Disdik Sleman Dukung Wacana Siswa Tinggal Kelas, Ini Pertimbangannya

Andreas Yuda Pramono
Andreas Yuda Pramono Jum'at, 09 Oktober 2026 20:37 WIB
Disdik Sleman Dukung Wacana Siswa Tinggal Kelas, Ini Pertimbangannya

Ilustrasi anak-anak berangkat ke sekolah/Dibuat menggunakan AI

Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman menilai wacana penerapan kembali sistem tinggal kelas perlu disertai standar kompetensi yang jelas. Kebijakan tersebut dinilai harus mempertimbangkan pencapaian akademik sekaligus tanggung jawab siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, Mustadi, mengatakan siswa tidak seharusnya otomatis naik kelas apabila belum memenuhi standar yang telah ditetapkan. Meski demikian, penerapan sistem naik dan tinggal kelas juga perlu memperhatikan perkembangan anak.

“Dari sisi tanggung jawab anak, kalau naik kelas ya perlu mencapai standar. Tidak serta-merta naik kelas. Dari sisi kemampuan dan kompetensi akademik juga harus mencapai standar,” kata Mustadi saat dihubungi, Jumat (9/10/2026).

Menurut Mustadi, sistem naik dan tinggal kelas memiliki sisi positif, terutama dalam mendorong siswa bertanggung jawab terhadap proses belajar. Dengan sistem tersebut, pencapaian kompetensi menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum siswa melanjutkan ke tingkat kelas berikutnya.

“Kalau dari sisi akademis dan tanggung jawab ada baiknya sistem naik dan tinggal kelas,” katanya.

Namun, jika wacana yang disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) benar-benar diterapkan, menurut Mustadi, perlu ada persiapan dari sisi struktur kurikulum maupun standar kompetensi.

“Kalau memang diimplementasikan wacana Mendikdasmen, ya struktur kurikulum perlu ada penyesuaian lagi. Standar kompetensi juga perlu dipersiapkan,” ujarnya.

Disdik Sleman Soroti Penggunaan AI dalam Pembelajaran

Selain membahas wacana tinggal kelas, Mustadi menyoroti perkembangan teknologi, khususnya pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam pembelajaran.

Ia menilai anak-anak saat ini memiliki kemampuan yang cepat dalam memanfaatkan teknologi tersebut. Mustadi mencontohkan prestasi siswa Sleman dalam lomba pemrograman atau coding dan AI.

Meski demikian, Dinas Pendidikan Sleman belum dapat menyimpulkan apakah penggunaan AI membuat siswa mengalami ketergantungan. Mustadi mengingatkan bahwa pemanfaatan teknologi tersebut juga berpotensi memengaruhi kemampuan berpikir kritis dan kreativitas apabila siswa hanya mengikuti jawaban yang dihasilkan AI.

“Anak-anak sebenarnya lebih cepat memanfaatkan AI. Tapi ada potensi pola pikir untuk kritis kurang. Manut AI. Jadi kurang kreativitas,” ucapnya.

Karena itu, Mustadi menekankan pentingnya kemampuan guru dalam memahami penggunaan AI. Guru perlu dapat membedakan jawaban yang dihasilkan teknologi dengan jawaban yang berasal dari penalaran mandiri siswa.

Menurut dia, penilaian pembelajaran perlu memperhatikan proses berpikir yang digunakan siswa untuk menghasilkan jawaban. Hasil yang diperoleh melalui penalaran mandiri perlu mendapatkan apresiasi lebih agar siswa tidak terus-menerus mengandalkan AI ketika mengerjakan tugas.

Disdik Sleman Dorong Kejelasan Aturan Tinggal Kelas

Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan SMP Disdik Sleman, Ponidi, menyatakan dukungan terhadap penegasan kembali kebijakan tinggal kelas apabila hal tersebut disampaikan oleh Mendikdasmen.

Menurut Ponidi, sosialisasi yang lebih jelas dan sistematis diperlukan agar sekolah memiliki kepastian ketika mengambil keputusan untuk tidak menaikkan siswa ke kelas berikutnya. Penegasan kebijakan juga dinilai penting bagi sekolah yang sebelumnya khawatir menetapkan keputusan tinggal kelas.

Ia mengatakan keputusan tersebut tidak semata-mata didasarkan pada kemampuan akademik. Ada sejumlah aspek lain yang perlu menjadi pertimbangan, termasuk karakter dan tingkat kehadiran siswa di sekolah.

“Perlu penekanan, tidak naik itu bisa karena akademiknya, bisa karena karakternya, bisa karena kehadirannya. Lagi pula sebenarnya lewat kurikulum yang sekarang juga ada murid tidak naik kelas. Tapi ukurannya karena tingkat kehadiran tidak memenuhi ketentuan,” kata Ponidi.

Dengan demikian, wacana penerapan kembali sistem tinggal kelas di Sleman dinilai perlu disertai standar kompetensi, penyesuaian kurikulum, serta kejelasan aspek penilaian. Disdik Sleman juga menyoroti perlunya peran guru dalam memastikan penggunaan teknologi AI tidak mengesampingkan proses berpikir kritis dan kreativitas siswa.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online