Polisi Tangkap Demonstran di DPRD DIY, Massa Aksi Diserang Kelompok Tak Dikenal
Polda DIY mengamankan sejumlah demonstran saat aksi di DPRD DIY pada Selasa (20/10/2026). Polisi menyebut terjadi pelemparan batu dan petasan.
Ilustrasi baketri E-Coli dibuat oleh AI/Freepik
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman ikut melakukan uji laboratorium terhadap sampel makanan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) dan muntahan korban keracunan pangan di Kapanewon Mlati. Hasil uji lab menyatakan ada tiga bakteri yang diduga menjadi penyebab keracungan pangan, salah satunya adalah Escherichia coli atau E. coli.
Kepala Dinkes Sleman, Cahya Purnama, mengatakan ada bakteri Escherichia coli, Slostridium sp, dan Staphloccus dari hasil pengujian sampel makanan dan muntahan korban. Hanya, kata dia perlu ada serangkaian Penyelidikan Epidemiologi (PE) untuk secara tegas menyatakan penyebab keracunan pangan itu.
“Saya katakan ini masih dimungkinkan akibat tiga bakteri itu. Hasil ini juga harus dikonfrontasi dengan PE lain yang dilakukan di lapangan. Seperti orang sakit, perlu ada pemeriksaan penunjang dan penyakit penyerta,” kata Cahya ditemui di kantornya, Selasa (26/8/2025).
BACA JUGA: Banyak Kasus Keracunan, Disdikpora DIY Minta Sekolah Pastikan MBG Layak Konsumsi
Secara umum, sampel makanan yang dicek adalah rawon, nasi, dan lalapan. Muntahan dan feses korban lebih banyak diteliti di Laboratorium Lab Kesehatan Masyarakat DIY. Hasil uji lab tidak bisa berdiri sendiri. Hasil ini perlu dikonfrontasi dengan hasil PE pihak lain.
Cahya meminta agar makanan yang dimasak dimakan tidak lebih dari empat jam setelah makanan itu selesai dimasak. Hal ini akan menurunkan potensi keracunan pangan. Perlu juga proses memasak makanan dipisah menjadi beberapa kloter.
Pembagian menjadi beberapa kloter itu akan memudahkan Dinkes untuk melakukan pelacakan sumber keracunan pangan. Cahya juga menyarankan agar target porsi penyajian menu MBG dikurangi. Satu dapur tidak bisa melayani 3.600 porsi, terlalu banyak.
Perlu juga tukang masak memperhatikan kualitas dan perlakukan terhadap bahan baku makanan. Tindakan ini perlu mendapat intensi pertama kali sebelum berlanjut ke faktor sanitasi dan higienitas dapur.
“Perlu mengedepankan perilaku hidup bersih dan sehat juga bagi penjamah makanan atau dalam hal ini ya petugas SPPG,” katanya.
Dinkes Sleman juga mengupayakan lewat Puskesmas agar setiap jasa usaha makanan dapat mengendepankan higienitas dan sanitasi. Apabila ada cemaran E. coli yang tinggi, maka Dinkes akan melakukan klorinisasi terhadap sumber air. Harus ada penyelesaian hulu ke hilir.
Meski tenaga dapur memasak dengan higienis dan sesuai SOP, namun air mengandung E. coli, potensi keracunan tetap ada.
Pemkab Sleman lewat Dinkes juga berkomitmen mencegah kasus keracunan pangan. Dinkes telah mengalokasikan anggaran di APBD Perubahan untuk melakukan edukasi dan pelatihan kepada pelaku jasa makanan.
“Di Dapur [SPPG] di Cangkringan sudah kami latih juga ihwal permasalahan kualitas makanan,” ucapnya.
Pengawas Farmasi dan Makanan Ahli Muda Dinkes Sleman, Gunanto, mengatakan Dinkes telah menyampaikan surat ke sejumlah pihak terkait uji laboratorium dan kasus keracunan pangan di Kapanewon Mlati.
“Dalam surat itu juga kami menyasar ke katering atau pengelola jasa makanan. Kalau air ada kandungan E. coli maka perlu ada treatmen. Kalau ada bakteri lain ya perlu pengondisian sesuai kaidah higienitas,” kata Gunanto.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polda DIY mengamankan sejumlah demonstran saat aksi di DPRD DIY pada Selasa (20/10/2026). Polisi menyebut terjadi pelemparan batu dan petasan.
Menkum Supratman Andi Agtas menegaskan telah menaati putusan MA terkait sengketa INI dan berharap dualisme kepengurusan segera berakhir.
PSIM Jogja menghadapi Isenmulang tanpa Ze Valente akibat kartu merah. Laskar Mataram berupaya bangkit setelah lima kekalahan beruntun.
Luhut mengusulkan penyesuaian definisi korupsi merujuk UNCAC. KPK menolak penghapusan total unsur kerugian negara dan membuka opsi delik pemberatan.
PDAM Tirta Handayani Gunungkidul mengeksplorasi sungai bawah tanah Ngobaran dengan target debit 40 liter per detik untuk Saptosari dan Panggang.
Agrinas Palma Nusantara memberikan beasiswa kepada 25 anak Papua Selatan untuk mengikuti pendidikan perkebunan sawit selama tiga tahun.