Total Care, Ini Dia Konsep Baru Menjaga Malioboro

Pengunjung Malioboro berfoto di tengah jalan saat uji coba bebas kendaraan bermotor, Selasa (18/6/2019). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
06 Juli 2019 21:57 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Untuk merawat Malioboro, dibutuhkan totalitas bukan hanya dari pemerintah dan pengelola, melainkan komunitas, akademisi dan masyarakat umum. Hal ini disampaikan Wakil Walikota Jogja, Heroe Poerwadi pada Halalbihalal dan Obrol Santai Malioboro Baru, di Lesehan Borobudur depan gerbang Kepatihan, Jumat (5/7/2019).

Ia menuturkan, dalam menjaga kebersihan, diperlukan sistem zonasi bagi para pedagang untuk membagi tanggung jawab yang jelas. “Semisal toko atau bertanggungjawab membersihkan wilayah di depan dan sekitarnya, pembagiannya harus jelas,” katanya.

Ia juga mengimbau kepada pedagang agar menyiapkan alat kebersihan seperti sau dan tempat sampah. Hal ini akan membantu upaya UPT membersihkan malioboro. Meski sudah mengangkut sampah tiga kali sehari, hal ini masih kurang maksimal apabila tidak dibarengi upaya pedagang.

Parkir menjadi salah satu masalah yang sulit terselesaikan di Malioboro, mengingat jumlah kendaraan dan pengunjung yang terus meningkat. Untuk itu pihaknya sedang merencanakan penambahan kantong parkir yang akan dibangun di bawah tanah.

Meski demikian ia mengungkapkan rencana ini belum bisa direalisasikan dalam waktu dekat karena membutuhkan dana yang tidak sedikit. “Saat ini kami sudah mendesain beberapa titik yang nanti akan dirongkan di bawah, sehingga seluruh pengunjung bisa tertampung,” katanya.

Lalu untuk pedagang, ia menegaskan tidak ada lagi yang nuthuk. Kalau masih ditemukan, petugas akan langsung mencabut ijinnya. Tindakan tegas harus diambil karena sudah jauh hari diperingatkan. “Gerobak juga sedang kami desain, agar bagaimana tidak mengganggu,” ungkapnya.

Kepala UPT Malioboro, Ekwanto, mengatakan beroperasinya Yogyakarta International Airport (YIA) akan berdampak pada bertambahnya pengunjung Malioboro. Sebab itu ia mengajak seluruh komunitas di malioboro agar bekerja sama menciptakan Malioboro yang indah dan nyaman.

“Kami berharap meski dengan berbagai dinamika yang terjadi, tetap ngangeni dan nyaman untuk semua orang. UPT dan komunitas harus menyatu, sehingga sekecil apapun persoalan bisa kita atasi bersama,” kata dia.

Ketua Presidium Paguyuban Kawasan Malioboro, Sujarwo, mengatakan kegiatan ini merupakan sosialisasi konsep total care kebersihan Malioboro. “Kedua kami memperkenalkan desain lesehan yang baru, supaya malioboro bisa lebih indah,” ujarnya.

Ia menjelaskan , total care Malioboro merupakan koreksi terhadap pengelolaan kebersihan. Ia melihat Malioboro sebagai sebuah kesatuan seperti Mall. Maka setiap jengkal dan selama 24 jam, harus ada yang menjaga kebersihannya.

Dua poin yang ditekankan dalam total care Malioboro yakni menangani hilir sampah dan hulu atau sumber sampah. “Ada istilah jaga dan lisa, jaga kebersihan, lihat sampah ambil,” ungkapnya.

Selain soal kebersihan, penampilan Malioboro juga perlu dijaga, mulai dari dagangan, orang, makanan dan lainnya. Hal ini ia terapkan sebagai uji coba di Lesehan Borobudur, dengan desain yang lebih menarik, lampu dan meja kekinian, lingkungan bersih dan tidak menutupi bangunan di belakangnya.

Dalam total care Malioboro ini, ia mengambil pendekatan multi stakeholder, yang melibatkan akademisi, pengusaha, masyarakat dan pemerintah. “Ini semisal kami sudah melakukan survey kebersihan dengan LDPM UCY, dimana sampah, apa sumbernya,” kata dia.