Pernah Jadi Tempat Bermukim Warga Belanda, Bintaran Akan Dilestarikan

Ilustrasi cagar budaya. - Harian Jogja
11 Maret 2019 11:17 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Pengembalian fasad bangunan-bangunan indis bersejarah terus dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja. Setelah kawasan Malioboro, Ketandan dan juga kawasan Suroto, Dinas Kebudayaan (Disbud) Jogja menggagas pengembalian kawasan indies di Bintaran.

Kepala Disbud Kota Jogja, Eko Suryo Maharso menjelaskan gagasan tersebut muncul mengingat di wilayah Bintaran banyak sekali bangunan cagar budaya (BCB) yang perlu dilestarikan. Kawasan tersebut juga menyimpan sejarah sebagai salah satu kawasan permukiman warga Belanda. "Bintaran menjadi kawasan permukiman kedua penduduk Eropa, pertama Loji Kecil dan ketiga Kotabaru. Di sana banyak sekali bangunan indis," katanya kepada Harian Jogja, Jumat (8/3/2019).

Menurutnya, pengembalian fasad-fasad bangunan di kawasan Bintaran tersebut menjadi salah satu upaya untuk menyelamatkan BCB. Pasalnya beberapa bangunan sudah beralih bentuk. Pengembalian dan penataan kawasan Bintaran laiknya tempo dulu bisa menjadi destinasi wisata selfie baru yang menarik. "Itu menarik untuk menjadi viral. Banyak rumah yang masih bisa dilestarikan. Kontennya masih bisa dibuat," katanya.

Uniknya, kata Eko, bangunan-bangunan di kawasan tersebut dahulu memiliki pagar yang rendah dan berundak. Semakin ke barat semakin melebar membentuk sumbu simetris menuju Kali Code. Di bagian barat persis bagian Timur Kali Code, dulunya terdapat taman bunga berbentuk bundar sebagai ciri khas permukiman warga Eropa. "Kalau penataan ini bisa dilakukan, tidak hanya menjadi tempat wisata baru tetapi juga bisa memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat," ujarnya.

Meski nantinya penataan dilakukan, setidaknya bisa dimulai dengan street view atau pedestrian di kawasan tersebut. Sembari menunggu, upaya mengembalikan fasad bangunan bisa dilakukan secara bertahap. Proses yang sama juga dilakukan di sejumlah kawasan bersejarah seperti Ketandan dan juga Kotabaru. "Tidak harus semua bangunan heritage dikembalikan bentuknya, minimal ada satu dua bangunan yang menjadi ciri khas kawasan," katanya.

Kepala Bidang Pelestarian dan Warisan Budaya Dinas Kebudayaan Kota Jogja Pratiwi Yuliani mengatakan pengembalian fasad bangunan indies tersebut bagian dari Disbud untuk mengembangkan living museum. Kawasan Bintaran termasuk kawasan tua. "Sayang kalau berubah. Kami ingin menyelamatkan. Ini seperti upacara kami untuk menyelamatkan bangunan Kalang di Kotagede. Bisa menjadi pusat informasi kawasan bersejarah di lokasi tersebut," ucapnya.

Dia menjelaskan, kajian konsep dan perencanaan untuk penataan di Bintaran sudah disiapkan. Penataan tersebut tidak mengubah fasad yang ada. Hanya menonjolkan kawasan kuno di wilayah tersebut. Misalnya lorong jalan beraspal diganti dengan bebatuan laiknya di Eropa. "Di sana ada gereja, rumah-rumah indies. Sayang kalau berubah. Kalau pedestarian dan street furniture ada, bisa buat orang jalan-jalan di sana," ujarnya.

Selain itu, di bagian barat tepatnya di Bantaran Kali Code akan dibuat taman bunga bundar dengan air mancur. Dulu saat penataan Kali Code, ditemukan semacam ceruk yang diyakini sebagai city park yang menjadi ciri khas permukiman Eropa. "Kalau ini menggugah kesadaran pola penataan tata ruang, sangat dimungkinkan upaya penataan kawasan Bintaran bisa dilakukan. Kami sudah lakukan Komunikasi dengan warga dan mereka menyambut baik rencana tersebut," kata Yuli.