2023 lalu, bertujuan untuk mempermudah wisatawan dalam bertransaksi di destinasi wisata.
“Seluruh [wisatawan] objek wisata yang dikelola Pemkab [Bantul] telah kita berikan pilihan pembayaran tiket retribusi secara tunai dan non-tunai dengan QRIS dan zeepos,” ujarnya.
Selain itu, kata Saryadi pembayaran digital dilakukan untuk mengoptimalkan rekapitulasi capaian pendapatan asli daerah (PAD) sektor pariwisata Bantul. Hal itu lantaran dengan pembayaran digital, PAD yang diterima Pemkab Bantul akan terekap secara real time.
Menurutnya, pembayaran digital juga meningkatkan akuntabilitas dalam pembayaran retribusi tersebut. "Karena cashless jelas uang masuk ke rekening Pemkab. Jadi tidak ada petugas TPR yang terima uang," ujarnya.
Selama ini Pemkab Bantul baru bekerjasama dengan Dinpar DIY dalam aplikasi Visiting Jogja. Pemkab Bantul pun belum memiliki aplikasi untuk pembelian tiket retribusi yang dikelola sendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus daycare Jogja, 32 anak mulai divisum. Dugaan kekerasan fisik dan psikis, korban diperkirakan capai 130 anak.
Mario Suryo Aji turun ke posisi 24 klasemen Moto2 2026 setelah absen di Catalunya akibat cedera. Manuel Gonzalez kukuh di puncak.
Pelajar asal Ngampilan tewas dibacok dalam aksi klitih di Kotabaru Jogja setelah diduga dikejar pelaku dari Jalan Magelang.
Wali Kota Solo Respati Ardi mengevaluasi petugas keamanan Stadion Manahan setelah kasus hilangnya sepeda Polygon viral di media sosial.
Polres Jayawijaya mencatat 24 korban tenggelam akibat jembatan gantung Wouma putus di Wamena berhasil dievakuasi tim gabungan.
Polresta Sleman buka suara soal curhatan Shinta Komala yang mengaku jadi korban kriminalisasi terkait dugaan penggelapan iPhone.