Advertisement

DLH Jogja: Sanitary Landfill adalah yang Paling Logis Diterapkan di TPA Alternatif

Yosef Leon
Selasa, 10 Mei 2022 - 20:47 WIB
Arief Junianto
DLH Jogja: Sanitary Landfill adalah yang Paling Logis Diterapkan di TPA Alternatif Beberapa gerobak sampah berjejer di depan depo pembuangan sampah sementara di samping Stadion Mandala Krida, Umbulharjo, Jogja, Senin (9/5/2022). - Harian Jogja/Sirojul Khafid

Advertisement

Harianjogja.com, JOGJA--Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Jogja, Sugeng Darmanto menjelaskan, Tempat Pembuangan Sampah (TPAS) alternatif yang nantinya akan dibangun oleh Pemkot Jogja bukan menjadi pilihan utama sebagai lokasi pembuangan sampah. Tempat itu hanya dijadikan lokasi transit jika sewaktu-waktu TPST Piyungan mengalami permasalahan. 

"Apabila terjadi dinamisasi di lapangan, kami bisa transitkan sampah itu dalam konteks untuk pengelolaannya, bukan dibuang langsung. Karena kami berkeinginan juga untuk mengurangi tingkat buangan sampah ke TPST Piyungan," ujarnya, Selasa (10/5/2022). 

BACA JUGA: Siapkan TPA Sampah, Pemkot Jogja Pilih Bantul sebagai Lokasinya

PROMOTED:  Resmikan IKM di Umbulharjo, Dinas Perinkopukm Jogja Berharap IKM Naik Kelas

Sugeng juga memastikan bahwa pembuangan sampah ke TPAS alternatif itu nantinya hanya menjadi pilihan terakhir. "Ini hanya penyangga sifatnya ketika ada buka dan tutup di Piyungan. Ketika kami memiliki tempat tersebut bukan untuk dijadikan pilihan pertama pembuangan," katanya. 

Menurut Sugeng, pengolahan dengan sistem sanitary landfill adalah opsi yang paling memungkinkan untuk dilakukan sambil terus melakukan edukasi kepada masyarakat soal pengurangan produksi sampah di tingkat rumah tangga. Sebab, pengolahan dengan sistem lain menurutnya muskil lantaran membutuhkan biaya yang sangat besar. 

"Misalnya yang di Cilacap dengan sistem RDF. Itu kan kerja sama dengan perusahaan besar di mana sampah menjadi bahan bakar. Itu kan termasuk proyek strategis Pusat dan harus ada perusahan besar yang masuk kalau tidak ada ya sulit, biayanya sangat besar untuk pembakaran," kata Sugeng. 

"Kemudian Surabaya dengan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa), itu memungkinkan karena biaya untuk pengolahan kerja sama dengan swasta. Untuk pembakarannya saja mencapai Rp50 miliar per tahun. Sangat besar sekali memang untuk persoalan sampah ini," sambung dia. 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Wavin Bangun Pabrik di Batang, Jokowi Pastikan Indonesia Akan Setop Impor Pipa

News
| Selasa, 04 Oktober 2022, 06:37 WIB

Advertisement

alt

Rasakan Sensasi Makan Nasgor Bercitarasa Tengkleng ala Grage Ramayana Hotel

Wisata
| Senin, 03 Oktober 2022, 07:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement