Advertisement

Awas! Musim Hujan, Potensi Menyebarnya Leptospirosis di Gunungkidul Kian Besar

David Kurniawan
Jum'at, 28 Oktober 2022 - 18:37 WIB
Arief Junianto
Awas! Musim Hujan, Potensi Menyebarnya Leptospirosis di Gunungkidul Kian Besar Ilustrasi hewan pengerat. - JIBI

Advertisement

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL - Kasus leptospirosis di Gunungkidul dalam tren peningkatan. Hingga akhir Oktober 2022 tercatat sudah ada 28 kasus, empat warga di antaranya dinyatakan meninggal dunia.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty mengimbau kepada masyarakat untuk lebih waspada terkait dengan penyebaran leptospirosis. Pasalnya, di saat musim hujan potensi terjangkit lebih besar ketimbang kemarau.

Advertisement

“Hampir mirip dengan DBD. Jadi, saat musim hujan, khususnya petani harus lebih mewaspadai ancaman leptospirosis,” kata Dewi kepada wartawan, Jumat (28/10/2022).

Penyakit leptosipriosis termasuk zoonosis. Adapun penyebaban dikarenakan air kencing tikus yang terjangkit bakteri leptospirosa.

Dia tidak menampik, kasus di 2022 lebih banyak dibandingkan dengan kejadian di tahun-tahun sebelumnya. Sejak 2018-2021, dalam setahun kisarannya paling banyak terjadi tahun lalu dengan jumlah 17 kasus dan empat orang meninggal dunia. “Sekarang sudah ada 28 kasus dengan empat korban meninggal dunia. Untuk kasus tertinggi terjadi pada 2017 dengan 64 kasus serta 16 orang meninggal dunia,” katanya.

BACA JUGA: Berminat Jadi Ketua Umum KONI Gunungkidul? Ini Dia Syaratnya

Dewi menambahkan, pencegahan terhadap penyebaran leptospirosis dapat dilakukan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Selain itu, juga ada upaya pembentukan one health satuan tugas khusus di tingkat kapanewon guna penanganan penyakit zoonosis serta menular lainnya. “Masih terus dilakukan sosialisasi untuk pembentukan di tingkat kapanewon,” katanya.

Terkait dengan penyebaran leptospirosis karena tikus, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi mengaku sudah mengingatkan para petani terkait dengan serangan hama tikus. Dia meminta ada upaya pemantauan sejak dini agar populasinya tidak mengganggu tanaman. “Potensi serangan itu ada sehingga dapat diantisipasi dengan pengawasan sejak masa tanam. Saat ada gejala serangan tikus langsung bisa dibasmi,” katanya.

Selain itu, juga ada upaya pelepasliaran burung hantu Tyto alba yang berfungsi sebagai hewan predator pemakan tikus. “Sudah kami lakukan di Kalurahan Banaran, Playen. Rencananya burung hantu yang dilepas juga akan ditambah di tahun depan,” katanya. 

Kasus leptospirosis di Gunungkidul

Tahun       Kasus        Kematian

2017          64              16

2018          16               1

2019           9                 2

2020           6                 1

2021          17               4

2022*        28                4

*) Sampai 24 Oktober 2022

Sumber: Dinas Kesehatan Gunungkidul

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

KPK Buka Opsi Penyidikan Dugaan TPPU Dana Hibah APBD Provinsi Jawa Timur

News
| Sabtu, 20 Juli 2024, 09:47 WIB

Advertisement

alt

Ini Dia Surganya Solo Traveler di Asia Tenggara

Wisata
| Kamis, 18 Juli 2024, 22:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement