Puncak Kemarau Agustus, Warga Gunungkidul Diminta Hemat Air
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Sejumlah petugas memeriksa dan mengevakuasi sapi yang mati mendadak milik Jumiyo di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (27/6/2019)./Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kasus dugaan penyebaran antraks kembali diketemukan di Kabupaten Gunungkidul. Kali ini suspek berada di Padukuhan Sawah, Tileng, Girisubo.
Sekretaris Daerah Gunungkidul, Sri Suhartanta mengatakan, kasus dugaan antraks di Kalurahan Tileng dilaporkan pada Sabtu (15/2/2025). Tim dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan langsung melakukan penelusuran terkait dengan kasus ini.
Temuan kasus terjadi antara rentang waktu 4-10 Februari 2025. Adapun hasil penelusuran ada tiga ekor sapi dan dua ekor kambing yang diduga terjangkit antraks.
Dilaporkan dari temuan ini ada satu ekor sapi jenis limousin mati karena penyakit tersebut. “Masih terus dilakukan penelusuran. Hasil pemeriksaan, sapi yang mati juga ada proses perpindahan dari lokasi temuan kasus. Tapi, detailnya masih ditelusuri,” kata Sri Suhartanta, Senin (17/2/2025).
Dia memastikan didalam kasus ini belum diketemukan adanya potensi menular ke manusia. Hingga sekarang diidentifikasi, baru menyerang ternak milik warga di Padukuhan Sawah.
“Informasi awal ada dugaan kalau penyebaran terjadi karena lalu lintas ternak dari luar daerah,” katanya.
Mantan Kepala Badan Keuangan dan Aset Daerah ini menegaskan, upaya pencegahan terus dilakukan agar kasus tidak bertambah. Adapun di sekitar temuan kasus dilakukan prosedur penanganan sesuai dengan standar penanganan antraks.
“Detail penanganan ada di dinas perternakan dan kesehatan hewan. Yang jelas, pemkab berkomitmen untuk menanggulangi temuan kasus agar tidak semakin meluas,” kata Sekda.
BACA JUGA: Kasus Antrax Kembali Muncul di Gunungkidul, Ini Penjelasan Pakar Zoonosis UGM
Selain itu, untuk pencegahan juga akan dilakukan pembatasan lalu lintas ternak. Diharapkan dengan kebijakan ini, maka kasus dapat segera terkendalikan.
“Mudah-mudahan bisa terkendali dan tidak ada penambahan suspek hewan yang diduga terkena antraks,” katanya.
Bupati Gunungkidul, Sunaryanta meminta kepada Masyarakat agar tidak panik adanya dugaan kasus antraks di Kalurahan Tileng, Girisubo. Menurut dia, tindakan cepat langsung dilakukan untuk penanganan agar kasus bisa dikendalikan.
“Pemkab berkomitmen untuk mencegah dan menanggulangi penyakit zoonosis ini,” katanya.
Sunaryanta mengungkapkan, upaya pencegahan harus dibarengi dengan sosialisasi dan edukasi ke Masyarakat. Penyakit ini sangat berbahaya karena dapat menular ke manusia bagi yang mengkonsumsi hewan terjangkit antraks.
“Edukasi ke warga penting. Salah satunya menekankan jangan menyembelih hewan yang mati mendadak. Lebih baik dikubur untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BPBD Gunungkidul meminta warga menghemat air saat puncak kemarau Agustus 2026. Sebanyak 184 tangki air bersih telah disalurkan ke wilayah terdampak kekeringan.
Simak alasan teknis mengapa interval ganti oli mobil Eropa bisa mencapai 24.000 km, mulai dari presisi mesin hingga standar oli low-SAPS.
iOS 27 beta 5 mengungkap enam iPhone baru yang belum diumumkan Apple, termasuk iPhone Ultra yang disebut sebagai ponsel lipat pertama.
Anggota DPRD DIY, Rahayu Widi Nuryani, mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperkuat branding agar produk tidak hanya viral
Harga emas Antam, UBS, dan Galeri 24 di Pegadaian kompak turun pada Kamis 13 Agustus 2026. Simak daftar harga jual dan buyback terbaru dari 0,5 gram hingga 1.00
Polresta Jogja menegaskan bahwa seluruh layanan SIM Keliling hanya melayani perpanjangan SIM A dan SIM C yang masih berlaku.