Kasus ISPA di Sleman Capai 13.313, Pembakaran Sampah Perparah Risiko

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Selasa, 06 Oktober 2026 20:57 WIB
Kasus ISPA di Sleman Capai 13.313, Pembakaran Sampah Perparah Risiko

Ilustrasi, dokter memeriksa anak yang mengalami gejala ISPA di Puskesmas Sukarami, Palembang, Sumatra Selatan, Selasa (15/9/2026)./Antara-Nova Wahyudi/kye

Harianjogja.com, SLEMAN— Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kabupaten Sleman mencapai 13.313 kasus sepanjang Januari-September 2026. Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mencatat tren peningkatan mulai terlihat ketika wilayah tersebut memasuki periode kemarau.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Sleman, Raditya Kusuma Tejamurti, mengatakan pola serupa juga terjadi pada tahun sebelumnya. Sepanjang Januari-Desember 2025, tercatat 21.040 kunjungan kasus ISPA.

"Berdasarkan data kasus ISPA tahun 2025 didapatkan tren peningkatan kasus ISPA mulai bulan Agustus hingga November. Sementara di tahun 2026 ini data kasus ISPA juga mulai menunjukkan peningkatan hingga bulan September," kata Raditya dihubungi, Selasa.

Kemarau Tingkatkan Risiko Gangguan Pernapasan

Menurut Raditya, kondisi kemarau dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan karena udara menjadi lebih kering. Kelembapan yang rendah membuat selaput lendir saluran pernapasan lebih mudah mengering dan mengalami iritasi akibat debu.

Risiko tersebut dapat semakin meningkat ketika udara kering bercampur dengan polutan. Emisi kendaraan, asap kebakaran hutan, hingga asap pembakaran sampah dapat lebih terkonsentrasi di udara ketika curah hujan minim.

Pembakaran sampah menjadi salah satu persoalan yang perlu diwaspadai karena asapnya menambah paparan polutan di lingkungan masyarakat. Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan debu yang lebih mudah beterbangan selama musim kemarau.

Selain debu dan polusi, cuaca panas ekstrem serta dehidrasi ringan juga dapat menurunkan daya tahan tubuh lokal pada saluran pernapasan. Kondisi itu membuat masyarakat lebih rentan mengalami gangguan pernapasan.

Dinkes Sleman telah menyampaikan kewaspadaan terhadap penyakit yang berpotensi meningkat selama kemarau panjang. Hal tersebut disampaikan dalam rapat dinas bulanan yang diikuti 25 kepala puskesmas se-Sleman.

Dinkes Tak Pantau Kualitas Udara Luar Ruangan

Meski meningkatkan kewaspadaan terhadap ISPA, Dinkes Sleman tidak melakukan pemantauan kualitas udara luar ruangan. Raditya menjelaskan pemantauan tersebut menjadi ranah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Hiperkes.

Dinkes Sleman hanya melakukan pengukuran kualitas udara dalam ruangan. Sementara itu, masyarakat diimbau mengurangi paparan debu dan polutan di tengah tren peningkatan kasus ISPA.

Masyarakat juga diminta tidak membakar sampah karena asap hasil pembakaran dapat memperburuk kualitas udara, terutama ketika kondisi atmosfer kering dan curah hujan minim.

Warga yang beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan masker. Asupan air juga perlu dijaga agar saluran pernapasan tidak semakin kering.

Aduan Pembakaran Sampah Naik

Persoalan pembakaran sampah turut menjadi perhatian Satpol PP Sleman. Kepala Bidang Penegakan Peraturan Perundang-Undangan Satpol PP Sleman, Bondan Yudho Baskoro, memperkirakan jumlah aduan yang diterima pihaknya meningkat sekitar 40% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pembakaran sampah menjadi salah satu persoalan yang paling sering dilaporkan. Jika tahun lalu laporan terkait sampah paling banyak muncul sekitar dua kali dalam sebulan, kini aduan serupa dapat ditemukan setiap pekan.

Bondan juga tidak menampik adanya sejumlah warga yang membuka jasa pengelolaan sampah ilegal. Salah satu cara yang digunakan dalam pengelolaan tersebut adalah dengan membakar sampah.

Pembakaran sampah dinilai tidak menyelesaikan persoalan dan justru dapat menimbulkan masalah baru. Selain berpotensi memicu kebakaran besar, asap pembakaran juga meningkatkan konsentrasi polutan di udara.

Satpol PP Sleman mengakui mayoritas kasus kebakaran terjadi akibat kelalaian manusia yang kerap membakar sampah. Kondisi tersebut pada akhirnya turut meningkatkan konsentrasi polutan yang dapat memperparah penderita ISPA.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online