Soroti Kasus Mafia Tanah ATR BPN, Pakar Ingatkan Pengawasan Diskresi
Kasus korupsi pengurusan HGB menyoroti dugaan mafia tanah ATR BPN dan pentingnya pengawasan diskresi dalam pelayanan pertanahan.
Anggota Komisi B DPRD DIY Dwi Wahyu. /Ist-DPRD.
Harianjogja.com, JOGJA—DPRD DIY menyarankan penggunaan dana keistimewaan (danais) untuk mendukung penanganan Covid-19 terutama di sektor kesehatan dan pemulihan ekonomi. Usulan itu disampaikan seiring menurunkan pendapatan daerah karena terdampak pandemi Covid-19.
Anggota Komisi B DPRD DIY Dwi Wahyu menjelaskan akibat Covid-19 pendapatan DIY mengalami penurunan. Sebagaimana tertuang dalam APBD 2021 yang sudah disepakati, bahwa target pendapatan di angka Rp5,7 triliun atau menurun dari target pendapatan 2020 di angka Rp61, trilliun. Pendapatan sektor pariwisata mengalami penurunan antara 40% hingga 50%.
BACA JUGA : Lift Ambrol, Ketua & Anggota DPRD DIY Terjatuh dari Lantai
Tetapi DIY memiliki dana transfer dari pusat yang dinilai tergolong utuh dan tidak mengalami pemangkasan dibandingkan jenis dana transfer lainnya, yaitu danais. Oleh karena itu pihaknya menyarankan agar danais tersebut bisa digunakan untuk menggantikan peran sejumlah pos APBD yang drop.
“Kekuatan anggaran kita harus dievaluasi, tetapi kita punya kekuatan anggaran utuh, [yaitu] danais. Bagaimana danais ini bisa menggantikan peran yang biasanya dibiayai oleh APBD. Kalau dalam menggantikan peran karena APBD drop, pendapatan drop, ada danais, mari kita optimalkan danais ini. Untuk menggantikan peran itu, yaitu kebutuhan kesehatan dan ekonomi yang harus di maksimalkan,” kata Dwi, Senin (4/1/2021).
Politikus PDIP ini mengatakan pada 2021 ini DIY masih mendapatkan jatah danais Rp1,3 triliun. Ia berharap bisa dimaksimalkan penggunaannya termasuk untuk penanganan Covid-19 terutama menggenjot pemulihan ekonomi dan layanan kesehatan. Oleh karena itu perlu adanya evaluasi penggunaannya ke depan dengan menerapkan skala prioritas.
BACA JUGA : DPRD DIY: Penggunaan Danais Jangan Hanya
“Ada lima ruang yang bisa diakses, ada empat yang bisa difokuskan. Mari dioptimalkan, kita rigidkan, di kebudayaan itu apa apakah hanya event saja, atau membuat video saja? Tidak, tetapi semua aktivitas di Jogja itu basisnya adalah budaya, mari kita optimalkan,” ucapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus korupsi pengurusan HGB menyoroti dugaan mafia tanah ATR BPN dan pentingnya pengawasan diskresi dalam pelayanan pertanahan.
Pelebaran Jalan Selokan Mataram Sleman belum tuntas karena pembebasan lahan. Sebanyak 11 bidang, termasuk sebagian Makam Santren Gejayan, disiapkan.
Kerja Ngejar Apa, Sih? tayang 12 November 2026. Simak sinopsis, daftar pemain, dan kisah persaingan masa probasi.
Indonesia mengakhiri Asian Games 2026 di peringkat ke-16 dengan 39 medali, terdiri dari lima emas, 11 perak, dan 23 perunggu.
Sebanyak 600 lulusan SMK DIY dijadwalkan berangkat bekerja ke luar negeri pada 29 Oktober 2026. Mayoritas akan bekerja sebagai caregiver di Jepang.
Kasus Negreira kembali memanas setelah Real Madrid menyerahkan 50.000 halaman dokumen ke UEFA terkait Barcelona.