Tak Tergesa Terapkan Pembelajaran Tatap Muka, Kulonprogo Minta Sekolah Perketat Prokes

Ilustrasi. - Freepik
15 Desember 2020 12:17 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kulonprogo mengimbau seluruh satuan pendidikan di kabupaten ini untuk mengetatkan penerapan protokol kesehatan di lingkungan sekolah.

Hal itu diperlukan agar tidak muncul klaster sekolah seperti yang telah terjadi di salah satu sekolah di Dusun Pergiwatu, Kalurahan Srikayangan, Kepanewon Sentolo, Kulonprogo.

"Semua satuan pendidikan di Kulonprogo kami imbau untuk menerapkan protokol kesehatan yang ketat, jika ada guru atau tenaga kependidikan yang terkonfirmasi positif agar segera menghubungi petugas kesehatan dan menceritakan riwayat kontak yang bersangkutan," kata Kepala Disdikpora Kulonprogo, Arif Prastawa, Selasa (15/12/2020).

BACA JUGA : Ini Kata Sultan Soal Kepastian Sekolah Tatap Muka di Jogja

Selain itu, pertemuan antar guru, kelompok kerja kepala sekolah, kelompok kerja guru pelajaran dan lain-lain secara tatap muka agar diminimalkan. Arif meminta setiap pertemuan diusahakan lewat sistem daring. Dengan cara ini, potensi penularan bisa diminimalisir.

"Sejak pekan lalu kami juga sudah berikan surat edaran peningkatan kewaspadaan Covid-19 kepada satuan pendidikan," ujarnya.

Tatap Muka

Terkait pembelajaran tatap muka yang rencanaanya akan dilakukan Januari 2021, Arif mengatakan pihaknya akan melihat situasi dan kondisi. Sebab, kegiatan itu bisa atau tidaknya terlaksana mendasarkan beberapa pertimbangan termasuk situasi perkembangan Covid-19. "Kulonprogo tidak akan tergesa-gesa dalam melaksanakan tatap muka di sekolah, kita akan lihat situasinya dulu," ucapnya.

BACA JUGA : Pusat Bolehkan Belajar Tatap Muka, Begini Skenario Sekolah

Diberitakan sebelumnya, Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo menemukan klaster sekolah yang telah menyebar dan menjangkiti puluhan orang.

Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kulonprogo, Baning Rahayujati menjelaskan klaster sekolah itu terjadi di salah satu sekolah di Dusun Pergiwatu, Kelurahan Srikayangan, Sentolo. Dari 11 guru dan karyawan sekolah tersebut, enam di antaranya terkonfirmasi positif Covid-19.

"Kasus pertama klaster ini adalah seorang tenaga sekolah [belum diketahui apakah statusnya guru atau karyawan] dengan riwayat kontak melayat keluarga yang meninggal dengan status positif Covid-19 di wilayah Sleman," ujarnya.

Adapun dari enam orang yang terkonfirmasi positif itu, telah menjangkiti 15 orang yang merupakan anggota keluarga mereka, sehingga total penderita Covid-19 dari klaster ini untuk sementara sebanyak 21 orang.

BACA JUGA : Pemda DIY Buat Sekolah Percontohan Sebelum

Gugus tugas bersama unsur terkait masih melakukan pelacakan lebih lanjut terhadap klaster tersebut. Sebagai upaya antisipasi Gugus tugas telah menjalin koordinasi dengan Disdikpora setempat untuk menghentikan seluruh kegiatan di sekolah itu. Para guru di sana sekarang menjalani work from home (WFH) sampai waktu yang belum ditentukan.

"Kami juga sudah mengadakan rapat koordinasi penanganan klaster tersebut, dengan melibatkan Disdikpora, kapanewon, puskesmas, pengawas dan kepala sekolah yang ada di seluruh sekolah di Sentolo," ujar Baning.