Pengelola Perpustakaan Tak Boleh Batasi Pengunjung

Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional RI, Sri Sumekar, berbicara di acara Sosialisasi Pengembangan Program Revitalisasi di Daerah: Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Hotel Grand Dafan Rohan, Banguntapan, Bantul, Rabu (19/6/2019).-Harian Jogja - Ujang Hasanudin
20 Juni 2019 08:07 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Sekretaris Utama Perpustakaan Nasional Sri Sumekar meminta semua perpustakaan membuka akses seluas-luasnya bagi semua lapisan masyarakat tanpa membeda-bedakan golongan pengunjung. Pengelola harus kreatif mengajak masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan.

Saat ini, perpustakaan harus menjadi lembaga pembelajaran dan kemitraan masyarakat serta mengetahui kebutuhan informasi yang diinginkan masyarakat sekitar perpustakaan, serta menyediakan fasilitas dan akses seluas-luasnya.

“Kalau dulu mungkin ke perpustakaan haru rapi pakai sepatu. Sekarang terbuka semua kalangan golongan manapun. Pakai sandal jepit masuk perpustakaan harus dilayani, " kata Sumekar dalam acara Sosialisasi Pengembangan Program Revitalisasi di Daerah: Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial di Hotel Grand Dafam, Kecamatan Banguntapan, Bantul, Rabu (19/6/2019).

Pengelola perpustakaan umum juga diminta tidak hanya pasif menunggu pengunjung atau pemustaka tetapi mendatangkan pengunjung dengan menciptakan suasana yang menyenangkan dalam perpustakaan, menjadikan perpustakaan sebagai ajang rekreasi serta dapat bekerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan yang peduli perpustakaan dan mendukung berbagai kegiatan di perpustakaan.

Sumekar mengatakan sosialisasi pengembangan program revitalisasi di daerah ini diikuti 51 peserta yang terdiri dari pengelola perpustakaan umum desa, pengelola perpustakaan DIY dan beberapa pemangki kepentingan perpustakaan. Sosialisasi berlangsung selama tiga hari ke depan.

Untuk sasaran advokasi langsung ke perpustakaan desa tahun ini sebanyak 300 perpustakaan desa yang tersebar di 21 provinsi. Sumekar berharap peserta sosialisasi dapat mengubah cara pandang dalam mengelola perpustakaan supaya masyarakat mau datang dan memanfaatkan perpustakaan untuk kesejahteraan hidupnya.

Sudarto, salah satu narasumber dalam kegiatan sosialisasi kemarin, mengungkapkan perpustakaan juga harus memperhatikan kondisi sosial masyarakat sehingga koleksi perpustakaan bisa menyesuaikan. Perpustakaan bisa membantu pemustaka meningkatkan kesejahteraan, misalnya dalam menyediakan buku soal budi daya ikan lele maka bisa membantu pemustaka sampai berhasil.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY Monika Nur Lastiyani menambahkan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial di DIY sebenarnya sudah lama diterapkan namun dengan istilah yang berbeda.

Salah satu bentuknya adalah upaya revitalisasi perpustakaan melalui pemberdayaan agar perpustakaan tak sekadar menjadi ruang baca melainkan jadi tempat yang nyaman. Sejak dua tahun terakhir DPAD DIY menggelar bedah buku di desa-desa dengan teman yang sesuai dengan kondisi masyarakat.