Cerita Istri yang Terpaksa Nyalon Lurah di Gunungkidul: Tetap Dipanggil Ibu Lurah meski Kalah

Lurah terpilih Bendung, Didik Rubiyanto. bersama istrinya Tri Miyati saat akan memasukan surat suara di salah satu TPS di Kalurahan Bendung, Semin, Sabtu (30/10/2021). - Istimewa/Dokumen pribadi Didik Rubiyanto
01 November 2021 14:47 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pemilihan lurah di Gunungkidul diikuti beberapa pasangan suami istri (pasutri) yang saling bertarung. Para istri hanya sebagai pelengkap dan semuanya kalah. Berikut laporan wartawan Harian Jogja David Kurniawan.

Rumah Didik Rubiyanto di Dusun Dawe, Bendung, Semin, Gunungkidul, lengang. Hanya ada anak-anak yang bermain di samping rumah.

Tenda syukuran untuk kemenangan lurah masih terpasang di depan rumah. Perayaan ini sudah diselenggarakan sejak Jumat (29/10/2021) atau satu malam sebelum pencoblosan.

BACA JUGA: Suami Mantan Wakil Bupati Kalah, Ini Daftar Lengkap Hasil Pemilihan Lurah di Sleman

Syukuran kemenangan ini diselenggarakan karena dua calon yang bertarung masih satu keluarga. Calon petahana sekaligus Lurah Bendung, Didik Rubiyanto, melawan istrinya, Tri Miyati.

Sesuai dengan prediksi, Didik melaju mulus untuk menjadi lurah periode 2021-2027. Dia mendapatkan dukungan 1.875 suara, sedangkan istrinya 485 suara.

Kepada Harian Jogja, Tri Miyati mengaku tidak berniat menjadi lurah. Keputusan maju hanya untuk melengkapi syarat pencalonan sehingga pelaksanaan pilihan lurah tidak ditunda menjadi 2024 mendatang. “Memang hanya melengkapi agar tidak ada calon tunggal,” katanya, Minggu (31/10/2021).

Ia pun mengakui mencontek visi misi dan hanya membacanya saat penyampaian visi misi di kalurahan. Tidak ada kampanye. Pada saat pertemuan PKK, Dasa Wisma atau yang lain, Tri malah mengampanyekan suaminya.

Meskipun kalah, ia tidak mempermasalahkan karena setiap harinya tetap dipanggil Ibu Lurah. “Jadi walaupun kalah, saya tetap senang,” ungkapnya.

Lurah Bendung, Didik Rubiyanto, mengatakan keputusan melawan istri sendiri sudah melalui sejumlah pertimbangan. Salah satunya, agar pelaksanaan pilihan tidak ditunda karena mendekati penutupan pendaftaran tidak ada calon lain yang mendaftar. “Jadi saya minta istri maju untuk memenuhi persyaratan pencalonan. Toh di dalam aturan juga tidak dilarang,” katanya.

Dia tidak ingin kejadian pemilihan enam tahun yang lalu terulang. Menurut dia, pemilihan tahun ini hampir mirip karena pada saat maju yang pertama kali juga tidak ada calon lain.

Pada saat itu, Didik menyiapkan calon untuk pelengkap. Meski demikian, proses tidak berjalan dengan baik karena dorongan dari beberapa orang yang malah memberikan perlawanan dengan sungguh-sungguh.

“Jadi mending menyuruh [istri] maju saja sehingga tidak berisiko,” ungkapnya.

Dia tidak membuat persiapan dengan membuat tim atau pun memasang gambar saat masa kampanye. Pemaparan hanya sebatas penyampaian visi misi sesuai dengan ketentuan yang dibuat panitia pemilihan.

Didik pun tidak membuat tim pemenangan di setiap dusun. “Sudah ada teman yang mau mendukung, tapi saya bilang tidak. Takutnya saat dibuat tim dan menunjuk 10 wakil di setiap dusun, malah bisa menimbulkan rasa iri antarwarga. Jadi, diputuskan tidak usah ada tim sama sekali,” katanya.

BACA JUGA: Belasan Petahana Tumbang di Pemilihan Lurah Gunungkidul

Lurah Girisekar, Kapanewon Panggang, Sutarpan, mengatakan terpaksa meminta istrinya maju dalam pencalonan karena tidak ada warga yang berminat maju menjadi lurah. Di akhir pendaftaran, istrinya pun mendaftar guna memenuhi syarat pencalonan. “Saya tidak memasang gambar. Masa kampanye pun juga tidak saya gunakan,” katanya.

Sama seperti dengan pemilihan di Bendung, Sutarpan terpilih kembali menjadi Lurah Girisekar. Dia mendapatkan dukungan 3.141 suara, sedangkan istrinya, Mardikem, meraup 807 suara.

Data dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Keluarga Berencana Pemberdayaan Masyarakat Desa (DP3AKBPMD) Gunungkidul, menunjukkan delapan calon lurah yang berstatus sebagai istri dan semuanya kalah.

Di Kalurahan Girimulyo, Panggang, Sunu Raharjo mendapatkan dukungan 2.207 suara. Istrinya, Rini Utami meraup sebanyak 1.040 suara. Di Kalurahan Giriwungu, Tulus memperoleh dukungan 1.146 suara, sedangkan istrinya Karjinem memperoleh dukungan 405 suara.

Di Kalurahan Karangawen, Girisubo, ada empat calon yang bersaing, calon nomor dua Dwi Ristiyani dan calon nomor empat, Erman Susilo merupakan pasutri. Sedangkan calon nomor satu merupakan istri dari lurah nonaktif Roji Suyanta, Sudarini. Adapun calon nomor tiga adalah Wisnu Sutapa.

Erman Susilo unggul jauh dengan dukungan 861 suara. Istrinya memeroleh dukungan empat suara. Adapun calopn nomor satu mendapatkan 287 suara dan calon nomor tiga 28 suara.

Di Kapanewon Rongkop terdapat dua pasutri yang saling bersaing. Pemilihan di Kalurahan Bohol mempertemukan Margana melawan istrinya Ristini. Lurah petahana ini menang dengan dukungan 882 suara karena istrinya hanya mendapatkan 24 suara. Adapun pasutri kedua terjadi di Kalurahan Karangwuni. Suparta berhasil unggul dengan dukungan 1.870 suara dari istrinya Sri Mulyani yang meraup 327 suara.

Pertarungan suami istri juga terjadi di Kalurahan Ngipak, Karangmojo. Bambang Setiawan berhasil meraup suara sebanyak 1.764 suara. Unggul jauh dari istrinya Afifah Rahmawati yang mendapatkan dukungan 219 suara.

Dua pasutri lainnya yang bertarung di pilihan lurah berada di Kalurahan Wunung dan Gari di Kapanewon Wonosari. Di Gari, lurah incumbent Widodo meraup 3.647 suara dan berhasil mengalah istrinya Suryanti yang memperoleh dukungan 347 suara. Hal sama juga terjadi di Wunung, Sudarto unggul dengan perolehan 1.723 suara atas istrinya Erna Sulistyowati yang mendapatkan dukungan 328 suara.

BACA JUGA: Kaya Mendadak karena Tol Jogja-Solo, Puluhan Warga Ditarik dari PKH

Sementara itu, persaingan di Kalurahan Karangasem, Ponjong, melibatkan ayah dan anak. Meski demikian, keduanya harus gigit jari karena kalah dengan calon yang lain. Proses pemilihan di Karangasem harus melewati masa perpanjangan pendaftaran. Pasalnya, saat pembukaan hanya satu pendaftar, yakni Gunanto.

Di masa perpanjangan ada dua calon lain yang mendaftar, yakni Parimin dan anak Gunanto, Army Yurdayanti. Hasil pemilihan, ayah dan anak ini harus mengakui keunggulan Parimin yang memperoleh dukungan 1.083 suara. Adapun Gunanto hanya meraup 590 suara dan anaknya memperoleh 26 suara.

Carik Karangasem, Krisnawati, mengatakan persaingan antara ayah dan anak di pilihan lurah tidak berjalan mulus karena lurah terpilih merupakan calon ketiga. “Yang jadi malah Pak Parimin karena mendapatkan dukungan dari mayoritas warga,” katanya.

Mengenai tampilnya ayah dan anak di pemilihan lurah, Krisnawati menganggap bahwa langkah tersebut sebagai upaya antisipasi mundurnya calon lain sehingga tidak ada calon tunggal. Terlebih lagi, sambung dia, proses pencalonan harus melalui masa perpanjangan. “Mungkin untuk njagani [antisipasi] ada yang mundur supaya tahapan pilihan lurah tetap bisa berlanjut. Sebab, kalau calon tunggal harus ditunda,” katanya.