Petani Bantul Andalkan Sumur Bor Saat Kemarau Mulai Datang
Petani Bantul mulai mengandalkan sumur bor untuk mengairi sawah saat musim kemarau 2026 mulai berlangsung lebih kering.
Penampakan purwarupa insinerator sampah yang dikenalkan oleh BLPT DIY pada Jumat (14/2/2025) dan nantinya akan ditempatkan di sejumlah sekolah. (Email)
Harianjogja.com, JOGJA–Pemda DIY meluncurkan purwarupa (protipe) insinerator sampah yang nantinya digunakan untuk sekolah-sekolah guna mengatasi permasalahan pengelolaan limbah. Alat yang dikerjakan oleh Balai Latihan Pendidikan Teknik (BLPT) DIY itu bekerja dengan cara membakar sampah dan hasilnya bisa digunakan untuk pupuk organik atau dijadikan paving block.
Sekda DIY, Beny Suharsono mengatakan, alat ini berfokus pada efisiensi pengolahan sampah dengan tetap memperhatikan dampak lingkungan.
“Dua hal utama yang menjadi perhatian dalam uji coba ini adalah polutan asap dan kebisingan. Kami terus melakukan riset agar emisi asap bisa dikurangi semaksimal mungkin. Tentu kami tidak bisa sepenuhnya menghilangkan polusi, tetapi setidaknya bisa diminimalkan agar lebih ramah lingkungan,” ujar Beny saat peluncuran di BLPT DIY, Jumat (14/2/2025).
Selain itu, ia juga menyoroti pentingnya pemanfaatan residu hasil pembakaran. "Hasil riset menunjukkan bahwa residu insinerator, baik yang berbentuk padat maupun cair, dapat dimanfaatkan. Sosialisasi akan terus dilakukan sebelum kami menghitung keekonomiannya secara matang," katanya.
Menurut Beny, alat ini akan diterapkan di 10 sekolah dalam satu tahun pertama. Sebelum diterapkan secara luas, Pemda DIY akan memetakan sekolah yang memiliki halaman memadai dan menghasilkan banyak sampah organik.
“Kami tidak bisa serta-merta menempatkan insinerator di lokasi yang terlalu dekat dengan pemukiman karena dikhawatirkan menimbulkan protes,” ungkap Beny.
Tim pengembang insinerator BLPT DIY, Wisnu Suryaputra menjelaskan, alat ini bekerja dengan sistem pembakaran bersuhu tinggi.
“Sampah dibakar pada suhu 800 derajat celsius, kemudian asap yang dihasilkan disemprot menggunakan spray tube berisi air. Proses ini membuat asap yang keluar menjadi lebih bersih,” jelasnya.
Insinerator ini dirancang dengan kapasitas 3,5 kilogram sampah per sesi, dengan estimasi pembakaran sekitar 218 kilogram sampah per jam.
“Kami memastikan bahwa alat ini bisa bekerja optimal dengan tekanan tinggi dan material yang tahan panas, seperti baja karbon ASTM A36 untuk dinding luar dan SCH40 untuk pipa,” kata Wisnu.
Harga prototipe insinerator saat ini sekitar Rp20 juta, tetapi masih akan mengalami penyempurnaan, terutama dalam sistem pembakaran dan pencucian asap. “Kami akan menambah sprayer horizontal agar asap yang keluar semakin bersih,” jelas Wisnu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Petani Bantul mulai mengandalkan sumur bor untuk mengairi sawah saat musim kemarau 2026 mulai berlangsung lebih kering.
Trump minta China dan Taiwan menahan diri di tengah ketegangan. AS belum pastikan kirim senjata ke Taipei dan soroti chip Taiwan.
Okupansi hotel Jogja naik hingga 70% saat long weekend. PHRI DIY ungkap tren booking mendadak dan imbau wisatawan waspada penipuan.
Serabi 2026 bantu lebih dari 1.800 UMKM perempuan memahami bisnis digital, strategi harga, dan pengembangan usaha berbasis data.
Prabowo minta TNI-Polri bersih dari praktik ilegal, tegaskan larangan backing judi, narkoba, dan penyelundupan.
Perdagangan hewan kurban Bantul naik jelang Iduladha 2026, omzet pedagang diprediksi tumbuh hingga 40 persen.