Gunungkidul Ajukan 9 Jembatan Baru, Anggaran Rp27 Miliar
Gunungkidul ajukan pembangunan 9 jembatan senilai Rp27 miliar. Gantikan crossway rawan banjir demi kelancaran akses warga.
Sejumlah petugas memeriksa dan mengevakuasi sapi yang mati mendadak milik Jumiyo di Dusun Grogol 4, Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (27/6/2019)./Istimewa
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul mencatat ada 20 ekor ternak yang mati karena terinfeksi antraks. Temuan ini berada di Kalurahan Tileng Girisubo dan Bohol di Kapanewon Rongkop dan terjadi dalam rentang waktu Februari-Maret 2025.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Gunungkidul, Wibawanti Wulandari mengatakan, kasus temuan antraks pertama kali terjadi di Kalurahan Tileng, Girisubo di awal Februari. Didalam perkembangannya, ada temuan kasus lain di Kalurahan Bohol, Rongkop.
BACA JUGA: Suspek Antraks Ditemukan di Tileng Girisubo
“Kalau ada kaitannya tidak di dua wilayah ini, maka harus dilakukan kajian sera lebih mendalam. Tapi, kemungkinan tersebut bisa karena dari lokasi kasus pertama ada peristiwa penyembelihan bangkai sapi untuk kemudian dipindahtempatkan sejauh satu kilometer sehingga darah dari penyembelihan bisa memicu penularan yang lebih banyak,” kata Wibawanti kepada wartawan, Selasa (8/4/2025).
Sejak ditemukan kasus pertama di Kalurahan Tileng yang diikuti temuan di Kalurahan Bohol, hingga akhir Maret ada temuan ternak mati sekitar 20 ekor. Upaya pengecekan telah dilakukan dengan pengambilan sampel dan dinyatakan positif antraks.
Hasil dari penyelidikan di lokasi kejadian, penyebaran antraks tidak lepas adanya kegiatan penyembelihan bangkai ternak yang mati secara mendadak. Oleh karena itu, Wibawanti mengimbau kepada Masyarakat untuk mengubur ternak yang mati karena proses penyembelihan berpotensi menularkan penyakit ke hewan ternak lainnya hingga manusia.
“Alasannya agar tidak rugi terlalu banyak, tapi penyembelihan bangkai hewan tidak dibenarkan. Jadi, kalau mati harus langsung dikubur untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit,” katanya.
Ditambahkan dia, upaya penanggulangan antraks telah dilakukan. Di lokasi-lokasi temuan kasus sudah dilakukan sterilisasi cairan disinfektan sebanyak tiga kali.
Selain itu, juga ada upaya memberikan edukasi ke Masyarakat untuk tidak menyembelih bangkai hewan yang mati secara mendadak. “Kami juga sudah melakukan penyuntikan anti biotik hewan ternak di sekitar lokasi,” katanya.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih meminta agar kasus penyebaran antraks harus ditangani secara maksimal. Hal ini sebagai bentuk komitmen dan memberikan rasa aman bagi peternak di Bumi Handayani.
“Gerak cedpat harus dilakukan untuk penanganan sehingga jumlah kasus bisa dihentikan. Saya minta kepada peternak agar tidak khawatir karena pemkab berkomitmen dalam upaya pencegahan,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul ajukan pembangunan 9 jembatan senilai Rp27 miliar. Gantikan crossway rawan banjir demi kelancaran akses warga.
BPBD Bantul siapkan Rp20 juta untuk antisipasi El Nino. Potensi kekeringan dan kebakaran mulai dipetakan sejak dini.
Prabowo kunjungi Museum Marsinah Nganjuk, soroti sejarah buruh Indonesia dan perjuangan hak pekerja serta penghormatan pahlawan nasional.
BNNP DIY perkuat pencegahan narkoba dengan kearifan lokal dan sinergi masyarakat untuk wujudkan Yogyakarta bersih narkoba.
Kompetisi 76 Indonesian Downhill 2026 hadir lebih ekstrem di Bantul. Trek baru lebih curam, cepat, dan menantang rider elite.
Wisata Gunungkidul ramai 41.969 pengunjung saat libur panjang. PAD tembus Rp516 juta, pantai masih jadi favorit wisatawan.